Sabtu, 09 Agustus 2014

Tutup Celah ISIS, Jateng Awasi Atribut Radikal



Provinsi Jawa Tengah terus mewaspadai masuknya jaringan ISIS di wilayahnya dengan berbagai program. Salah satunya dengan melakukan pengawasan berbagai atribut berbau radikal yang ada di 35 kabupaten kota.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun langsung merapatkan barisan dengan memanggil berbagai instansi seperti; Kapolda Jateng, MUI, TNI, Polri serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng, di kantornya Rabu 6 Agustus 2014.

Pertemuan tersebut membahas secara detail tentang perkembangan dan bagaimana pengaruh jaringan radikalisme Islam Syuriah tersebut yang disinyalir telah masuk di Jawa Tengah.

"Tindakan praktis yang kita lakukan dengan pengamanan di Lapas dan kepolisian serta pemkab. Hal yang ada kaitannya dengan ISIS dihapus, baik itu mengibarkan bendera dan aksi fandalisme (coret dinding)," tegas Ganjar.

Ia pun telah memperintahkan kepada seluruh kepala daerah di 35 kabupaten kota untuk terus mengawasi lapas yang ada. Karena tak dipungkiri banyak tokoh teroris banyak yang menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

"Para pimpinan daerah agar mengantisipasi. Kita mau di Lapas tidak sebebas yang ada sekarang, jadi semua bisa dilakukan dengan baik. Kita akan tangkal radikalisme, " beber dia.

Selain itu, akan dilakukan pula pendekatan strategis oleh berbagai instansi dengan membangun kesadaran negara sesuai dengan UUD 45 dan Pancasila. Termasuk juga pendekatan spiritual budaya, atau keagamaan.

Kendati demikain, Ganjar menegaskan tidak ada kantong ISIS di wilayahnya. Namun, ada kecenderungan pergerakan ISIS yang berkembang cepat melalui berbagai pergerakan hingga masuk ke elemen mahasiswa di berbagai organisasi dan kampus. "Gerakan kampus itu hanya lewat tokoh saja," ujarnya.

Kapolda Jawa Tengah, Irjend Pol Noer Ali dalam kesemapatan yang sama mengaku,
telah menyiapkan langkah strategis untuk mengamankan berbagai lapas dan tindakan yang mengarah ke radikalisme.

Ia mengimbau, agar gerakan ISIS harus menjadi perhatian seluruh pimpinana daerah. Hal itu agar tidak ada lagi kegiatan perkumpulan dan gerak ISIS kembali terulang.

"Ya jangan sampai ada kegiatan pembaiatan dan sebagainya yang terulang. Seperti di Lapas Pasri Putih NusakambanganI," kata dia.

Laporan, Ryan Dwi (Semarang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...