Selasa, 29 Oktober 2013

Berteater Itu Menggiurkan

SIAPA bilang berteater itu menjenuhkan? Atau bahkan dengan aktivitas berteater akan selalu kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas akademik, pun aktivitas pacaran bagi mahasiswa yang baru mengenal uforia bangku kuliah.

Kang Zaenal, seniman asli teater beta Semarang ini justru menganggap lain mengenai anggapan tentang aktivitas teater. Salah satu tokoh pendiri teater beta di awal tahun 1985 silam itu mengaku bahkan sampai sekarang masih selalu menggandrungi "teater" meski telah tak bersentuh dengan dunia akademik serta matangnya mengeja hiruk pikuk kehidupan. "Jika anda memang serius menekuni ini. maka saya jamin kalau anda akan "lelet" (lekat) dengan segala aktivitasnya, " tandas Kang Zaenal yang mengaku pernah menjadi juara II lomba baca puisi tingkat Nasional kala itu.

Kang Zaenal pun mengakui kalau di usianya yang sudah tergolong "masuk anginan" eksistensi fisiknya pun tak bisa dibohongi. Namun baginya, usia bukanlah alasan. Berkat semangat dan "olah rasa" yang begitu dalam hingga kini warga asli teater beta yang tinggal di Kecamatan Tugu itu masih "Gandrung Katresnan" dengan teater.

"Berteater itu menggiurkan. Tapi jangan keliru kalau itu seperti narkoba. Kalau narkoba Asyik karena dibikin asyik. Sedangkan teater asyik karena alamiahnya sendiri, " terang Kang Zaenal yang menjadikan acara malam itu semakin khusyu'.

Tak hanya itu, Kang Zaenal pun sempat menyentil tentang anggapan orang bahwa teater adalah aktivitas kumuh dan "menyeramkan". Dengan penuh semangat, Kang zaenal mengajak kepada seluruh warga yang hadir untuk menyatukan persepsi bahwa yang menjadi ikon teater bukanlah bentuk fisik namun lebih karena alasan proses kreatif sehingga menimbulkan hasil itu sendiri.

"Orang teater itu bukan celana bolong dan tak pernah mandinya, tetapi lebih pada hasil dari tak mandi dan celana sobeknya, " ucap Kang Zaenal.

Pada sesi terakhir, kang Zaenal memberikan suatu elaborasi tentang bagaimana seharusnya orang teater membuktikan eksistensinya dalam dunia kesenian. Maka sebagai seorang teaterawan harus punya kekuatan action yang di luar kemampuan banyak orang.

"Maka juallah keindahan yang bisa bikin orang-orang 'nglinguk' akan aksi anda, " pungkas Kang Zaenal.

Materi Ke-Beta-an Pra Workshop Teater Beta Semarang, Minggu (27/10)

[DWI ROYANTO TEATER BETA]

Minggu, 27 Oktober 2013

30 Warga Baru Teater Beta Dibekali Keaktoran



NGALIYAN- Suasana berbeda terjadi di workshop warga baru Kelompok Pekerja Teater Beta Semarang. Ketika puluhan anak tampil unik dengan berbagai pose yang menyerupai benda-benda alam sekitar.

Rupanya teknik-teknik materi keaktoran sedang diajarkan oleh salah satu pemateri workshop Ahmad Maghfur Anh salah satu seniman asal Kabupaten Batang. Peserta pun diajak melihat kondisi lingkungan, seperti batu, pohon, gedung bahkan burung-burung yang beterbangan saat sesekali dihempas angin.

Dengan memadukan teknik meditasi serta olah rasa aktor, pesertapun secara alamiah 'asyik-masyuk' dalam berbagai aktifitas alam menyerupai benda sebenarnya. Seperti pose tangan yang melambai-lambai ketika melihat objek pohon yang diseront angin, pose tengkurap dengan mata meneteskan air mata seperti batu yang diterpa hujan dan sebagainya.

Di sela materi, Aan panggilan akrab seniman asal Batang ini menuturkan, dalam teknik olah rasa, sang aktor harus menyadari dirinya secara mendalam. Sehingga ia dapat merespon apapun yang terjadi di alam sekitar.

"Karena syarat aktor tetaer harus mempunyai daya sensitifitas. Selain itu dia harus punya kemapuan mencipta atau daya imajinasi sehingga terlatih untuk merespon apa yang ada di sekitarnya, " kata dia, kemarin.

Selain keaktoran perserta pun dibekali berbagai materi lain, seperti; Keteateran, Penyutradaraan, Penulisan Naskah, Tata Cahaya, Tata Setting, Tata Rias, Manajemen Panggung, Design Grafis Baliho, Ilustrasi Musik serta Kesusastraan.

Workshop Keteateran sendiri diselenggarakan selama satu minggu penuh tersebut bertempat di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Walisongo dan Komplek Pariwisata Gedong Songo sejak tanggal 27 Oktober sampai 2 November 2013.

Uniknya, dengan konsep 'Kampoeng Seni' ini lokasi bakal disetting berupa miniatur pedesaan, atau perkampungan. Bagi peserta dan panitia akan berada di lokasi dengan dibatasi daerah atau "zona acting" di lokasi WorkShop. Maka bagi siapa saja jika berada di dalam daerah "zona acting" baik peserta, panitia, narasumber maupun tamu, akan mendapat peran atau casting penokohan serta nama baru.

"Hal itu untuk mengasah kemampuan keaktoran bagi warga baru teater beta, " pungkas Aan. [Dwi Royanto Teater Beta]

Sabtu, 26 Oktober 2013

GADIS CANTIK DI BALIK GANJAR


CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari peranan perempuan kelahiran Jakarta 19 Desember 1990 silam. Ya, Cindy Tachibana, gadis cantik yang multi talent ini merelakan waktunya untuk membantu Ganjar dalam membuat design baliho dan stikernya sebelum pilgub lalu.
Wanita cantik yang punya hobby fotography ini ternyata tak menyangka bisa sampai di Semarang, Jawa Tengah. Bahkan ia mengaku sampai berminggu-minggu lamanya berada di Semarang. Berawal dari Rico Valentino, kakak kandungnya yang tak lain teman Ganjar sewaktu di UGM dulu. Singkat cerita, Cindy dikenalkan kepada Ganjar di Jakarta. Dari situ akhirnya ia memutuskan diri untuk menjadi relawan murni Ganjar yang mencalonkan diri menjadi cagub Jateng. Bahkan ia mengaku, tidak pernah mau menghitung-hitung berapa banyak dana yang dikeluarkan dalam menjadi relawan garuda.
Meski punya hoby fotography dan design garafis, namun bagi perempuan lulusan Universitas Dinus Internasional Malaysia itu tidak suka kalau dirinya difoto oleh orang lain. Ia menuturkan, setiap kali difoto orang lain hasilnya selalu saja tak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. “Jadi aku kurang PD aja kalau difoto, “ tukas Cindy yang tinggal di Permata Hijau, Jakarta Selatan itu.

Berada di Semarang telah banyak yang ia kerjakan menyangkut design cagub dan cawagub Ganjar dan Heru. Mulai dari Baliho, spanduk, stiker, iklan, brosur dll. Menurutnya, hal itu ia lakukan semat-mata karena ia melihat sosok Ganjar yang cerdas serta berbeda dan dianggap mampu memimpin jateng lebih baik.
Selama di Jawa tengah banyak acara Ganjar yang ia ikuti. Di antaranya, acara deklarasi, serta acara-acara ganjar di daerah-daerah dengan menyumbangkan pemotretan serta mendesign tiap acara yang telah ia kunjungi.
Bagi wanita yang memiliki tinggi badan 158 cm itu karya seni terutama design grafis haruslah memiliki konsep design yang khas. Termasuk pemilihan kontras warna dan bebas berkreasi. “Adapula beberapa karya dengan beberapa segmentasi, seperti yang aku buat untuk design-design mas Ganjar yang anak muda banget itu, “ ungkap Cindy
Ditanya mengenai alasannya sampai saat ini kenapa menjadi relawan yang menyumbangkan karya design dan fothographynya, ia menjawab untuk mengasah kreatifitas serta berharap memberi yang terbaik dengan memanfaatkan waktu yang sangat singkat.
Bahkan sampai saat ini, ia mulai tertarik dengan politik ketika secara langsung Cindy selalu bersentuhan dengan dunia politik secara nyata.
“Ketertarikan politik ada, ternyata beda dengan yang aku bayangin. Ketika melihat di media-media , di sana kurang enak. Dan sekarang beda deh, orang-orangnya pun tak sejelek yang aku pikir, “ kata Cindy dengan senyumnya yang sangat manis itu. [roy]


Sabtu, 20 Juli 2013

BESAR OLEH PENGALAMAN

MERRY HERLINA SARAGIH, Perempuan asli Semarang yang akrab dipanggil Herlina ini rupanya punya cara sendiri dalam melakoni berbagai aktivitas politik di Jawa Tengah.

Namanya kian santer seiring keberanian dan actionnya sebagai anggota DPRD.
Ia bahkan menorehkan namanya karena saat ini masih menjadi Ketua Fraksi Hanura di lingkungan DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Keberanian anggota Komisi B ini dalam memilih aktivitas politik rupanya telah tertanam semenjak masih kuliah di UNIKA Soegiyopranoto Semarang. Bahkan ketika ditemui di kantornya, dengan semangat yang luar biasa ia menceritakan beberapa kisah menarik seputar dunia politik yang ia terjuni semenjak tahun 2009 hingga sekarang.

Perempuan kelahiran Semarang, 9 Desember 1978 ini rupanya punya hoby menarik untuk mengisi kepenatan kerja yang ia jalani. Traveling ke daerah-daerah baru bersama keluarga membuatnya banyak menemukan inovasi dalam karir yang masih ia jalani. Bahkan 35 kabupaten kota di Jateng pernah ia sambangi untuk sekedar menemukan berbagai ide segar, pun suasana baru yang membangkitkan etos kerja.

Selain itu, hoby nya membaca buku dan koran ia anggap sebagai wahana dalam mengembangkan intelektualnya di berbagai bidang kehidupan. Yang lebih menarik, politikus Hanura ini ternyata pernah dibesarkan selama 10 tahun di Nusa Tenggara Timur. Berkat sang ayah, Herman Saragih yang selalu mengajari tentang bagaimana arti membaca, ternyata menjadikannya sosok perempuan yang akrab wacana.

"Selama 10 tahun di NTT dulu banyak suka dukanya. Bahkan kalau ingin baca koran aja pasti telat karena daerahnya yang memang jauh. Tetapi dari situ saya banyak belajar tentang kegigihan, " kenangnya saat bercerita tentang suka duka di NTT semenjak 1985-1995. [roy]

MENJADI PEMBERANI


UMI SANGADAH, pendek saja namanya. Bagi aktivis Nahdhatul Ulama (NU) di Jawa Tengah, siapa yang tidak mengenal perempuan berkelahiran Kebumen, 13 Juli 1988 ini. Di usianya yang masih tergolong sangat muda, namun namanya telah dikenal dengan menjadi Ketua PW IPPNU Jawa Tengah Periode 2013-2018.

Perempuan lulusan S1 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAINU) Kebumen ini rupanya telah sejak kecil menekuni seputar keorganisasian. Tak heran, ia yang juga pernah 'Ngangsu Kaweruh' di Ponpes Asy-Syarifah Mranggen Demak dan menempuh pendidikan formalnya. Di МΑ Futuhiyyah 2 Mranggen ini begitu mencintai seputar dunai keorganisasian.

Sejak 2008 lalu perempuan yang sampai sekarang masih memiliki status lajang ini pernah mencatatkan namanya sebagai sekretaris BEM STAINU Kebumen, Pengurus PC PMII Kebumen, 2009 dengan menjadi Pengurus PW IPPNU Jateng dan terakhir menjadi Ketua PW IPPNU Jateng yang baru dilantik beberapa waktu lalu.


Perempuan cantik yang tinggal di Jl Cemara 01 Karangsari, Kebumen ini pun bahkan terkenal 'berani' dengan menorehkan berbagai paradigma seputar keilmuan yang terus bergulir seiring perkembangan zaman. Baginya, perempuan tak harus 'lemah' dan menjadi 'konco wingking' yang hanya mengikuti apa kata lelaki. Namun dengan prestasi perempuan akan mampu membuktikan diri bahwa ia layak menjadi seorang pemimpin yang sanggup mengisi berbagai disiplin ilmu di berbagai bidang kehidupan.


Ketika dilantik menjadi Ketua PW IPPNU Jateng ia sempat mengatakan pentingnya peran kaum perempuan terpelajar dalam membangun bangsa dan mempertahankan NKRI.

"Di tengah berbagai kasus korupsi, degradasi moral dan miskinnya keteladanan, hendaknya pelajar NU Jateng mampu mendinamisasi keadaan dengan intelektual, spiritual dan moral sebagai upaya mempersiapkan pemimpin masa depan, " tegas perempuan asli Kebumen ini. [roy]

Jumat, 12 Juli 2013

Tak Hanya Popularitas

ALI TAUFIQ ISMAIL, Teaterawan kelahiran Grobogan, 8 Desember 1983 ini cukup layak untuk tercatat dalam perjalanannya di dunia teater Semarang. Meski banyak orang tak mengenal secara personal pribadinya, namun bagi Ali, panggilan akrabnya, popularitas bukanlah hal purna dalam dinamika berkesenian.

Sekitar 14 tahun di dunia kesenian, pria yang tinggal di Purwoyoso, Ngaliyan ini pun membuktikan eksistensinya di dunia kesenian khususnya teater. Bahkan tak heran namanya sempat tercatat sebagai Sutradara terbaik dalam Festival Teater Remaja se Jateng pada tahun 2008 lalu.

Meski telah banyak melakoni berbagai aktivistas kesenian, namun tak mudah rupanya Barometer untuk mendapatkan informasi seputar berbagai cerita pengalamnnya menekuni dunia kesenian yang lekat dengan pria yang juga pernah 'ngangsu kaweruh' di SMA Futuhiyah Mranggen Demak ini. Bermodal segelas kopi hitam dan sebungkus rokok 'sukun putih' kegemarannya, Barometer baru bisa mendapatkan cerita panjang tentang sejarah hidup teaterawan yang masih berstatus lajang ini.

Tak terasa beberapa karya telah ia torehkan di belantika teater Semarang. Bersama teater Beta Semarang, namanya kerap menjadi icon, pelaku dan kritikius panggung yang sarat perkembangan berfikir seputar dunia teater yang sekarang masih menjadi trend anak muda di Semarang. Naskah yang pernah digarap pria yang juga punya hoby karaoke dan bulu tangkis ini antara lain, Pasar Kobar (2005), Godlob (2006), Gus Dja'far (2007), Pakaian dan Kepalsuan 1 (2008), Pakaian dan Kepalsuan 2 (2009) dan Cangkir sang Pemahat (2013).

Karya terbarunya berjudul 'Cangkir Sang Pemahat' adalah proses penggarapan yang diakuinya tak mudah untuk ditaklukkan. Pasalnya, selain sebagai penulis naskah ia pun sekaligus menjadi penggarap naskah berdurasi panjang tersebut. Karena baginya seni harus dibekali dari tiga elemen penting, seperti intelektual, emosional dan mentalitas. Tiga hal tersebut harus benari-benar diaksentuasikan di beberapa ranah panggung bagi seluruh aktor.

Rencananya proses 'Cangkir Sang Pemahat' akan dibawanya dalam tour pentas teater beberapa kota di Jawa Tengah, di antaranya Kabupaten Purworejo, Jogjakarta, Kabupaten Blora, dan Semarang. Uniknya, panggung yang akan dihadirkan, akan membawa kultur kesenian panggung yang disesuaikan dengan kultur budaya setempat. Tak ketinggalan, kritik sosial yang dimunculkan akan dibangun sesuai dengan berbagai permasalahan kekinian yang lebih menggelitik seputar pertunjukan di masyarakat. [roy]

*Dimuat Di Rubrik "wong Kene" Harian Barometer Semarang, Edisi sabtu (13/7).

Minggu, 24 Juni 2012

Pentas Tour 3 Kota Teater Beta Semarang

PENTAS TOUR 3 KOTA TEATER BETA SEMARANG Salam hangat buat kita semua, semoga selalu dalam lindungan-Nya. Sehubungan akan dilaksanakannya gawe besar teater beta Semarang yang bertajuk ” PENTAS PRODUKSI TOUR 3 KOTA TEATER BETA SEMARANG KE-68”, dengan Lakon : “NDORO LUWAK” Karya: Nurhidayat Poso. Sutradara: Sugiyarto, Maka kami mengundang semua saudara/kawan-kawan kita di manapun berada, untuk ikut berbahagia pada: Hari/tanggal : Jum’at 6 Juli 2012 Waktu : Jam 19.00 WIB Tempat : Gedung Dewan Kesenian Kota Tegal Hari/tanggal : Senin, 9 Juli 2012 Waktu : 19.00 WIB Tempat : Auditorium Kampus 1 STAIN PEKALONGAN Hari/tanggal : KAMIS, 12 Juli 2012 Waktu : 19.00 WIB Tempat : Auditorium UNIVERSITAS MURIA KUDUS Htm : 5000,- Atas kehadiaran dan do’a sedulur/sedulur, para penonton serta kawan-kawan pegit kesenian kami di manapun berada, kami haturkan terima kasih. Salam “Mengolah Rasa Menebar Kreasi”

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...