Kamis, 17 November 2011
Perkawinan Bunyi Suluk Rampak Pertiwi
MENJAMURNYA group musik baru di belantika musik nasional nampaknya dinilai miskin ide. Cenderung hanya bersifat bisnis, bahkan hanya sedikit yang mampu menciptakan karakter. Pasalnya, musikalitas maupun syair seolah lepas dari perhatian oleh pelakunya. Band-band baru pun bermunculan ibarat jamur di musim hujan, namun setibanya pergantian musim, jamur itu pun musnah entah ke mana. Banyak group band tak memperhitungkan kualitas.
Itulah sebab mengapa komunitas ini melahirkan kelompok musik kreatif bernama “Suluk Rampak Pertiwi” yang diawaki oleh Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
Pimpinan group musik Suluk Rampak Pertiwi, Dwi Royanto mengatakan bahwa karya seni hendaknya “membebaskan”, sehingga tidak hanya menjadi bentuk apresiasi namun ekspresi dari endapan perenungan. “Bagi kami, musik adalah menyederhanakan sesuatu yang berada di sekitar kita. Baik dari isi pesan maupun komposisi bunyinya,” katanya, di sela latihan, kemarin.
Royan menambah, secara komposisi, corak musik Suluk Rampak Pertiwi adalah menyuguhkan arransemen bunyi yang unik dan syair-syair yang menggelitik dengan tema sosial, politik, lingkungan, alam dan cinta. Selain itu memasukkan alat-alat musik tradisional seperti angklung, rebana, dan gamelan.
“Kami mencoba mengawinkan beberapa gabungan bunyi apapun. Kadang menggunakan barang bekas, sampah ataupun melibatkan suara sepatu penonton, suara riuhnya penonton atau apa saja. Kami berjuang keras menyetir suara-suara itu hingga terjalin paduan yang selaras. Baik dan buruk itu urusan belakangan,” katanya.
Sementara itu Lurah Teater Beta Semarang, Muhammad Rosul Hamzah mengatakan Suluk Rampak Pertiwi hanyalah sebagai wadah ide-ide para anggotanya dalam mengendapkan ide-ide liarnya. “Bukan hanya lirik lagu yang mengusung isu-isu politik nasional saja. Namun juga tentang cinta akan kerukunan hidup antar umat beragama,” tandasnya.
Seperti halnya terdendang dalam lagu berjudul “Damai di bumimu,” memotret bagaimana seharusnya hidup di tengah perbedaan agama itu asyik. Berbeda keyakinan namun mampu hidup adem-ayem, rukun, tentram dan damai. Hamzah menjelaskan, group Suluk Rampak Pertiwi ini berdiri sejak 2003 silam. “Group ini didirikan oleh Abdul Mughis Dkk, senior Teater Beta generasi tahun 2000,” tambah Lurah Teater Beta.
Hingga saat ini, sedikitnya mempunyai 22 koleksi lagu ciptaan sendiri. Mengusung genre musik kreatif. Dengan memaksimalkan perkawinan bunyi antara alat tradisional dengan alat musik modern.
Beberapa waktu lalu, kata Hamzah, group musik kreatif yang digawangi Ipang Baihaqi pada (lead guitar), Amink (keyboard), Rosul (drum), Royan (seruling), Kaka (bass), Badri, A’an, Bleki, Ana (Perkusi) dan tim paduan suara ini, sempat eksis di acara-acara kebudayaan, di antaranya pentas seni antar agama di balaikota yang diselenggarakan rutin setahun sekali, pentas partisipan, pentas produksi dan beberapa kali pentas di gedung Pemerintah Provinsi Jateng.
Rupa-rupanya, jam terbang atau job yang musiman itu tak menjadikan mereka ciut nyali untuk tetap berkarya di tengah gegap gempita kapitalisme bermusik, hingga sekarang. Atau malah justru menjadikan Group Suluk Rampak Pertiwi ini terasah dalam menciptakan identitasnya?
Dipentaskan atau Tidak, Tetap Berkarya
Berkesenian bagi warga Teater Beta tak jauh beda dengan menanam cabe atau menggali pasir. Tak ada yang lebih penting atau istimewa. Seni seolah menyatu dalam aktifitas sehari-harinya. Padahal sebagaimana diketahui mereka di bawah naungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang berbasis keagamaan.
Seperti halnya di dalam Teater Beta terlahir group musik kreatif Suluk bernama Rampak Pertiwi. Berkarya dimengerti sebagai pendidikan dasar seni yang terus dilakukan dari generasi ke generasi. "Dipentaskan atau tidak, kami terus berkarya aja. Dengan cara itulah Suluk Rampak Pertiwi melakukan pendidikan seni di Teater Beta," papar wisudawan asal Wonosobo ini.
Lebih lanjut dijelaskan Royan, komposisi pemain dalam group Suluk Rampak Pertiwi alami racikan sendiri. Pasalnya, hampir semua pemain mulai dari nol tentang pengetahuan musik. "Bahkan banyak pemain yang awalnya belum bisa main musik hingga akhirnya bisa memainkan, kemudian mengarang musik. Kita hanya berguru pada alam, lingkungan dan pengamatan," kata Royan. (***)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar