Jumat, 12 Juli 2013

Tak Hanya Popularitas

ALI TAUFIQ ISMAIL, Teaterawan kelahiran Grobogan, 8 Desember 1983 ini cukup layak untuk tercatat dalam perjalanannya di dunia teater Semarang. Meski banyak orang tak mengenal secara personal pribadinya, namun bagi Ali, panggilan akrabnya, popularitas bukanlah hal purna dalam dinamika berkesenian.

Sekitar 14 tahun di dunia kesenian, pria yang tinggal di Purwoyoso, Ngaliyan ini pun membuktikan eksistensinya di dunia kesenian khususnya teater. Bahkan tak heran namanya sempat tercatat sebagai Sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja se Jateng pada tahun 2008 lalu.

Meski telah banyak melakoni berbagai aktivistas kesenian, namun tak mudah rupanya Barometer untuk mendapatkan informasi seputar berbagai cerita pengalamnnya menekuni dunia kesenian yang lekat dengan pria yang juga pernah 'ngangsu kaweruh' di SMA Futuhiyah Mranggen Demak ini. Bermodal segelas kopi hitam dan sebungkus rokok 'sukun putih' kegemarannya, Barometer baru bisa mendapatkan cerita panjang tentang sejarah hidup teaterawan yang masih berstatus lajang ini.

Tak terasa beberapa karya telah ia torehkan di belantika teater Semarang. Bersama teater Beta Semarang, namanya kerap menjadi icon, pelaku dan kritikius panggung yang sarat perkembangan berfikir seputar dunia teater yang sekarang masih menjadi trend anak muda di Semarang. Naskah yang pernah digarap pria yang juga punya hoby karaoke dan bulu tangkis ini antara lain, Pasar Kobar (2005), Godlob (2006), Gus Dja'far (2007), Pakaian dan Kepalsuan 1 (2008), Pakaian dan Kepalsuan 2 (2009) dan Cangkir sang Pemahat (2013).

Karya terbarunya berjudul 'Cangkir Sang Pemahat' adalah proses penggarapan yang diakuinya tak mudah untuk ditaklukkan. Pasalnya, selain sebagai penulis naskah ia pun sekaligus menjadi penggarap naskah berdurasi panjang tersebut. Karena baginya seni harus dibekali dari tiga elemen penting, seperti intelektual, emosional dan mentalitas. Tiga hal tersebut harus benari-benar diaksentuasikan di beberapa ranah panggung bagi seluruh aktor.

Rencananya proses 'Cangkir Sang Pemahat' akan dibawanya dalam tour pentas teater beberapa kota di Jawa Tengah, di antaranya Kabupaten Purworejo, Jogjakarta, Kabupaten Blora, dan Semarang. Uniknya, panggung yang akan dihadirkan, akan membawa kultur kesenian panggung yang disesuaikan dengan kultur budaya setempat. Tak ketinggalan, kritik sosial yang dimunculkan akan dibangun sesuai dengan berbagai permasalahan kekinian yang lebih menggelitik seputar pertunjukan di masyarakat. [roy]

*Dimuat Di Rubrik "wong Kene" Harian Barometer Semarang, Edisi sabtu (13/7).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...