oleh: Duwi Royanto, M.Pd.
Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai, dan norma-norma ke generasi yang lebih muda. Tujuan pendidikan sangat luas dan dapat bervariasi tergantung pada konteks, sistem pendidikan, dan nilai-nilai sosial yang mendominasi suatu masyarakat. Di sekolah dasar tujuan ini mencakup berbagai aspek perkembangan siswa, termasuk aspek kognitif, emosional, sosial, dan fisik; meliputi pengembangan keterampilan akademis, pengembangan kemampuan berpikir kritis, keterampilan sosial dan emosional hingga pemahaman nilai etika.
Menghadapi arus global yang kian cepat, tantangan dunia pendidikan di semua level juga kian beragam. Salah satunya adalah tantangan pemahaman nilai etika dalam menyikapi keberagaman agama di dunia pendidikan. Ancaman pemahaman agama yang kaku dan eksklusif menjadi satu persoalan yang harus cepat dan tanggap diurai oleh satuan pendidikan. Karenanya pendidikan moderasi beragama menjadi suatu keharusan dan semakin penting dalam konteks pendidikan di berbagai tingkatan sekolah.
Moderasi beragama merupakan frasa yang terbentuk dari dua kata, yakni “moderasi” dan “beragama”. Moderasi diserap dari bahasa Latin yakni moderatio, artinya “sedang” (tidak lebih ataupun kurang). Moderasi atau moderation dalam Bahasa Inggris juga berarti “sedang”, tidak berlebihan. (Apriani & Aryani, 2022). Maka ketika term “moderasi” diikat bersama “beragama”, terbentuk istilah “moderasi beragama” yang artinya pengurangan terhadap kekerasan atau menjauhkan diri dari keekstriman ketika berpraktek beragama.
Guru sebagai pendidik memiliki peran yang penting karena berhadapan langsung dengan peserta didik. Untuk itu, sebagai guru harus memiliki sikap yang moderat, juga memiliki pengetahuan dan pemahaman implementasi moderasi beragama. Mengingat lembaga pendidikan merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang budaya yang berbeda. Lalu bagaimana metode yang tepat untuk menciptakan konsep moderasi beragama di sekolah, khususnya sekolah tingkat dasar?
Menjawab pertanyaan itu, penulis memiliki satu metode yang setidaknya mampu menjawab persoalan yang ada di sekolah. Metode tersebut adalah pembelajaran kolaboratif multikultural. Pendekatan pendidikan ini mendorong kerjasama antara siswa dari latar belakang budaya yang berbeda. Melalui kolaborasi ini, siswa dapat belajar saling menghargai dan memahami perbedaan mereka. Setidaknya ada tiga hal penting yang menjadi landasan metode ini; Pertama, menciptakan moderasi beragama di antara siswa yang memiliki latar belakang berbeda. Pendekatan ini membantu mengurangi ketegangan antaragama dengan mendorong toleransi dan saling pengertian di antara siswa. Kedua, menumbuhkan sikap toleransi. Dengan merangkul keragaman budaya, siswa diharapkan dapat melihat keberagaman sebagai kekayaan dan menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan. Ketiga, membangun keterampilan kolaborasi di mana pembelajaran kolaboratif juga melatih siswa untuk bekerja sama lintas budaya, membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam dan sinergi.
Adapun guru bisa memilih untuk menerapkan strategi pembelajaran kolaboratif multikultural dengan langkah-langkah berikut: 1) pembelajaran berbasis pengalaman; guru bisa menerapkan pembelajaran berbasis proyek atau pengalaman yang melibatkan siswa dalam aktivitas praktis yang mewakili keberagaman agama. Lalu Memberikan kesempatan kepada siswa untuk merasakan dan meresapi nilai-nilai beragam melalui kegiatan nyata. 2) Kurikulum inklusif; sebagai contoh guru Pendidikan Agama Islam bisa mengembangkan kurikulum PAI yang mencakup pemahaman mendalam terhadap agama-agama lain dan nilai-nilai yang dapat disatukan dengan ajaran Islam serta menyertakan materi ajar yang merangsang pertanyaan, refleksi, dan diskusi terbuka. 3) Pendekatan dialogis. Guru bisa mendorong dialog terbuka di kelas, di mana siswa dapat berbagi pandangan dan pengalaman mereka tentang agama dengan prinsip saling menghargai pendapat orang lain. Dan 4) Kolaborasi antar kelas. Guru mendorong kolaborasi antar kelas maupun antar sekolah untuk memfasilitasi pertukaran budaya dan pemahaman agama. (*)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar