Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zaman, model pendidikan perlu terus berkembang untuk mengikuti tuntutan zaman yang semakin dinamis. Terlebih tantangan era disrupsi saat ini menjadi sebuah kenyataan ibarat dua koin mata uang. Satu sisi banyak manfaat yang bisa diambil jika guru mampu mengaplikasikan metode belajar dengan baik, di sisi lain arus informasi digital ini justru bisa berakibat buruk bagi peserta didik.
Kenyataan yang muncul di dunia pendidikan, digitalisasi sudah semakin mengakar dengan pelbagai platform yang bisa digunakan. Baik guru maupun siswa kini seolah sangat tergantung dengan kemudahan piranti lunak yang diaplikasikan dalam model pembelajaran. Di lingkungan rumah, pemakaian gadget yang berlebihan oleh siswa juga acapkali menjadi persoalan yang tiada habis untuk dibahas. Hal ini menjadikan siswa cukup jenuh dalam mengarungi proses belajar mengajar hingga kehilangan waktu bermain mereka secara normal. Berangkat dari realitas tersebut, guru tentu harus adaptif dalam mengurai setiap persoalan yang muncul dan berdampak pada siswa. Guru memiliki kemampuan yang berani keluar dari kebiasaan yang ada, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton, sehingga akan memunculkan inovasi-inovasi besar dalam pembelajaran. Tidak melulu harus selalu serba digitalisasi, namun kemampuan guru dalam mendesain pembelajarannya harus memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Hal inilah yang dikatakan dengan pembelajaran adaptif atau biasa juga diistilahkan dengan guru yang adaptif sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman dengan terus menciptakan inovasi besar dalam pembelajaran (Suhendar, 2021 & Kharisma, 2019).
Salah satu pilihan metode yang bisa diterapkan untuk mengurai masalah kejenuhan digital di lingkungan sekolah, khususnya sekolah dasar ini adalah konsep ekpeditionary learning. Maksud Pembelajaran Ekspedisi ini adalah pendekatan pendidikan yang membawa pembelajaran di luar kelas dan membenamkan siswa dalam pengalaman dunia nyata. Pendekatan ini dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang mendalam, memotivasi siswa, dan mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran. Pendekatan EL seringkali melibatkan ekspedisi alam, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan Expeditionary Learning pertama kali dikembangkan oleh Outward Bound pada tahun 1990-an dan kemudian diadopsi oleh beberapa sekolah dan lembaga pendidikan di seluruh dunia. Program ini sering kali menarik perhatian karena kemampuannya untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti dan relevan, meningkatkan motivasi siswa, dan membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia nyata.
Penulis setidaknya menawarkan lima proyek ekspedisi di sekolah yang bisa diterapkan oleh guru maupun satuan pendidikan. Pertama, Program Pertukaran Budaya: Ciptakan proyek ekspedisi yang mendorong pertukaran budaya antara siswa di sekolah dan rekan-rekan di berbagai lokasi. Proyek ini dapat melibatkan program pertukaran pelajar, sahabat pena virtual, atau perjalanan terorganisir untuk mengunjungi sekolah di berbagai negara atau wilayah. Siswa dapat belajar tentang budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda, menumbuhkan kesadaran dan apresiasi global.
FOTO: kegiatan proyek ekspedisi di sekolah (roy)Kedua, Ekspedisi Lingkungan: Atur ekspedisi luar ruangan ke beragam lokasi dengan keanekaragaman ekologi yang kaya. Siswa dapat menjelajahi taman nasional, hutan, atau wilayah pesisir untuk belajar tentang konservasi lingkungan, keanekaragaman hayati, dan praktik berkelanjutan. Proyek ini dapat mencakup kerja lapangan, pengumpulan data, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Ketiga, Proyek Pembelajaran Pelayanan: Melibatkan siswa dalam proyek pembelajaran pelayanan yang bermakna yang mengatasi masalah sosial di berbagai lokasi. Berkolaborasi dengan komunitas lokal atau organisasi internasional untuk mengatasi tantangan seperti kemiskinan, layanan kesehatan, atau pendidikan. Contoh siswa diajak memberikan bantuan langsung ke lokasi bencana alam, panti asuhan dan sebagainya. Melalui pengalaman langsung, siswa dapat mengembangkan empati, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab sosial.
Keempat, Dokumenter Komunitas: Mendorong siswa untuk membuat film dokumenter tentang komunitas atau situs bersejarah di lokasi yang beragam. Proyek ini dapat melibatkan penelitian, wawancara, dan videografi, yang memungkinkan siswa untuk menampilkan aspek unik dari berbagai komunitas dan warisan budaya mereka. Kelima, Proyek Seni Ekspedisi: Menggabungkan pembelajaran seni dan ekspedisi dengan menyelenggarakan proyek yang mengeksplorasi berbagai media artistik di berbagai lokasi. Siswa dapat membuat karya seni yang terinspirasi oleh lanskap, arsitektur, atau simbol budaya. Proyek ini dapat berujung pada pameran atau etalase publik yang dikolaborasikan dalam gelar karya Proyek Penguatan Pelajar Profil Pancasila (P5).
Dengan melaksanakan proyek ekspedisi ini, sekolah dapat memberikan siswa kesempatan untuk terlibat dalam pengalaman pembelajaran yang bermakna dan transformatif yang melampaui lingkungan kelas tradisional. Selain itu bertujuan untuk mengurai masalah baru kejenuhan digital yang berdampak langsung di lingkungan sekolah. (*)



