Senin, 07 November 2011

Seruling Perindu

kini benar-benar hadir
sapa mesra seruling perindu
memekik setiap kuping
alunan haru dan rindu

telah kupinang aroma bisikmu
wahai seruling perindu
dari janin yang esok lahir

bagaimana aku tak mencintaimu
sedang tiap detik kau dentangkan sunyi
melewati irama
menjadi rima
tercipta bait-bait kata bernama puisi

kelak ku gubah tarian angin waktu itu
kala riuh menyemai air
telaga warna di desaku
dan kubiarkan kau mengalun disana
hingga aku pinang petikan nada

dan kau menyambutnya
untukku,

teduh mu jelmakan kail
saat ku canda ikan-ikan kecil
_ditelaga itu
sampai kujumpa bidadari alam
nantikan seruling perindu

dan disana
"ada aku"
penuhi panggilan nasib
bersama gema seruling rindu

sesampai seruan petang
kita masih jumpa
dan bermimpi pada indahnya pematang
adalah realita hidup
;yang harus kita kunjungi

aduhai seruling rinduku
akankah kau selalu setia bersamaku
bersama badut malang darah daging alam
yang kian mengeja kematian
demi usia yang kian matang

setelah itu
aku segera kembali
memenuhi seruan takdir
_tanpamu



Semarang, April'10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...