Selasa, 07 Oktober 2025

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd.

Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zaman, model pendidikan perlu terus berkembang untuk mengikuti tuntutan zaman yang semakin dinamis. Terlebih tantangan era disrupsi saat ini menjadi sebuah kenyataan ibarat dua koin mata uang. Satu sisi banyak manfaat yang bisa diambil jika guru mampu mengaplikasikan metode belajar dengan baik, di sisi lain arus informasi digital ini justru bisa berakibat buruk bagi peserta didik.

Kenyataan yang muncul di dunia pendidikan, digitalisasi sudah semakin mengakar dengan pelbagai platform yang bisa digunakan. Baik guru maupun siswa kini seolah sangat tergantung dengan kemudahan piranti lunak yang diaplikasikan dalam model pembelajaran. Di lingkungan rumah, pemakaian gadget yang berlebihan oleh siswa juga acapkali menjadi persoalan yang tiada habis untuk dibahas. Hal ini menjadikan siswa cukup jenuh dalam mengarungi proses belajar mengajar hingga kehilangan waktu bermain mereka secara normal. Berangkat dari realitas tersebut, guru tentu harus adaptif dalam mengurai setiap persoalan yang muncul dan berdampak pada siswa. Guru memiliki kemampuan yang berani keluar dari kebiasaan yang ada, berani out of the box, berani tidak rutinitas, berani tidak monoton, sehingga akan memunculkan inovasi-inovasi besar dalam pembelajaran. Tidak melulu harus selalu serba digitalisasi, namun kemampuan guru dalam mendesain pembelajarannya harus memenuhi kebutuhan riil di lapangan. Hal inilah yang dikatakan dengan pembelajaran adaptif atau biasa juga diistilahkan dengan guru yang adaptif sesuai dengan perkembangan dan dinamika zaman dengan terus menciptakan inovasi besar dalam pembelajaran (Suhendar, 2021 & Kharisma, 2019).

Salah satu pilihan metode yang bisa diterapkan untuk mengurai masalah kejenuhan digital di lingkungan sekolah, khususnya sekolah dasar ini adalah konsep ekpeditionary learning. Maksud Pembelajaran Ekspedisi ini adalah pendekatan pendidikan yang membawa pembelajaran di luar kelas dan membenamkan siswa dalam pengalaman dunia nyata. Pendekatan ini dikembangkan untuk memberikan pengalaman belajar yang mendalam, memotivasi siswa, dan mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran. Pendekatan EL seringkali melibatkan ekspedisi alam, proyek kolaboratif, dan pembelajaran berbasis proyek. Pendekatan Expeditionary Learning pertama kali dikembangkan oleh Outward Bound pada tahun 1990-an dan kemudian diadopsi oleh beberapa sekolah dan lembaga pendidikan di seluruh dunia. Program ini sering kali menarik perhatian karena kemampuannya untuk memberikan pengalaman belajar yang berarti dan relevan, meningkatkan motivasi siswa, dan membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di dunia nyata.

Penulis setidaknya menawarkan lima proyek ekspedisi di sekolah yang bisa diterapkan oleh guru maupun satuan pendidikan. Pertama, Program Pertukaran Budaya: Ciptakan proyek ekspedisi yang mendorong pertukaran budaya antara siswa di sekolah dan rekan-rekan di berbagai lokasi. Proyek ini dapat melibatkan program pertukaran pelajar, sahabat pena virtual, atau perjalanan terorganisir untuk mengunjungi sekolah di berbagai negara atau wilayah. Siswa dapat belajar tentang budaya, tradisi, dan bahasa yang berbeda, menumbuhkan kesadaran dan apresiasi global.

FOTO: kegiatan proyek ekspedisi di sekolah (roy)
Kedua, Ekspedisi Lingkungan: Atur ekspedisi luar ruangan ke beragam lokasi dengan keanekaragaman ekologi yang kaya. Siswa dapat menjelajahi taman nasional, hutan, atau wilayah pesisir untuk belajar tentang konservasi lingkungan, keanekaragaman hayati, dan praktik berkelanjutan. Proyek ini dapat mencakup kerja lapangan, pengumpulan data, dan keterlibatan langsung dalam kegiatan pengelolaan lingkungan. Ketiga, Proyek Pembelajaran Pelayanan: Melibatkan siswa dalam proyek pembelajaran pelayanan yang bermakna yang mengatasi masalah sosial di berbagai lokasi. Berkolaborasi dengan komunitas lokal atau organisasi internasional untuk mengatasi tantangan seperti kemiskinan, layanan kesehatan, atau pendidikan. Contoh siswa diajak memberikan bantuan langsung ke lokasi bencana alam, panti asuhan dan sebagainya. Melalui pengalaman langsung, siswa dapat mengembangkan empati, kasih sayang, dan rasa tanggung jawab sosial.

Keempat, Dokumenter Komunitas: Mendorong siswa untuk membuat film dokumenter tentang komunitas atau situs bersejarah di lokasi yang beragam. Proyek ini dapat melibatkan penelitian, wawancara, dan videografi, yang memungkinkan siswa untuk menampilkan aspek unik dari berbagai komunitas dan warisan budaya mereka. Kelima, Proyek Seni Ekspedisi: Menggabungkan pembelajaran seni dan ekspedisi dengan menyelenggarakan proyek yang mengeksplorasi berbagai media artistik di berbagai lokasi. Siswa dapat membuat karya seni yang terinspirasi oleh lanskap, arsitektur, atau simbol budaya. Proyek ini dapat berujung pada pameran atau etalase publik yang dikolaborasikan dalam gelar karya Proyek Penguatan Pelajar Profil Pancasila (P5).

Dengan melaksanakan proyek ekspedisi ini, sekolah dapat memberikan siswa kesempatan untuk terlibat dalam pengalaman pembelajaran yang bermakna dan transformatif yang melampaui lingkungan kelas tradisional. Selain itu bertujuan untuk mengurai masalah baru kejenuhan digital yang berdampak langsung di lingkungan sekolah. (*)

Senin, 06 Oktober 2025

Pembelajaran Kolaboratif Multikultural, Cara Efektif Mencipta Moderasi Beragama Siswa Sekolah Dasar

oleh: Duwi Royanto, M.Pd.
Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan norma-norma ke generasi yang lebih muda. Tujuan pendidikan sangat luas dan dapat bervariasi tergantung pada konteks, sistem pendidikan, dan nilai-nilai sosial yang mendominasi suatu masyarakat. Di sekolah dasar tujuan ini mencakup berbagai aspek perkembangan siswa, termasuk aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik; meliputi pengembangan keterampilan akademis, pengembangan kemampuan berpikir kritis, keterampilan sosial dan emosional hingga pemahaman nilai etika.

Menghadapi arus global yang kian cepat, tantangan dunia pendidikan di semua level juga kian beragam. Salah satunya adalah tantangan pemahaman nilai etika dalam menyikapi keberagaman agama di dunia pendidikan. Ancaman pemahaman agama yang kaku dan eksklusif menjadi satu persoalan yang harus cepat dan tanggap diurai oleh satuan pendidikan. Karenanya pendidikan moderasi beragama menjadi suatu keharusan dan semakin penting dalam konteks pendidikan di berbagai tingkatan sekolah.

Moderasi beragama merupakan frasa yang terbentuk dari dua kata, yakni “moderasi” dan “beragama”. Moderasi diserap dari bahasa Latin yakni moderatio, artinya “sedang” (tidak lebih ataupun kurang). Moderasi atau moderation dalam Bahasa Inggris juga berarti “sedang”, tidak berlebihan. (Apriani & Aryani, 2022). Maka ketika term “moderasi” diikat bersama “beragama”, terbentuk istilah “moderasi beragama” yang artinya pengurangan terhadap kekerasan atau menjauhkan diri dari keekstriman ketika berpraktek beragama.

Guru sebagai pendidik memiliki peran yang penting karena berhadapan langsung dengan peserta didik. Untuk itu, sebagai guru harus memiliki sikap yang moderat, juga memiliki pengetahuan dan pemahaman implementasi moderasi beragama. Mengingat lembaga pendidikan merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang budaya yang berbeda. Lalu bagaimana metode yang tepat untuk menciptakan konsep moderasi beragama di sekolah, khususnya sekolah tingkat dasar?

Menjawab pertanyaan itu, penulis memiliki satu metode yang setidaknya mampu menjawab persoalan yang ada di sekolah. Metode tersebut adalah pembelajaran kolaboratif multikultural. Pendekatan pendidikan ini mendorong kerjasama antara siswa dari latar belakang budaya yang berbeda. Melalui kolaborasi ini, siswa dapat belajar saling menghargai dan memahami perbedaan mereka. Setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi landasan metode ini; Pertama, menciptakan moderasi beragama di antara siswa yang memiliki latar belakang berbeda. Pendekatan ini membantu mengurangi ketegangan antaragama dengan mendorong toleransi dan saling pengertian di antara siswa. Kedua, menumbuhkan sikap toleransi. Dengan merangkul keragaman budaya, siswa diharapkan dapat melihat keberagaman sebagai kekayaan dan menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan. Ketiga, membangun keterampilan kolaborasi di mana pembelajaran kolaboratif juga melatih siswa untuk bekerja sama lintas budaya, membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam dan sinergi.

Adapun guru bisa memilih untuk menerapkan strategi pembelajaran kolaboratif multikultural dengan langkah-langkah berikut: 1) pembelajaran berbasis pengalaman; guru bisa menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau pengalaman yang melibatkan siswa dalam aktivitas praktis yang mewakili keberagaman agama. Lalu Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merasakan dan meresapi nilai-nilai beragam melalui kegiatan nyata. 2) Kurikulum inklusif; sebagai contoh guru Pendidikan Agama Islam bisa mengembangkan kurikulum PAI yang mencakup pemahaman mendalam terhadap agama-agama lain dan nilai-nilai yang dapat disatukan dengan ajaran Islam serta menyertakan materi ajar yang merangsang pertanyaan, refleksi, dan diskusi terbuka. 3) Pendekatan dialogis. Guru bisa mendorong dialog terbuka di kelas, di mana siswa dapat berbagi pandangan dan pengalaman mereka tentang agama dengan prinsip saling menghargai pendapat orang lain. Dan 4) Kolaborasi antar kelas. Guru mendorong kolaborasi antar kelas maupun antar sekolah untuk memfasilitasi pertukaran budaya dan pemahaman agama. (*)

Gamma.ap, Asisten Pintar Guru “Sulap” Materi Ajar dalam Sekejap

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd.
Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran. Menurut (Puentedura, 2014), Teknologi memungkinkan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan kreatif. Namun, kenyataannya proses pembelajaran yang terjadi di lapangan masih banyak guru lebih cenderung menggunakan model pembelajaran konvensional dan kurangnya penggunaan media pembelajaran dalam proses pengajaran.

Mahmud & Idham (2017), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, bukan hanya melibatkan siswa dan sumber materi, tetapi guru juga harus melibatkan strategi, media, metode, serta komponen lainnya yang dapat mendukung pembelajaran. Oleh karena itu, guru berperan untuk menggunakan metode yang dapat menjangkau keseluruhan siswa untuk aktif dan memahami pembelajaran di dalam kelas. Terkait dengan teknologi pendidikan, aplikasi mobile menjadi salah satu alat yang penting dalam membantu guru dalam memfasilitasi proses pengajaran mereka. Pengajaran adalah salah satu aspek penting dalam pendidikan yang memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik. Dalam era digital, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian integral dari proses pengajaran. Aplikasi mobile menjadi sarana yang efektif dalam membantu guru dalam menjalankan tugas mereka. Salah satu aplikasi yang telah memperoleh popularitas adalah Gamma.app, yang menawarkan berbagai fitur yang bermanfaat bagi guru dalam proses pengajaran mereka.

Aplikasi Gamma.app adalah alat pembuatan presentasi yang memungkinkan guru atau siswa untuk membuat slide yang lebih interaktif dan menarik. Fitur-fitur seperti animasi, kolaborasi online, dan memungkinkan siswa untuk menciptakan presentasi yang lebih dinamis (Gamma.app, 2021).
Dalam pembelajaran, aplikasi ini mampu menjadi asisten cerdas dan cepat guru dalam mengaplikasikan pembelajaran dengan sistem kolaborasi dengan model pembelajaran yang sudah biasa dilakukan. Salah satunya adalah model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Di mana model ini merupakan pendekatan yang berfokus pada kreatifitas berfikir, pemecahan masalah, dan interaksi antara siswa dengan kawan sebaya mereka untuk menciptakan dan menggunakan pengetahuan baru. (Asan, 2005).

Dalam konteks ini, aplikasi Gamma.app menawarkan beragam manfaat yang dapat meningkatkan pengalaman pembelajaran siswa melalui pembuatan konten yang menarik dan berdaya ungkap tinggi. Beberapa manfaat yang bisa dielaborasi dari alat pintar ini antara lain: 1. Visualisasi Konsep Pembelajaran: Gamma.app memungkinkan guru untuk menciptakan presentasi, dokumen, dan halaman web yang visual dan menarik. Dengan fitur-fitur seperti grafik, gambar, dan video, konsep-konsep pembelajaran dapat divisualisasikan dengan lebih jelas, membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam.

2. Interaktivitas yang Meningkat: Dengan adanya fitur interaktif, seperti kartu bertingkat dan elemen-elemen multimedia, alat ini memungkinkan guru untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif. Hal ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memicu minat mereka terhadap topik pembelajaran. 3. Pembuatan Materi Pembelajaran yang Mudah: Aplikasi ini menyediakan alat-alat yang memudahkan guru untuk membuat materi pembelajaran yang berkualitas tinggi tanpa harus memiliki keahlian desain yang tinggi. Dengan adanya template dan opsi pengeditan tanpa kode, membuat materi pembelajaran yang menarik dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. 4. Personalisasi Pembelajaran: penggunaan Gamma.app memungkinkan guru untuk membuat konten pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar siswa. Dengan kemampuan untuk menyesuaikan presentasi dan dokumen, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih personal dan relevan bagi setiap siswa.

5. Kolaborasi yang Ditingkatkan: Melalui fitur kolaboratifnya, Gamma.app memungkinkan siswa untuk bekerja sama dalam proyek-proyek pembelajaran dan presentasi secara online. Hal ini memfasilitasi kolaborasi antar siswa dan meningkatkan keterampilan sosial mereka. 6. Pengukuran Kinerja dan Keterlibatan: Dengan adanya fitur analitik bawaan, Gamma.app membantu guru dalam memantau tingkat keterlibatan siswa terhadap materi pembelajaran. Selain itu, fitur umpan balik dapat digunakan untuk mengevaluasi pemahaman siswa secara lebih efektif.

Aplikasi Gamma.app memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan pengalaman pembelajaran melalui visualisasi konsep pembelajaran, interaktivitas, kemudahan pembuatan materi pembelajaran, personalisasi pembelajaran, kolaborasi, dan pengukuran kinerja siswa. Maka dengan pemanfaatan aplikasi ini, pendidik dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan relevan bagi siswa. (*)

Sabtu, 09 Agustus 2014

ISIS Masuk Solo, Ganjar: Tak Bisa Dibiarkan



Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengecam keras masuknya
kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di wilayahnya yakni Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Menurut Ganjar, gerakan yang saat ini ramai dibicarakan publik di tanah air itu
tidak bisa tidak bisa ditolerir keberadaannya, karena akan mengancam persatuan dan kesatuan Indonesia.

"Saat ini ISIS masuk di Indonesia, Jateng sudah masuk, di Solo (Surakarta) juga sudah ada tembok-tembok yang ditulisi, itu bukan persoalan yang bisa dibiarkan karena bersifat serius," tandas Ganjar di Semarang, Senin 4 Agustus 2014.

Untuk menangkis merambahnya kelompok militan itu di wilayah Jawa Tengah, pihaknya sudah meminta jajaran Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Jateng untuk mencermati permasalahan terkait ISIS di Indonesia, khususnya di Solo.

Kajian itu, kata dia, adalah dengan menggunakan metode 'Early warning system', yakni sebuah pendekatan keagamaan serta sosio kultur dan budaya. Sehingga masyarakat akan dibentengi dengan kearifan budaya lokal setempat.

"Ini perlu didorong untuk meneguhkan Jateng sebagai benteng Pancasila," timpalnya.

Politisi PDI Perjuangan itu mengimbau perlunya komunikasi aktif untuk mengetahui apa dasar yang digunakan sehingga warga Indonesia masuk jaringan militan itu.

"Mereka kita ajak berdialog, apakah mereka emosional atau karena ideologi, jika ideologi maka harus segera diselesaikan, tapi kalau emosional harus dikembalikan ke track dengan didekati secara kultural atau spiritual," beber dia.

Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro, Mayor Jendral Sunindyo menyatakan, kelompok militan ISIS disinyalir akan menggerus keutuhan NKRI. Oleh karenanya TNI akan melakukan manuver pertahanan dengan bekerjasama dengan pimpinan daerah di Jateng dan DIY.

"TNI akan mengerahkan Bintara Pembina Desa (Babinsa) untuk semakin menumbuhkan kebanggaan NKRI melalui jalur pendidikan," tandas dia.

Sunindyo menuturkan bahwa sektor masyarakat paling rawan menerima bujukan untuk bergabung dengan ekstrimis berada pada tataran masyarakat berkeyakinan dan berpendidikan rendah. Utamanya masyarakat buta aksara.

"Pada bulan Agustus, target kami usaha pemberantasan buta aksara diseluruh wilayah Jawa Tengah dan DIY, " pungkas dia.

Laporan, Ryan Dwi (Semarang)

10 Tahun Lagi Indonesia Bisa Miliki Kereta Cepat


Moda transportasi kereta api kini menjadi transportasi fovorit masyarakat Indonesia, khususnya pada moment mudik lebaran. Akan tetapi mungkinkah ke depan Indonesia akan memiliki fasilitas kereta cepat sebagaimana dimiliki negara-negara maju, seperti Jepang dan Perancis.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI), Ignasius Jonan dalam pantauannya di Stasiun Tawang, Semarang, Senin 4 Agustus 2014 sedikit memberikan angin segar akan harapan itu. Menurut Jonan, Indonesia sangat mungkin memiliki kereta cepat seperti negara maju lain. Akan tetapi butuh waktu 10 tahun untuk meraih impian tersebut.

"Kalau pertanyaannya mungkinkah, maka jawabnya ya mungkin (Indonesia miliki kereta cepat). Namun, kita perlu berbenah mulai sekarang, " kata Jonan.

Akan tetapi kemungkinan kereta cepat itu bukanlah tanpa syarat. Kata dia, pembenahan harus dimulai dari perubahan paradigma bahwa moda transportasi bisa dibangun oleh pihak swasta. Karena saat ini pembangunan moda transportasi kereta api hanya dipegang oleh pemerintah melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

"Kereta cepat bisa saja disiapkan sekarang dan 10 tahun kita bisa punya. Tapi syaratnya harus bisa dibangun oleh pihak swasta, " beber dia.

Dikatakannya, dana APBN lebih baik digunakan untuk membangun KA lintas kepulauan. Seperti halnya KA Trans Sumatera, Trans Kalimantan, Trans Sulawesi, Trans Papua, atau setidaknya di pulau-pulau terbesar. "Baru setelah itu, pemerintah bisa bangun kereta cepat,” timpalnya.

Saat ini, kata dia, pemerintah pusat baru memfokuskan alokasi dana APBN untuk pulau Jawa saja. Sedangkan KA trans kepulauan sangat dibutuhkan untuk menopang kebutuhan nasional. Oleh karenanya ide KA trans kepulauan menjadi penting untuk kepentingan masyarakat Indonesia seluruhnya.

“APBN kita kan jiwanya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia juga Undang-Undang. Jadi, jangan hanya dibangun di Jawa saja,” paparnya.

Dalam upaya perbaikan layanan kereta api, PT KAI dari tahun ke tahun terus melakukan pembenahan dan pembangunan. Salah satunya dengan pemugaran gerbong yang usianya tua.

"Bertahap kita lakukan penggantian gerbong, karena batas penggantian gerbong adalah maksimal 7 tahun, " kata dia.

Sementara itu, Pengamat Transortasi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno mengatakan perbaikan segenap infrastruktur transportasi bisa terwujud asalkan kepala daerah memiliki komitmen membangun transportasi perkotaan.

Saat ini, ketidakberhasilan mengatur transportasi perkotan lantaran tidak adanya kemauan untuk menyelesaikan persoalan.

“Kepala daerah sebenarnya mampu menentukan arah transportasi perkotaan. Memang banyak kendala dan berbeda antara satu kota dengan kota lain, hanya tergantung kemauan, "pungkasnya.

Laporan, Ryan Dwi (Semarang)

Waspada Bait ISIS, Polisi Perketat Lapas Kedungpane



Sejumlah polisi berseragam lengkap memperketat penjagaan di lapas
Kedungpane, Semarang. Penjagaan ketat tersebut lantaran datangnya 36 tamu dari Solo yang hendak menjenguk para narapidana terorisme di lapas kelas IA tersebut.

Terlebih berkembangnya sejumlah informasi mengenai adanya deklarasi dukungan dan sumpah setia terhadap kekhalifahan ISIS yang terjadi di lapas Nusakambangan, Cilacap. Di mana sudah ada 23 orang narapidana terorisme di Lapas Nusakambangan yang telah dibaiat menjadi anggota ISIS.

Sebanyak dua pleton petugas. Terdiri atas satu pleton petugas Mapolrestabes Semarang, dan satu pleton lagi dari Mapolsek Ngaliyan pun ikut diterjunkan dalam acara kunjungan tersebut. Suasana lapas menjadi sedikit panik akan kedatangan puluhan tamu. Mereka khawatir lantaran para napi terorisme akan turut dibaiat mendukung pro IS (Islamic State).

"Kami minta polisi sebagai bentuk pencegahan. Kami minta bantu dari Polrestabes Semarang dan Polsek Ngaliyan untuk menjaga pengamanan,"
ungkap Kepala Pengamanan Lapas Kedungpane, Maliki, Selasa 5 Agustus 2014.

Kata Maliki, ada sebanyak 19 narapidana terorisme yang dibina di lapas terbesar di Kota Semarang itu. Mereka ditahan setelah terbukti melakukan tindak terorisme di berbagai wilayah di Indonesia. Menurutnya, penjagaan ketat tersebut sebagai langkah antisipasi agar warga binaannya tidak terjangkit gerakan ISIS yang masih ramai dibicarakan publik di tanah air.

"Ini sebagai tahap antisipasi agar potensi baiat ISIS tidak terjadi. Kita coba antisipasi, sebelum hal buruk terjadi," imbuh Maliki.

Seorang pengunjung Lapas Kedungpane, Iwan kepada VIVAnews mengaku sangat kaget akan penjagaan ketat aparat kepolisian pada hari tersebut. Ia bahkan tidak mengetahui alasan kenapa di dalam lapas dijaga ketat tidak seperti hari-hari biasa.

"Di dalam banyak polisi. Saya belum tahu pasti, tapi saya dengar ada tamu dari Solo yang akan mengunjungi napi terorisme," ujarnya singkat sembari meninggalkan lapas.

Laporan, Ryan Dwi (Semarang)

Tolak ISIS, MUI Bakal Kumpulkan 35.000 Pengurus Masjid



Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah bakal mengumpulkan sebanyak 35.000 pengurus masjid se-Jawa Tengah guna mengkonsolidasikan penolakan terhadap jaringan ISIS yang disinyalir telah masuk di Jawa Tengah.

Agenda tersebut menindaklanjuti rapat koordinasi bersama dengan TNI, Polri, forum kerukunan umat beragama (FKUB), dan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo di kantor Gubernuran, Semarang, Rabu 6 Agustus 2014.

Ketua MUI Jawa Tengah, Ahmad Daroji, Rabu 6 Agustus 2014 mengatakan, MUI pusat pada Kamis 7 Agustus akan mengumumkan fatwa mengenai pelarangan ISIS di Indonesia. Pertemuan itu akan dihadiri seluruh elemen ormas Islam secara nasional.

"Besok pagi fatwa haram MUI tentang ISIS akan dilakukan. Intinya akan ada dialog langsung dengan tokoh-tokoh agama, " kata dia.

Menurut dia, dalam forum fatwa tersebut akan menghasilkan rumusan-rumusan termasuk membentengi gerakan ISIS di tanah air oleh MUI.

Khusus di Jateng, pihaknya secara tegas menolak berkembangnya ISIS. Meski tidak dibuktikan dengan riil, paham tersebut telah dirasakan muncul melalui gerakan-gerakan secara sembunyi-sembunyi.

"MUI Jateng sudah menyatakan mengharamkan ISIS. Saya tidak mengatakan jateng ada, tapi sudah kami rasakan ada seperti itu.
Is yang kedua akan dihilangkan. Jadi Islamic State (IS) yang paling mengkhawatirkan, " beber dia.

Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, Taslim menambahkan, untuk menopang ketahanan ideologi terhadap masuk ISIS, Jateng secara bertahap akan melakukan dialog secara komprehensif mengenai masalah keagamaan.

"Nanti ada MUI se-Jawa Tengah, Dewan Haji dan Dewan Masjid dan 54 ormas Islam di Jateng kita undang, " ujarnya.

Laporan, Ryan Dwi (Semarang)

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...