Jumat, 02 Desember 2011

Air Mata Batu


perjalanan yang lama itu
datang dan pergi tak pamit
semalam sempat bermukim di otakku
dan sesloki minuman
menuntun butiran harapan
sekedar ku punguti di jalanan.

demi sebongkah ambisi
aku terbang jamahi satu demi satu mega
ku sesap warnanya
dan ku lempar ke dasar samudera
lalu ku tembangkan nyanyian rindu
sembari sungai di kedua mataku
dingin dan beku.

karena kesedihan
kesederhanaan menapaki pundak kita
ketika tak terhitung berapa
kita langkahi mayatmayat saudara kita
namun air mata bukanlah hakikat
yang hakikat adalah kesadaran.

saat ini cucuran air mata
hanyalah batu tak bernyawa.


Semarang, 20 Februari 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...