Selasa, 29 November 2011
Sketsa Rindu
ku tulis sajak ini
untukmu,
mungkin daundaun berguguran
telah iba di hujani perpisahan
ranting telah keriput
dirayu hembusan angin
tersakiti matahari
yang enggan mengajaknya senggama.
begitupun sajak rinduku,
adalah aku terlalu faqir
menghafal tiapan abjad
yang tergores di bibirmu
teramat dalam luka
mengawal sentuhku
sampai tak ku ingat
lembaran desahmu
pada abjad selamat jalan.
setelah malam itu
kemana larinya suarasuara karibku
apakah menjelma ketakutan
debudebu liar di jalanan
pasrah pada derap langkah
dan mengukur nasib
yang kadang sulit.
inilah sketsa rinduku
ku kupas sehabis termangu
sembari pungut lisong
di pojok kamar
harap sulut keteguhan
lalu asap pun mengepul di udara
terlukis juga namamu.
Semarang, 02.03.2011
“REPUBLIK GORO-GORO” NYA TEATER BETA
Selalu ada yang baru di pementasan teater beta Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Proses demi proses selalu terukir apik di setiap pementasannya. Pada kamis (17/03/11) di Aula MAN Kendal gemuruh tawa penonton yang tak kunjung berhenti selama 1 jam 45 Menit membuat warna sendiri di benak siswa dan para guru yang menonton pementasan tersebut. Pasalnya sebuah naskah bertajuk humor pendidikan yang bertemakan “Republik goro-goro” dengan judul U.B.A.N (Ujian Bareng Akhir Nasional), karya Sugiarto ini terkesan cair dan menggelitik dengan aktor Petruk (Sugiarto), Gareng (Azam), semar (Ridho), Bagong (Rony), Togok (Roby) dan Mbilung (Agung). Tentunya pementasan ini tak lepas dari sang kreator khas dengan lawakan kesehariannya yaitu sang sutradara Slamet Irfan yang sering disapa Namex.
Pementasan dibuka dengan pementasan dari teater STESA MAN Kendal yang mengangkat tema pendidikan dengan judul “Bayang Jingga” naskah/sutradara Aslam yang sekaligus menjadi pengelola teater STESA. Ini memberi kesan bahwa semangat berteater SMA pun tak mau kalah dengan teater di perguruan tinggi.
Menurut lurah beta M. Rosul Khamzah, “pementasan ini memang dikhususkan kepada para siswa untuk sekedar memberi warna tersendiri dengan hiburan pementasan teater di sela-sela kesibukan belajar mereka dalam menghadapi ujian akhir nasional tahun 2011” katanya. Kemudian dengan semangat berkesenian teater beta memberanikan diri untuk membawa pementasan tersebut ke SMA-SMA di Semarang dan sekitarnya. Dan ini disambut baik oleh para jajaran guru dan siswa.
M. Munif selaku Pimpinan Produksi menambahkan “ Ini adalah Republik goro-goro nya pendidikan. Jadi selain pementasan ini bertujuan untuk memberikan kritik pendidikan kepada khalayak ramai melalui teater komedi “Satirisme komedi”, juga untuk memperkenalkan sekaligus memberi wacana tentang dunia panggung (teater) kepada para siswa SMA” tuturnya.
Selanjutnya pada (18/03/11) pementasan yang kedua akan di gelar di Auditorium kampus 1 IAIN Walisongo Semarang pada pukul 19.00 WIB. Pementasan kedua ini turut juga mngundang para Civitas akademika kampus IAIN juga semua teater kampus dan pegiat kesenian di Semarang dan sekitarnya. pementasan yang berlangsung di kampus IAIN sendiri itu kembali diserbu oleh ratusan penonton yang memang telah lama mendambakan dan menanti dengan harap pementasan tersebut. tak khayal selama kurang lebih satu setengah jam penonton dibuat perut sakit dengan celotehan-celotehan khas dari para aktor dalam penokohannya. sebut saja tokoh Bilung yang diperankan oleh Ade Agung ini, ketika ia memerankan tokoh jin dalam ceritanya ia begitu luwes dan alami memakai gestur tubuh yang menunjukkan kebodohan dalam permainan lawaknya. sehingga tokoh ini begitu membuat kesan sendiri di mata penonton malam itu.
Yang lebih menaarik lagi dari pementasan malam itu adalah diskusi sehabis pementasan. Para peserta diskusipun begitu asyik masyuk dalam hal membahas tema, wacana, dan konsep pementasan pada malam itu. Banyak pertanyaan dan saran yang menarik, salah satunya dari penikmat seni dari IKIP PGRI, IAIN dan dari UNDIP. Kalangan itu begitu serius membahas tema yang dibawakan serta memberi komentar " sebenarnya Republik Goro-Goro ini hanya memunculakan sempalan kecil dari wacana pendidikan, namun dari hal yang kecil ini memunculkan perbincangan baru di benak semua orang dan bahkan kita alami sendiri di kehidupan akademik" tutur salah satu mahasiswa IAIN Fakultas Tarbiyah malam itu. **RSSP
Rabu, 23 November 2011
Rumah Kita
ada apa dengan rumahku ini
tak berisik juga tak sunyi
mengambang pada gemercik hujan
petanda langit gelap terbaca.
rumahku di huni ribuan malaikat
setanpun terasa ribuan berkelebat
menduduki jiwa yg diingini
dan akupun
ada di rerantara
antara janji dan pasti
mengkebiri datang dan pergi
yang lainpun menyempatkan sua
bersama setan dan malaikat
meracik satu persatu abjad
kemudian mendirikan kiblat
dan mencari jamaat.
ada apa dengan pekaranganku
tak seperti biasanya
dirundung rasa ingin tahu
tak pernah belajar
namun ingin sejajar dengan para cendekiawan
tak pernah mencari
namun mencuri kalimat
mudah dilakukan.
sama juga seperti negeri ini
gemah ripah pun dikata mencuri
ketika jaya masih saja ada curiga
bahkan diam saja disangka apatis
kontroversi
solusi
demokrasi
demonstrasi
politisi
oposisi
organisasi
satusatu tereja setiap hari.
dan kita,
masih ada cinta
di rumah kita.
Semarang, 23.03. 2011
Selasa, 22 November 2011
Merinduimu
aku yang berkeluh kesah
tentangmu
tentang rapuhku meminangmu
dan galaunya hati
saat senyum itu simpul
malam ini,
akulah yang bosan
ditunggui waktu
dan mesin kerja yang menanti
sehabis pintamu
saat ku sapu air mata
di pipimu yang meragu
malam ini juga,
masih ku panggil namamu
begitukah mungkin selayaknya rindu
serta ku temani engkau
melarik penantian
di pesan masukmu
karena aku merinduimu.
SEMARANG, 23.03.11
tentangmu
tentang rapuhku meminangmu
dan galaunya hati
saat senyum itu simpul
malam ini,
akulah yang bosan
ditunggui waktu
dan mesin kerja yang menanti
sehabis pintamu
saat ku sapu air mata
di pipimu yang meragu
malam ini juga,
masih ku panggil namamu
begitukah mungkin selayaknya rindu
serta ku temani engkau
melarik penantian
di pesan masukmu
karena aku merinduimu.
SEMARANG, 23.03.11
Senin, 21 November 2011
Tentang Kegelapan
berbicaralah tentang bintang
yang berkedip untukmu
di kala malam datang
pastilah muncul kegelapan
dan ceritacerita dulu
di antara kotakota
yang pernah terjamah.
berbicaralah padaku
dengan bahasa malam gulita
bahasa kepenatan
dan anjing bulan
apa yang hendak memaki keadaan
saat jelas kesalahan dan kebenaran.
kegelapanlah yang membawa
orangorang malam
menghitung satusatu bintang
dan kendaraan yang lalu lalang
akupun tak kuasa melawan
segalanya telah menahan
bahkan tak mungkin padam
karena kegelapan,
membawa seabrek pertanyaan.
SMG.25. MARET.2011
yang berkedip untukmu
di kala malam datang
pastilah muncul kegelapan
dan ceritacerita dulu
di antara kotakota
yang pernah terjamah.
berbicaralah padaku
dengan bahasa malam gulita
bahasa kepenatan
dan anjing bulan
apa yang hendak memaki keadaan
saat jelas kesalahan dan kebenaran.
kegelapanlah yang membawa
orangorang malam
menghitung satusatu bintang
dan kendaraan yang lalu lalang
akupun tak kuasa melawan
segalanya telah menahan
bahkan tak mungkin padam
karena kegelapan,
membawa seabrek pertanyaan.
SMG.25. MARET.2011
Kamis, 17 November 2011
Malam Sebatang Kara
ini malam sebatang kara
tak ada satupun sapa dari siapa
anjing dan bulan tak nampak mesra
hanya kicau hantu merupa
lara yang semakin gelora
angin meronta di tiapan lampu kota
hendak kemana ia meraja
semua bertanya
karena malam sebatang kara
dan hujan kerdil di sana.
malam yang sama
aku melihat berlembar-lembar buku
terduduk di persinggahan
merintih di selasela malam
_yang panjang
dan sebatang kara
mengais kata-kata
dari teman yang biasa disenggama
jutaan makhluk mengkedipkan mata
ingin kais tata krama
lewati malam yang sama.
Semarang, 10 April 2011
Perkawinan Bunyi Suluk Rampak Pertiwi
MENJAMURNYA group musik baru di belantika musik nasional nampaknya dinilai miskin ide. Cenderung hanya bersifat bisnis, bahkan hanya sedikit yang mampu menciptakan karakter. Pasalnya, musikalitas maupun syair seolah lepas dari perhatian oleh pelakunya. Band-band baru pun bermunculan ibarat jamur di musim hujan, namun setibanya pergantian musim, jamur itu pun musnah entah ke mana. Banyak group band tak memperhitungkan kualitas.
Itulah sebab mengapa komunitas ini melahirkan kelompok musik kreatif bernama “Suluk Rampak Pertiwi” yang diawaki oleh Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
Pimpinan group musik Suluk Rampak Pertiwi, Dwi Royanto mengatakan bahwa karya seni hendaknya “membebaskan”, sehingga tidak hanya menjadi bentuk apresiasi namun ekspresi dari endapan perenungan. “Bagi kami, musik adalah menyederhanakan sesuatu yang berada di sekitar kita. Baik dari isi pesan maupun komposisi bunyinya,” katanya, di sela latihan, kemarin.
Royan menambah, secara komposisi, corak musik Suluk Rampak Pertiwi adalah menyuguhkan arransemen bunyi yang unik dan syair-syair yang menggelitik dengan tema sosial, politik, lingkungan, alam dan cinta. Selain itu memasukkan alat-alat musik tradisional seperti angklung, rebana, dan gamelan.
“Kami mencoba mengawinkan beberapa gabungan bunyi apapun. Kadang menggunakan barang bekas, sampah ataupun melibatkan suara sepatu penonton, suara riuhnya penonton atau apa saja. Kami berjuang keras menyetir suara-suara itu hingga terjalin paduan yang selaras. Baik dan buruk itu urusan belakangan,” katanya.
Sementara itu Lurah Teater Beta Semarang, Muhammad Rosul Hamzah mengatakan Suluk Rampak Pertiwi hanyalah sebagai wadah ide-ide para anggotanya dalam mengendapkan ide-ide liarnya. “Bukan hanya lirik lagu yang mengusung isu-isu politik nasional saja. Namun juga tentang cinta akan kerukunan hidup antar umat beragama,” tandasnya.
Seperti halnya terdendang dalam lagu berjudul “Damai di bumimu,” memotret bagaimana seharusnya hidup di tengah perbedaan agama itu asyik. Berbeda keyakinan namun mampu hidup adem-ayem, rukun, tentram dan damai. Hamzah menjelaskan, group Suluk Rampak Pertiwi ini berdiri sejak 2003 silam. “Group ini didirikan oleh Abdul Mughis Dkk, senior Teater Beta generasi tahun 2000,” tambah Lurah Teater Beta.
Hingga saat ini, sedikitnya mempunyai 22 koleksi lagu ciptaan sendiri. Mengusung genre musik kreatif. Dengan memaksimalkan perkawinan bunyi antara alat tradisional dengan alat musik modern.
Beberapa waktu lalu, kata Hamzah, group musik kreatif yang digawangi Ipang Baihaqi pada (lead guitar), Amink (keyboard), Rosul (drum), Royan (seruling), Kaka (bass), Badri, A’an, Bleki, Ana (Perkusi) dan tim paduan suara ini, sempat eksis di acara-acara kebudayaan, di antaranya pentas seni antar agama di balaikota yang diselenggarakan rutin setahun sekali, pentas partisipan, pentas produksi dan beberapa kali pentas di gedung Pemerintah Provinsi Jateng.
Rupa-rupanya, jam terbang atau job yang musiman itu tak menjadikan mereka ciut nyali untuk tetap berkarya di tengah gegap gempita kapitalisme bermusik, hingga sekarang. Atau malah justru menjadikan Group Suluk Rampak Pertiwi ini terasah dalam menciptakan identitasnya?
Dipentaskan atau Tidak, Tetap Berkarya
Berkesenian bagi warga Teater Beta tak jauh beda dengan menanam cabe atau menggali pasir. Tak ada yang lebih penting atau istimewa. Seni seolah menyatu dalam aktifitas sehari-harinya. Padahal sebagaimana diketahui mereka di bawah naungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang berbasis keagamaan.
Seperti halnya di dalam Teater Beta terlahir group musik kreatif Suluk bernama Rampak Pertiwi. Berkarya dimengerti sebagai pendidikan dasar seni yang terus dilakukan dari generasi ke generasi. "Dipentaskan atau tidak, kami terus berkarya aja. Dengan cara itulah Suluk Rampak Pertiwi melakukan pendidikan seni di Teater Beta," papar wisudawan asal Wonosobo ini.
Lebih lanjut dijelaskan Royan, komposisi pemain dalam group Suluk Rampak Pertiwi alami racikan sendiri. Pasalnya, hampir semua pemain mulai dari nol tentang pengetahuan musik. "Bahkan banyak pemain yang awalnya belum bisa main musik hingga akhirnya bisa memainkan, kemudian mengarang musik. Kita hanya berguru pada alam, lingkungan dan pengamatan," kata Royan. (***)
Langganan:
Postingan (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...






