Selasa, 19 November 2013

*GUBERNUR DIMINTA CABUT PERATURAN UMK* DEMO BURUH RICUH


SEMARANG—Ribuan buruh dari berbagai serikat pekerja SPN dari berbagai perusahaan di Jawa Tengah mengecam Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo karena merasa dibohongi perihal UMK Jateng yang ditetapkan pada 18 November kemarin.

Ribuan buruh menuntut Gubernur Jawa Tengah mencabut kembali penetapan peraturan Nomor 560/60 Tahun 2013 tanggal 18 November 2013 tentang upah minimum kabupaten/kota (UMK) di Jateng.

Tuntutan buruh dibarengi dengan melakukan aksi turun ke jalan dengan memblokir jalan Pahlawan Semarang, Selasa (19/11), sambil berorasi secara bergantian melontarkan kecaman terhadap kekecewaan mereka akan kepemimpinan Ganjar yang dinilai gagal mensejahterakan buruh.
Lebih parah lagi, berbagai kecaman buruh pun semakin lama semakin menjadi dengan lontaran kata kasar terhadap Ganjar serta menyebut hati nurani Ganjar telah mati.

Berbagai buruh datang berduyung-duyung dari 35 daerah, dengan menggunakan truk. Mereka datang untuk menolak ketetapan UMK yang masih dibawah kehidupan hidup layak (KHL) dan tidak sesuai standar survei buruh yang muncul dengan rata-rata kenaikan sebesar 16,66 persen.

Buruh merasa kecewa karena terjebak dalam penetapan UMK melalui keputusan Gubernur Jateng nomor 56/60 tahun 2013 sudah diumumkan dua hari lebih cepat dari tanggal 20 November 2013. "Usulan angka kenaikan 16,6 persen adalah sistem kebijakan upah murah buruh masih berjalan. Angka itu jauh dari survei buruh berdasarkan upah Kehidupan Hidup Layak (KHL) dan ditambah inflasi," kata Nanang, salah satu perwakilan Gerakan Buruh Berjuang (Gerbang) Jateng.

Menurutnya, pembahasan UMK sehari sebelum ditetapkan UMK merupakan perangkap buruh. Buruh mengusulkan kembali kesetaraan angka UMK dengan daerah provinsi lain. "Kami mengusulkan kesetaraan yang mewakili daerah lain. Bahwa ditetapkan UMK oleh Gubenur Jateng bukan final," ungkap dia.

Dia membandingkan UMK Provinsi Jateng dengan daerah provinsi lain yang lebih rendah, seperti UMK Surabaya senilai Rp2,2 juta, Gresik 2,376 juta, Rp2,46 juta, Mojokerto Rp2,13 juta, dan Sidoarjo Rp2,38 juta. "Saya ingin Gubenur Jateng melihat kenyataan upah buruh. Bila UMK itu tidak sesuai pada angka survei yang diajukan buruh kemarin pada pertemuan," tandasnya.

Menurutnya, formulasi buruh dan pengusaha tidak akan pernah sinkron. Maka riil buruh meminta upah berdasarkan KHL dan ditambah inflasi supaya Gubernur Jateng sebagai pintu terakhir menjembatani. Sementara, pengusaha kenaikan upah buruh berdasarkan pertumbuhan ekonomi daerah masing-masing."Semestinya Gubernur Jateng sebagai pintu terakhir untuk menetapkan UMK. Padahal pada saat janji kampanye akan memperjuangkan buruh. Buktinya apa, keputusan UMK jauh dari kesetaraan buruh. Padahal ganjar dipilih oleh buruh," terang dia.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat ditemui Barometer usai demo buruh mengatakan, bahwa dirinya mempersilahkan buruh melakukan aksi unjuk rasa terkait penetapan UMK Jateng. Namun, dirinya menuntut kepada buruh untuk konsisten terhadap kesepakatan triparti antara Apindo, Pemerintah dan buruh dan dewan pengupahan yang berlangsung di Wisma Perdamaian beberapa waktu lalu dengan menyerahkan keputusan itu kepada Gubernur. “Karena angka-angka tidak bisa diputuskan satu kemudian mereka pasrah, pengertian pasrah itu kan saya putuskan to. Dengan satu catatan setelah ini kita mau bicara lagi, tapi tetepnya mau demo ya gimana lagi, tak bisa dilarang, “ jelas Ganjar.

Politisi PDIP itu mengatakan bahwa penentuan UMK itu telah mencapai titik final dan tidak bisa dirubah lagi, mengingat hal itu telah menjadi kesepakatan beberapa elemen yang ikut rembugan. Ia bahkan menyesalkan tentang kesepakatan di Wisper dimana hasilnya tidak disampaiakan kepada anggota buruh lainnya.

Menanggapi lontaran buruh bahwa dirinya membohongi buruh, Ganjar justru mempertanyakan dimana letak kebohongan Ganjar tentang regulasi penetapan UMK yang berlangsung beberapa waktu lalu. “Saya tanya di mana letak kebohongan saya? Saya tidak pernah menjanjikan itu untuk diangkat. Yang sudah sepakat ya tidak diangkat, yang belum kita angkat. Lantas dimana letak kebohongan saya? terus yang bohong siapa?,” pungkasnya.

Diketahui, aksi buruh yang berlangsung kurang lebih tiga jam itu sempat berlangsung ricuh. Selain memblokir Jalan Pahlawan, ribuan buruh juga sempat memaksa masuk dengan merobohkan pintu gedung gubernuran. Namun suasana tegang hanya berlangsung sementara karena ketatnya penjagaan dari aparat kepolisian. [Dwi Royanto]

Selasa, 12 November 2013

Performa 'Nyentrik' Ala Teater Beta


NGALIYAN- Pepatah mengatakan mahasiswa adalah 'agent sosial of change' yang sering dikenal dengan agent perubahan sosial dan selalu berjibaku dengan buku-buku dan tugas akademik dalam kesehariannya. Tapi hal itu tak cukup bagi segelintir mahasiswa satu ini.

Ada-ada saja memang yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam kelompok pekerja Teater Beta Semarang Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Walisongo ini. Di saat aktvitas pembelajaran sedang padat merayap, namun mereka rela untuk berpanas-panas ria di bawah terik matahari yang menyengat dengan melakukan aktivitas olah tubuh dengan gerak teaterikal. Aktivitas Tetaer Beta itulah yang orang kenal dengan mahasiswa yang punya segudang performa 'nyentrik' di kampusnya.

"Pahlawan tak pernah mati!!" Kalimat yang siang itu terdengar lantang di telinga ratusan mahasiswa dan dosen yang menyaksikan pertunjukan di area kampus 2 IAIN. Sebuah aksi teaterikal bertajuk "performance art" yang diramu manis Teater Beta Semarang ini mampu membuat orang untuk sejenak meletakkan segala kepenatan di waktu siang. Mereka sejenak terhipnotis untuk menilik masa lalu di mana perjuangan pahlawan negeri ini merebut sebuah kata 'Merdeka' dari penjajahan kolonial Belanda.

"Moment mengingat pahlawan tak harus dilakukan pada 10 November saja. Karena intinya adalah olah jiwa dan bagaimana memaknai itu dengan rasa, jadi bisa kapan saja. Apalagi di zaman yang sudah serba ada ini, " ungkap Sugiarto yang menjadi Sutradara di sela-sela acara yang sengaja dihelat pada Selasa (12/11) itu.

Sugiarto bercerita, performance art yang dimainkan oleh sekitar 20 aktor itu sengaja dipersiapkan untuk membekali jiwa solidaritas dan kebersamaan untuk tanggap terhadap lingkungan mereka. Apalagi hal itu dilakukan oleh mahasiswa yang punya beground akademik. Tentunya akan sedikit memberikan pendidikan moral bagi penonton.

Selain itu, garapan musik tradisi yang menjadi pemanis aksi ini, jelas Sugi, dimaksudkan untuk lebih mengenali akan kekayaan budaya bangsa yang sarat kearifan lokal, terutama Jawa Tengah. Sebagai contoh seni tradisi 'Jaran Eblek' yang akrab sebagai seni tradisinya masyarakat Jawa Tengah itu diramu apik dengan konsep mistik memakai perpaduan alat musik modern bernuansa klasik, sehingga mampu membuat bulu kuduk berdiri dalam sekejap.

"Aktor akan meluapkan apapun yang ia rasakan tentang moment kepahlawanan dengan konsep ini. Intinya, ekspresi itu muncul alami dengan berbagai kemampuan, seperti bermain musik, peran dan bahkan menggerakkan tubuhnya untuk berjoget di tengah kerumunan massa, " jelas mahasiswa semester 10 itu.

Sugi mengakui, tak mudah memang menggarap sebuah permainan drama kolosal berdurasi panjang. Karena hal itu membutuhkan kecerdasan, kepiawaian serta konsentrasi lebih bagi pemain. Apalagi hal itu dilakukan di tempat terbuka yang dikerumuni oleh banyak orang dengan aktivitas beragam.

"Sebagai orang seni, maka bekal memaknai moment apapun yakni jujur dengan diri sendiri, meluapkan apapun ekspresi dengan keindahan, karena itulah hakikat kesenian, " ujarnya.

Namun hasil dari garapan pria bertubuh cungkring kelahiran Jepara itu patut diacungi jempol. Terbukti, selama kurang lebih satu jam Performance Art yang disuguhkan mahasiswa baru 2013 itu mampu mendapat respon positif dari penonton. Maka tak khayal jika ada segelintir penonton yang turut larut dalam suasana kesedihan setelah menikmati adegan demi adegan.

Hamam (21), Mahasiswa Prodi Fisika FITK berpendapat apa yang disuguhkan Teater Beta siang itu mampu menghipnotis dirinya akan pentingnya sejarah. Menurutnya dengan menapaki sejarah, orang di masa depan bisa tahu akan sulitnya meniti sebuah perubahan untuk masa selanjutnya. "Dan Teater Beta cukup berhasil meramu itu dalam pertunjukan yang memukau, salut buat Beta, " ujar mahasiswa semester 5 itu. [roy]

Selasa, 29 Oktober 2013

Berteater Itu Menggiurkan

SIAPA bilang berteater itu menjenuhkan? Atau bahkan dengan aktivitas berteater akan selalu kehabisan waktu untuk melakukan aktivitas akademik, pun aktivitas pacaran bagi mahasiswa yang baru mengenal uforia bangku kuliah.

Kang Zaenal, seniman asli teater beta Semarang ini justru menganggap lain mengenai anggapan tentang aktivitas teater. Salah satu tokoh pendiri teater beta di awal tahun 1985 silam itu mengaku bahkan sampai sekarang masih selalu menggandrungi "teater" meski telah tak bersentuh dengan dunia akademik serta matangnya mengeja hiruk pikuk kehidupan. "Jika anda memang serius menekuni ini. maka saya jamin kalau anda akan "lelet" (lekat) dengan segala aktivitasnya, " tandas Kang Zaenal yang mengaku pernah menjadi juara II lomba baca puisi tingkat Nasional kala itu.

Kang Zaenal pun mengakui kalau di usianya yang sudah tergolong "masuk anginan" eksistensi fisiknya pun tak bisa dibohongi. Namun baginya, usia bukanlah alasan. Berkat semangat dan "olah rasa" yang begitu dalam hingga kini warga asli teater beta yang tinggal di Kecamatan Tugu itu masih "Gandrung Katresnan" dengan teater.

"Berteater itu menggiurkan. Tapi jangan keliru kalau itu seperti narkoba. Kalau narkoba Asyik karena dibikin asyik. Sedangkan teater asyik karena alamiahnya sendiri, " terang Kang Zaenal yang menjadikan acara malam itu semakin khusyu'.

Tak hanya itu, Kang Zaenal pun sempat menyentil tentang anggapan orang bahwa teater adalah aktivitas kumuh dan "menyeramkan". Dengan penuh semangat, Kang zaenal mengajak kepada seluruh warga yang hadir untuk menyatukan persepsi bahwa yang menjadi ikon teater bukanlah bentuk fisik namun lebih karena alasan proses kreatif sehingga menimbulkan hasil itu sendiri.

"Orang teater itu bukan celana bolong dan tak pernah mandinya, tetapi lebih pada hasil dari tak mandi dan celana sobeknya, " ucap Kang Zaenal.

Pada sesi terakhir, kang Zaenal memberikan suatu elaborasi tentang bagaimana seharusnya orang teater membuktikan eksistensinya dalam dunia kesenian. Maka sebagai seorang teaterawan harus punya kekuatan action yang di luar kemampuan banyak orang.

"Maka juallah keindahan yang bisa bikin orang-orang 'nglinguk' akan aksi anda, " pungkas Kang Zaenal.

Materi Ke-Beta-an Pra Workshop Teater Beta Semarang, Minggu (27/10)

[DWI ROYANTO TEATER BETA]

Minggu, 27 Oktober 2013

30 Warga Baru Teater Beta Dibekali Keaktoran



NGALIYAN- Suasana berbeda terjadi di workshop warga baru Kelompok Pekerja Teater Beta Semarang. Ketika puluhan anak tampil unik dengan berbagai pose yang menyerupai benda-benda alam sekitar.

Rupanya teknik-teknik materi keaktoran sedang diajarkan oleh salah satu pemateri workshop Ahmad Maghfur Anh salah satu seniman asal Kabupaten Batang. Peserta pun diajak melihat kondisi lingkungan, seperti batu, pohon, gedung bahkan burung-burung yang beterbangan saat sesekali dihempas angin.

Dengan memadukan teknik meditasi serta olah rasa aktor, pesertapun secara alamiah 'asyik-masyuk' dalam berbagai aktifitas alam menyerupai benda sebenarnya. Seperti pose tangan yang melambai-lambai ketika melihat objek pohon yang diseront angin, pose tengkurap dengan mata meneteskan air mata seperti batu yang diterpa hujan dan sebagainya.

Di sela materi, Aan panggilan akrab seniman asal Batang ini menuturkan, dalam teknik olah rasa, sang aktor harus menyadari dirinya secara mendalam. Sehingga ia dapat merespon apapun yang terjadi di alam sekitar.

"Karena syarat aktor tetaer harus mempunyai daya sensitifitas. Selain itu dia harus punya kemapuan mencipta atau daya imajinasi sehingga terlatih untuk merespon apa yang ada di sekitarnya, " kata dia, kemarin.

Selain keaktoran perserta pun dibekali berbagai materi lain, seperti; Keteateran, Penyutradaraan, Penulisan Naskah, Tata Cahaya, Tata Setting, Tata Rias, Manajemen Panggung, Design Grafis Baliho, Ilustrasi Musik serta Kesusastraan.

Workshop Keteateran sendiri diselenggarakan selama satu minggu penuh tersebut bertempat di lingkungan kampus Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) IAIN Walisongo dan Komplek Pariwisata Gedong Songo sejak tanggal 27 Oktober sampai 2 November 2013.

Uniknya, dengan konsep 'Kampoeng Seni' ini lokasi bakal disetting berupa miniatur pedesaan, atau perkampungan. Bagi peserta dan panitia akan berada di lokasi dengan dibatasi daerah atau "zona acting" di lokasi WorkShop. Maka bagi siapa saja jika berada di dalam daerah "zona acting" baik peserta, panitia, narasumber maupun tamu, akan mendapat peran atau casting penokohan serta nama baru.

"Hal itu untuk mengasah kemampuan keaktoran bagi warga baru teater beta, " pungkas Aan. [Dwi Royanto Teater Beta]

Sabtu, 26 Oktober 2013

GADIS CANTIK DI BALIK GANJAR


CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari peranan perempuan kelahiran Jakarta 19 Desember 1990 silam. Ya, Cindy Tachibana, gadis cantik yang multi talent ini merelakan waktunya untuk membantu Ganjar dalam membuat design baliho dan stikernya sebelum pilgub lalu.
Wanita cantik yang punya hobby fotography ini ternyata tak menyangka bisa sampai di Semarang, Jawa Tengah. Bahkan ia mengaku sampai berminggu-minggu lamanya berada di Semarang. Berawal dari Rico Valentino, kakak kandungnya yang tak lain teman Ganjar sewaktu di UGM dulu. Singkat cerita, Cindy dikenalkan kepada Ganjar di Jakarta. Dari situ akhirnya ia memutuskan diri untuk menjadi relawan murni Ganjar yang mencalonkan diri menjadi cagub Jateng. Bahkan ia mengaku, tidak pernah mau menghitung-hitung berapa banyak dana yang dikeluarkan dalam menjadi relawan garuda.
Meski punya hoby fotography dan design garafis, namun bagi perempuan lulusan Universitas Dinus Internasional Malaysia itu tidak suka kalau dirinya difoto oleh orang lain. Ia menuturkan, setiap kali difoto orang lain hasilnya selalu saja tak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. “Jadi aku kurang PD aja kalau difoto, “ tukas Cindy yang tinggal di Permata Hijau, Jakarta Selatan itu.

Berada di Semarang telah banyak yang ia kerjakan menyangkut design cagub dan cawagub Ganjar dan Heru. Mulai dari Baliho, spanduk, stiker, iklan, brosur dll. Menurutnya, hal itu ia lakukan semat-mata karena ia melihat sosok Ganjar yang cerdas serta berbeda dan dianggap mampu memimpin jateng lebih baik.
Selama di Jawa tengah banyak acara Ganjar yang ia ikuti. Di antaranya, acara deklarasi, serta acara-acara ganjar di daerah-daerah dengan menyumbangkan pemotretan serta mendesign tiap acara yang telah ia kunjungi.
Bagi wanita yang memiliki tinggi badan 158 cm itu karya seni terutama design grafis haruslah memiliki konsep design yang khas. Termasuk pemilihan kontras warna dan bebas berkreasi. “Adapula beberapa karya dengan beberapa segmentasi, seperti yang aku buat untuk design-design mas Ganjar yang anak muda banget itu, “ ungkap Cindy
Ditanya mengenai alasannya sampai saat ini kenapa menjadi relawan yang menyumbangkan karya design dan fothographynya, ia menjawab untuk mengasah kreatifitas serta berharap memberi yang terbaik dengan memanfaatkan waktu yang sangat singkat.
Bahkan sampai saat ini, ia mulai tertarik dengan politik ketika secara langsung Cindy selalu bersentuhan dengan dunia politik secara nyata.
“Ketertarikan politik ada, ternyata beda dengan yang aku bayangin. Ketika melihat di media-media , di sana kurang enak. Dan sekarang beda deh, orang-orangnya pun tak sejelek yang aku pikir, “ kata Cindy dengan senyumnya yang sangat manis itu. [roy]


Sabtu, 20 Juli 2013

BESAR OLEH PENGALAMAN

MERRY HERLINA SARAGIH, Perempuan asli Semarang yang akrab dipanggil Herlina ini rupanya punya cara sendiri dalam melakoni berbagai aktivitas politik di Jawa Tengah.

Namanya kian santer seiring keberanian dan actionnya sebagai anggota DPRD.
Ia bahkan menorehkan namanya karena saat ini masih menjadi Ketua Fraksi Hanura di lingkungan DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Keberanian anggota Komisi B ini dalam memilih aktivitas politik rupanya telah tertanam semenjak masih kuliah di UNIKA Soegiyopranoto Semarang. Bahkan ketika ditemui di kantornya, dengan semangat yang luar biasa ia menceritakan beberapa kisah menarik seputar dunia politik yang ia terjuni semenjak tahun 2009 hingga sekarang.

Perempuan kelahiran Semarang, 9 Desember 1978 ini rupanya punya hoby menarik untuk mengisi kepenatan kerja yang ia jalani. Traveling ke daerah-daerah baru bersama keluarga membuatnya banyak menemukan inovasi dalam karir yang masih ia jalani. Bahkan 35 kabupaten kota di Jateng pernah ia sambangi untuk sekedar menemukan berbagai ide segar, pun suasana baru yang membangkitkan etos kerja.

Selain itu, hoby nya membaca buku dan koran ia anggap sebagai wahana dalam mengembangkan intelektualnya di berbagai bidang kehidupan. Yang lebih menarik, politikus Hanura ini ternyata pernah dibesarkan selama 10 tahun di Nusa Tenggara Timur. Berkat sang ayah, Herman Saragih yang selalu mengajari tentang bagaimana arti membaca, ternyata menjadikannya sosok perempuan yang akrab wacana.

"Selama 10 tahun di NTT dulu banyak suka dukanya. Bahkan kalau ingin baca koran aja pasti telat karena daerahnya yang memang jauh. Tetapi dari situ saya banyak belajar tentang kegigihan, " kenangnya saat bercerita tentang suka duka di NTT semenjak 1985-1995. [roy]

MENJADI PEMBERANI


UMI SANGADAH, pendek saja namanya. Bagi aktivis Nahdhatul Ulama (NU) di Jawa Tengah, siapa yang tidak mengenal perempuan berkelahiran Kebumen, 13 Juli 1988 ini. Di usianya yang masih tergolong sangat muda, namun namanya telah dikenal dengan menjadi Ketua PW IPPNU Jawa Tengah Periode 2013-2018.

Perempuan lulusan S1 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAINU) Kebumen ini rupanya telah sejak kecil menekuni seputar keorganisasian. Tak heran, ia yang juga pernah 'Ngangsu Kaweruh' di Ponpes Asy-Syarifah Mranggen Demak dan menempuh pendidikan formalnya. Di МΑ Futuhiyyah 2 Mranggen ini begitu mencintai seputar dunai keorganisasian.

Sejak 2008 lalu perempuan yang sampai sekarang masih memiliki status lajang ini pernah mencatatkan namanya sebagai sekretaris BEM STAINU Kebumen, Pengurus PC PMII Kebumen, 2009 dengan menjadi Pengurus PW IPPNU Jateng dan terakhir menjadi Ketua PW IPPNU Jateng yang baru dilantik beberapa waktu lalu.


Perempuan cantik yang tinggal di Jl Cemara 01 Karangsari, Kebumen ini pun bahkan terkenal 'berani' dengan menorehkan berbagai paradigma seputar keilmuan yang terus bergulir seiring perkembangan zaman. Baginya, perempuan tak harus 'lemah' dan menjadi 'konco wingking' yang hanya mengikuti apa kata lelaki. Namun dengan prestasi perempuan akan mampu membuktikan diri bahwa ia layak menjadi seorang pemimpin yang sanggup mengisi berbagai disiplin ilmu di berbagai bidang kehidupan.


Ketika dilantik menjadi Ketua PW IPPNU Jateng ia sempat mengatakan pentingnya peran kaum perempuan terpelajar dalam membangun bangsa dan mempertahankan NKRI.

"Di tengah berbagai kasus korupsi, degradasi moral dan miskinnya keteladanan, hendaknya pelajar NU Jateng mampu mendinamisasi keadaan dengan intelektual, spiritual dan moral sebagai upaya mempersiapkan pemimpin masa depan, " tegas perempuan asli Kebumen ini. [roy]

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...