Senin, 07 November 2011

Berita "Geger di Negeri Wadang" Di Seputar Indonesia

Wayang kloning merupakan dinamika berkesenian dan upaya adaptasi seni di tengah modernisasi.Wayang kloning lahir dari sebuah eksplorasi dan pengembangan dari seni wayang yang sudah pakem.

Setidaknya, itulah yang dikatakan Dwi Royanto, salah satu penggagas pertunjukkan Wayang Kloning. Dwi merupakan anggota dari Teater Beta, kelompok teater kampus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.Ya, lewat pementasannya, Teater Beta mencoba menyuguhkan konsep anyar seni pentas, yakni Wayang Kloning.



”Lewat pementasan wayang kloning ini, kami berusaha membuktikan pada masyarakat luas, khususnya pada penontonnya bahwa wayang itu tidak monoton, tidak terkesan berat bahkan mahal.Ya,menginovasi cerita wayang dengan lebih fresh agar tidak monoton, membosankan, karena pada hakikatnya wayang adalah tuntunan, tidak sekadar tontonan,” paparnya.



Dwi mengaku harus berpikir ekstra keras untuk mengonsep sebuah pertunjukkan wayang kloning. Eksplorasi ideide baru yang digabungkan dengan beberapa unsur-unsur yang dia punyai dengan komunitasnya musik, ide humor, hingga inovasi kostum, gerak, serta dialog.”Tujuannya yaitu, agar wayang lebih fresh di tengah modernitas,”ucapnya.



Dwi menegaskan konsep yang diusung tetap sebuah pementasan wayang, tapi berpijak pada roh dan konsep pakem pementasan yang sudah ada. Dari segi penggarapan, memang masih perlu banyak belajar. Hasilnya tidak tanggungtanggung.


Pada pementasan berjudul Geger di Negeri Wadang Wayang Kloning tersebut dibawa pentas keliling 3 kota, yakni Semarang pada (18/10), Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) pada Kamis (20/10), dan di Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (22/10). Suguhan para awak Teater Beta ini memantik perhatian banyak pihak. Mulai apresiasi, kritik pedas, hingga pujian hangat pun terlontarkan.



Menurut pengamat dan kritikus teater Day Milovich,terlepas dari persoalan teknis dan keaktoran, konsep yang dibawakan sudah cukup bagus. Meskipun cerita sering dibalut pesan politik yang cukup banyak, itu tidak mengajak orang untuk mempertanyakan sesuatu. eka setiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...