Selasa, 07 Oktober 2025

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd.

Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zaman, model pendidikan perlu terus berkembang untuk mengikuti tuntutan zaman yang semakin dinamis. Terlebih tantangan era disrupsi saat ini menjadi sebuah kenyataan ibarat dua koin mata uang. Satu sisi banyak manfaat yang bisa diambil jika guru mampu mengaplikasikan metode belajar dengan baik, di sisi lain arus informasi digital ini justru bisa berakibat buruk bagi peserta didik.

Kenyataan yang muncul di dunia pendidikan, digitalisasi sudah semakin mengakar dengan pelbagai platform yang bisa digunakan. Baik guru maupun siswa kini seolah sangat tergantung dengan kemudahan piranti lunak yang diaplikasikan dalam model pembelajaran. Di lingkungan rumah, pemakaian gadget yang berlebihan oleh siswa juga acapkali menjadi persoalan yang tiada habis untuk dibahas. Hal ini menjadikan siswa cukup jenuh dalam mengarungi proses belajar mengajar hingga kehilangan waktu bermain mereka secara normal. Berangkat dari realitas tersebut, guru tentu harus adaptif dalam mengurai setiap persoalan yang muncul dan berdampak pada siswa. Guru memiliki kemampuan yang berani keluar dari kebiasaan yang ada, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton, sehingga akan memunculkan inovasi-inovasi besar dalam pembelajaran. Tidak melulu harus selalu serba digitalisasi, namun kemampuan guru dalam mendesain pembelajarannya harus memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Hal inilah yang dikatakan dengan pembelajaran adaptif atau biasa juga diistilahkan dengan guru yang adaptif sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman dengan terus menciptakan inovasi besar dalam pembelajaran (Suhendar, 2021 & Kharisma, 2019).

Salah satu pilihan metode yang bisa diterapkan untuk mengurai masalah kejenuhan digital di lingkungan sekolah, khususnya sekolah dasar ini adalah konsep ekpeditionary learning. Maksud Pembelajaran Ekspedisi ini adalah pendekatan pendidikan yang membawa pembelajaran di luar kelas dan membenamkan siswa dalam pengalaman dunia nyata. Pendekatan ini dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang mendalam, memotivasi siswa, dan mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran. Pendekatan EL seringkali melibatkan ekspedisi alam, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan Expeditionary Learning pertama kali dikembangkan oleh Outward Bound pada tahun 1990-an dan kemudian diadopsi oleh beberapa sekolah dan lembaga pendidikan di seluruh dunia. Program ini sering kali menarik perhatian karena kemampuannya untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti dan relevan, meningkatkan motivasi siswa, dan membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia nyata.

Penulis setidaknya menawarkan lima proyek ekspedisi di sekolah yang bisa diterapkan oleh guru maupun satuan pendidikan. Pertama, Program Pertukaran Budaya: Ciptakan proyek ekspedisi yang mendorong pertukaran budaya antara siswa di sekolah dan rekan-rekan di berbagai lokasi. Proyek ini dapat melibatkan program pertukaran pelajar, sahabat pena virtual, atau perjalanan terorganisir untuk mengunjungi sekolah di berbagai negara atau wilayah. Siswa dapat belajar tentang budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda, menumbuhkan kesadaran dan apresiasi global.

FOTO: kegiatan proyek ekspedisi di sekolah (roy)
Kedua, Ekspedisi Lingkungan: Atur ekspedisi luar ruangan ke beragam lokasi dengan keanekaragaman ekologi yang kaya. Siswa dapat menjelajahi taman nasional, hutan, atau wilayah pesisir untuk belajar tentang konservasi lingkungan, keanekaragaman hayati, dan praktik berkelanjutan. Proyek ini dapat mencakup kerja lapangan, pengumpulan data, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Ketiga, Proyek Pembelajaran Pelayanan: Melibatkan siswa dalam proyek pembelajaran pelayanan yang bermakna yang mengatasi masalah sosial di berbagai lokasi. Berkolaborasi dengan komunitas lokal atau organisasi internasional untuk mengatasi tantangan seperti kemiskinan, layanan kesehatan, atau pendidikan. Contoh siswa diajak memberikan bantuan langsung ke lokasi bencana alam, panti asuhan dan sebagainya. Melalui pengalaman langsung, siswa dapat mengembangkan empati, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab sosial.

Keempat, Dokumenter Komunitas: Mendorong siswa untuk membuat film dokumenter tentang komunitas atau situs bersejarah di lokasi yang beragam. Proyek ini dapat melibatkan penelitian, wawancara, dan videografi, yang memungkinkan siswa untuk menampilkan aspek unik dari berbagai komunitas dan warisan budaya mereka. Kelima, Proyek Seni Ekspedisi: Menggabungkan pembelajaran seni dan ekspedisi dengan menyelenggarakan proyek yang mengeksplorasi berbagai media artistik di berbagai lokasi. Siswa dapat membuat karya seni yang terinspirasi oleh lanskap, arsitektur, atau simbol budaya. Proyek ini dapat berujung pada pameran atau etalase publik yang dikolaborasikan dalam gelar karya Proyek Penguatan Pelajar Profil Pancasila (P5).

Dengan melaksanakan proyek ekspedisi ini, sekolah dapat memberikan siswa kesempatan untuk terlibat dalam pengalaman pembelajaran yang bermakna dan transformatif yang melampaui lingkungan kelas tradisional. Selain itu bertujuan untuk mengurai masalah baru kejenuhan digital yang berdampak langsung di lingkungan sekolah. (*)

Senin, 06 Oktober 2025

Pembelajaran Kolaboratif Multikultural, Cara Efektif Mencipta Moderasi Beragama Siswa Sekolah Dasar

oleh: Duwi Royanto, M.Pd.
Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan norma-norma ke generasi yang lebih muda. Tujuan pendidikan sangat luas dan dapat bervariasi tergantung pada konteks, sistem pendidikan, dan nilai-nilai sosial yang mendominasi suatu masyarakat. Di sekolah dasar tujuan ini mencakup berbagai aspek perkembangan siswa, termasuk aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik; meliputi pengembangan keterampilan akademis, pengembangan kemampuan berpikir kritis, keterampilan sosial dan emosional hingga pemahaman nilai etika.

Menghadapi arus global yang kian cepat, tantangan dunia pendidikan di semua level juga kian beragam. Salah satunya adalah tantangan pemahaman nilai etika dalam menyikapi keberagaman agama di dunia pendidikan. Ancaman pemahaman agama yang kaku dan eksklusif menjadi satu persoalan yang harus cepat dan tanggap diurai oleh satuan pendidikan. Karenanya pendidikan moderasi beragama menjadi suatu keharusan dan semakin penting dalam konteks pendidikan di berbagai tingkatan sekolah.

Moderasi beragama merupakan frasa yang terbentuk dari dua kata, yakni “moderasi” dan “beragama”. Moderasi diserap dari bahasa Latin yakni moderatio, artinya “sedang” (tidak lebih ataupun kurang). Moderasi atau moderation dalam Bahasa Inggris juga berarti “sedang”, tidak berlebihan. (Apriani & Aryani, 2022). Maka ketika term “moderasi” diikat bersama “beragama”, terbentuk istilah “moderasi beragama” yang artinya pengurangan terhadap kekerasan atau menjauhkan diri dari keekstriman ketika berpraktek beragama.

Guru sebagai pendidik memiliki peran yang penting karena berhadapan langsung dengan peserta didik. Untuk itu, sebagai guru harus memiliki sikap yang moderat, juga memiliki pengetahuan dan pemahaman implementasi moderasi beragama. Mengingat lembaga pendidikan merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang budaya yang berbeda. Lalu bagaimana metode yang tepat untuk menciptakan konsep moderasi beragama di sekolah, khususnya sekolah tingkat dasar?

Menjawab pertanyaan itu, penulis memiliki satu metode yang setidaknya mampu menjawab persoalan yang ada di sekolah. Metode tersebut adalah pembelajaran kolaboratif multikultural. Pendekatan pendidikan ini mendorong kerjasama antara siswa dari latar belakang budaya yang berbeda. Melalui kolaborasi ini, siswa dapat belajar saling menghargai dan memahami perbedaan mereka. Setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi landasan metode ini; Pertama, menciptakan moderasi beragama di antara siswa yang memiliki latar belakang berbeda. Pendekatan ini membantu mengurangi ketegangan antaragama dengan mendorong toleransi dan saling pengertian di antara siswa. Kedua, menumbuhkan sikap toleransi. Dengan merangkul keragaman budaya, siswa diharapkan dapat melihat keberagaman sebagai kekayaan dan menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan. Ketiga, membangun keterampilan kolaborasi di mana pembelajaran kolaboratif juga melatih siswa untuk bekerja sama lintas budaya, membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam dan sinergi.

Adapun guru bisa memilih untuk menerapkan strategi pembelajaran kolaboratif multikultural dengan langkah-langkah berikut: 1) pembelajaran berbasis pengalaman; guru bisa menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau pengalaman yang melibatkan siswa dalam aktivitas praktis yang mewakili keberagaman agama. Lalu Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merasakan dan meresapi nilai-nilai beragam melalui kegiatan nyata. 2) Kurikulum inklusif; sebagai contoh guru Pendidikan Agama Islam bisa mengembangkan kurikulum PAI yang mencakup pemahaman mendalam terhadap agama-agama lain dan nilai-nilai yang dapat disatukan dengan ajaran Islam serta menyertakan materi ajar yang merangsang pertanyaan, refleksi, dan diskusi terbuka. 3) Pendekatan dialogis. Guru bisa mendorong dialog terbuka di kelas, di mana siswa dapat berbagi pandangan dan pengalaman mereka tentang agama dengan prinsip saling menghargai pendapat orang lain. Dan 4) Kolaborasi antar kelas. Guru mendorong kolaborasi antar kelas maupun antar sekolah untuk memfasilitasi pertukaran budaya dan pemahaman agama. (*)

Gamma.ap, Asisten Pintar Guru “Sulap” Materi Ajar dalam Sekejap

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd.
Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran. Menurut (Puentedura, 2014), Teknologi memungkinkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan kreatif. Namun, kenyataannya proses pembelajaran yang terjadi di lapangan masih banyak guru lebih cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional dan kurangnya penggunaan media pembelajaran dalam proses pengajaran.

Mahmud & Idham (2017), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, bukan hanya melibatkan siswa dan sumber materi, tetapi guru juga harus melibatkan strategi, media, metode, serta komponen lainnya yang dapat mendukung pembelajaran. Oleh karena itu, guru berperan untuk menggunakan metode yang dapat menjangkau keseluruhan siswa untuk aktif dan memahami pembelajaran di dalam kelas. Terkait dengan teknologi pendidikan, aplikasi mobile menjadi salah satu alat yang penting dalam membantu guru dalam memfasilitasi proses pengajaran mereka. Pengajaran adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan yang memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik. Dalam era digital, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian integral dari proses pengajaran. Aplikasi mobile menjadi sarana yang efektif dalam membantu guru dalam menjalankan tugas mereka. Salah satu aplikasi yang telah memperoleh popularitas adalah Gamma.app, yang menawarkan berbagai fitur yang bermanfaat bagi guru dalam proses pengajaran mereka.

Aplikasi Gamma.app adalah alat pembuatan presentasi yang memungkinkan guru atau siswa untuk membuat slide yang lebih interaktif dan menarik. Fitur-fitur seperti animasi, kolaborasi online, dan memungkinkan siswa untuk menciptakan presentasi yang lebih dinamis (Gamma.app, 2021).
Dalam pembelajaran, aplikasi ini mampu menjadi asisten cerdas dan cepat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan sistem kolaborasi dengan model pembelajaran yang sudah biasa dilakukan. Salah satunya adalah model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Di mana model ini merupakan pendekatan yang berfokus pada kreatifitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi antara siswa dengan kawan sebaya mereka untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru. (Asan, 2005).

Dalam konteks ini, aplikasi Gamma.app menawarkan beragam manfaat yang dapat meningkatkan pengalaman pembelajaran siswa melalui pembuatan konten yang menarik dan berdaya ungkap tinggi. Beberapa manfaat yang bisa dielaborasi dari alat pintar ini antara lain: 1. Visualisasi Konsep Pembelajaran: Gamma.app memungkinkan guru untuk menciptakan presentasi, dokumen, dan halaman web yang visual dan menarik. Dengan fitur-fitur seperti grafik, gambar, dan video, konsep-konsep pembelajaran dapat divisualisasikan dengan lebih jelas, membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam.

2. Interaktivitas yang Meningkat: Dengan adanya fitur interaktif, seperti kartu bertingkat dan elemen-elemen multimedia, alat ini memungkinkan guru untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif. Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memicu minat mereka terhadap topik pembelajaran. 3. Pembuatan Materi Pembelajaran yang Mudah: Aplikasi ini menyediakan alat-alat yang memudahkan guru untuk membuat materi pembelajaran yang berkualitas tinggi tanpa harus memiliki keahlian desain yang tinggi. Dengan adanya template dan opsi pengeditan tanpa kode, membuat materi pembelajaran yang menarik dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. 4. Personalisasi Pembelajaran: penggunaan Gamma.app memungkinkan guru untuk membuat konten pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa. Dengan kemampuan untuk menyesuaikan presentasi dan dokumen, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih personal dan relevan bagi setiap siswa.

5. Kolaborasi yang Ditingkatkan: Melalui fitur kolaboratifnya, Gamma.app memungkinkan siswa untuk bekerja sama dalam proyek-proyek pembelajaran dan presentasi secara online. Hal ini memfasilitasi kolaborasi antar siswa dan meningkatkan keterampilan sosial mereka. 6. Pengukuran Kinerja dan Keterlibatan: Dengan adanya fitur analitik bawaan, Gamma.app membantu guru dalam memantau tingkat keterlibatan siswa terhadap materi pembelajaran. Selain itu, fitur umpan balik dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman siswa secara lebih efektif.

Aplikasi Gamma.app memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan pengalaman pembelajaran melalui visualisasi konsep pembelajaran, interaktivitas, kemudahan pembuatan materi pembelajaran, personalisasi pembelajaran, kolaborasi, dan pengukuran kinerja siswa. Maka dengan pemanfaatan aplikasi ini, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan relevan bagi siswa. (*)

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...