Pagi benar mentari mengatupkan sinarnya tepat disebelah ranjang peristirahatanku hari ini. Serasa terasa persekongkolan waktu mengusik menunggangiku dalam persetubuhan perjalanan atas nama masa depan. Kucelucuti selimut mimpi yang kusadari benar, aku harus membalikkan mimpiku malam tadi kepada realisme hidup yang menantang sejarah.
Anak sejarah hilang arah, mengukir masa menarikan potensi masa silam, memutar tenaga bersama kenyataan. Ku pahat sejarahku lewat pepohonan tepat dibelakang rumahku yang berjajar disepanjang jalan.
“kata orang jalan pahlawan” padahal aku sendiri tak pernah tahu asal muasal jalan dibelakang rumahku diberi julukan itu.
Semakin percaya diri hari menyambutku dengan lambaian pepohonan menyisipkan tawa gambar-gambar para petinggi negeri pengabdi masyarakat. Katanya.
Namun duniaku menganga, menghentak otakku dalam pemberontakan watak.
“kenapa rimbunan pohon tadi menangisi perjalananku menyambut masa…?” gumamku.
Hampir disetiap langkahku meniti hari gumam itu terbelit dalam fikirku. Memulai merangsang kepenatan yang mnanti solusi. Setiba aku bersandar tepat dibawah pohon jati, yang kata ayahku,
”pohon itu warisan dari simbah buyutmu, untuk masa depan kamu nanti nak…”
serentak pohon itu memelukku dengan erat dan mengalirkan bisikan lirih ditelingaku.”
kalau saja kau kata anak sejarah hilang arah, aku kan mengeluhkan nasibku nak…pohon sejarah menangiskan getah darah, tertikam gambar-gambar senyuman politisi masa demi masa yang kian membunuh, tercabik konsitusi buta para pecinta keangkuhan yang mengatas namakan pecinta lingkungan. Padahal sebuah keculasan.
Makin erat tubuhku dipeluknya, terasa sekali kepedihanya membuncah waktu itu. Namun kenyataan yang ku lihat hanyalah warna-warni polesan janji-janji kata, seabrek misi untuk rakyat. Saat itu gambar tak lagi terlihat sebagai senyum manis yang elok dipandang, namun berubah menjadi paras monster dalam film ultraman yang menghancurkan kota demi kota bahkan hutan. Satu injakan seribu kematian. Manusia, tumbuhan, hewan dan segunung kesengsaraan.
Ku usap keringat menetes dibilik wajah, menempel tepat dikulit pohon jati yang menangis keras. Makin lama makin keras. Tak lagi kusadari apakah burung-burung parkit itupun menangisi keberadaan pohon-pohon itu, yang telah tertipu keadaan, ditipu arah sejarah. Dipermalukan oleh janji lamis senyuman pemuja keserakahan.
Semakin lama butiran-butiran waktu berlalu. Pohon itu masih saja memeluk erat tubuhku dengan resah dan mendesah. Entah, apa yang sedang tergambar dibalik kulit-kulit kering rerimbunan hijau yang penuh paku itu.
“andai saja para perintis sejarah mampu menafsirkan sejuta duka laramu, mereka kan tercekik mematung diantup tangisan tawon-tawon kemiskinan atas kebusukan senyum mereka sendiri…” gumamku.
Namun darah telah membuncah….
Takkan terlihat lagi sepasang burung parkit berwarna keemasan bertengger diatas ranting hijaunya pepohonan tanpa usik. Kalau saja sesama makhluk mulai beradu nasib atas kuatnya arus global, pohonlah yang akan terprosok mengibakan nasibnya.
“Biarkanlah daging-daging kayuku diukir dengan rintihku yang penuh pikir, karena ini takdir. Itu justru lebih baik daripada hanya menjadi tontonan monyet-monyet berdasi yang saling beradu senyum menantikan dukung. Yang ada hanyalah saling mencekik, saling memotong dan saling berjoged diatas tumpukan-tumpukan kebahagiaan semu. Kebahagian yang hanya sejengkal pluralisme kekuatan warna-warni nomor yang hanya sepenggal sejarah.”
Wahai lukisan petinggi ibu kota yang memaku………
Akan kalian bawa kemana lagi deretan tembok-tembok tanah ini, setelah kalian perkosa alam dengan taring-taring penghimpit ranting yang terus meruncing. Masihkah sorban-sorban putih itu kalian tanggalkan diatas pundak-pundak bertengerkan punuk daging-daging yang terus diadu.
Masih tergambar betul dalam ingatanku lantunan abjad lamis yag menipu,
” Rakyatku sekalian…atas nama lingkungan mari kita tanam seribu pohon, agar bumi kita terhindar dari mara bahaya….”
Khotbah yang berbalik serakah,
Kalian sembunyikan wajah berlumur darah kalian dengan topeng-topeng bencana. Dramatis dan sadis..! beitulah ulah para monster bermuka lumuran getah-getah yang terus mendarah bernama manusia kuasa, budak uang dan kelamin, budak kata-kata……..!!!
Masih saja kalian tersenyum dibawah pohon warisan simbah buyutku……..”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar