dering arloji
tepatnya beriring kepergian
tangistangis tetangga
menyisakan bulan sabit
di tiap ketukan pintu
negeri yang menunggu.
aku pernah bermalam di sana
berminggu-minggu lamanya
belajar angka nol
sampai menghitung suara derap kuda
lekat rasanya merupa.
setibanya di sungai seberang
ku rasa laut merah dipandang
seperti kisah lama
yang sering ku baca
ada peradaban tercecer di sana
juga kerinduan atas nama cinta
saat musa membawa bala
diterjang tentara ke negeri surga.
wanita cantik ku jumpai
temani malam menderu tawa
bertutur tentang keluarga
gembala sapi dan domba
sungguh tiada terkira
kurasa diriku lupa akan siapa
pemilik senyumnya
tapi ku hafal benar wangi tubuhnya
hitam rambut yang terurai
bagai bidadari mayapada
dan aku mencintainya.
Semarang, 23 Januari 2010.
Jumat, 16 Desember 2011
Minggu, 11 Desember 2011
Tentang Usia
aku mengenali angin ini
seringkali mampir di dadaku
tersirat abjad apik
setiap detik dan dingin
yang rasuk hingga tulang rusukku
beku tanpa selimut
menyambut bagai geguritan
riang setika menyela
pelepah pisang di kebun
lambaikan tanganya untukku
dan laras yang ditiup angin
semampai bagai segopoh tubuh
memeluk igaku yang renta
aku ini pertapa tua
duduk di pertigaan angin
coba tata hati
tak goyah dalam sepi
yang temani.
oh, angin
selimuti aku di rerantara
di rentaku yang hina
bahkan nasipun ku sambangi
daging ini tuapun jua.
Semarang, 27.01.11
Minggu, 04 Desember 2011
Matahari Lalu
matahari telah gagap
sinarnya redup sejenak
saat angin membawa debudebu
dan air beterbangan ke hulu
matahari telah lupa menyapa
binatang kecil yang hijrah
ke dasar samudra
rumputrumput tumbuh subur
tapi esok mati
di gusur sosok baru
yang lahir belakangan.
Merumahlah matahari
dengan sayapmu menjulang
betapapun kekuasaan
pastilah hilir secuil kerakusan.
meramahlah matahari
bersama bintang saat malam
seberapapun rapuh
ada yang memelukmu
di setiap petang.
jalan usang berlumpur
hancur menuai peradaban baru
yang lalu ditinggal
esok membangun kuasa baru
karena yang lama adalah masa lalu
diburu pun jika perlu
tapi jangan dilupakan
karena ia bagian darahmu
dulu berjuang mencari makan
walau kadang tergelincir rerumputan.
Semarang, 05.02.11
sinarnya redup sejenak
saat angin membawa debudebu
dan air beterbangan ke hulu
matahari telah lupa menyapa
binatang kecil yang hijrah
ke dasar samudra
rumputrumput tumbuh subur
tapi esok mati
di gusur sosok baru
yang lahir belakangan.
Merumahlah matahari
dengan sayapmu menjulang
betapapun kekuasaan
pastilah hilir secuil kerakusan.
meramahlah matahari
bersama bintang saat malam
seberapapun rapuh
ada yang memelukmu
di setiap petang.
jalan usang berlumpur
hancur menuai peradaban baru
yang lalu ditinggal
esok membangun kuasa baru
karena yang lama adalah masa lalu
diburu pun jika perlu
tapi jangan dilupakan
karena ia bagian darahmu
dulu berjuang mencari makan
walau kadang tergelincir rerumputan.
Semarang, 05.02.11
Jumat, 02 Desember 2011
Angin Untukmu
cintailah angin ini sayang
meski berhembus tak tentu arah
barangkali ia hadir menyusuri hatimu
yang sedang galau
selepas hujan dalam terik tadi pagi.
restuilah tembang alam sayang
mungkin saja ia sumbangkan kenangan
menghibur lara hatimu
kala kemarin kau menangisi
abjadabjad cinta
dan melarik bungabunga musim gugur
di pundakku.
sesaplah madu rindu ini sayang
ku tetes bersama alunan angin
lewati satusatu seruling rinduku.
ijinkan aku memanahmu
dalam deru yang kian syahdu
walau kadang rinduku biru
tak tentu mana arah yang dituju
tapi aku mencintaimu.
wangi benar angin siang ini
seperti kisahmu di pesan masukku
walau kadang parau
aku tak pernah mengigau
karena lawatan cintaku
adalah butiran mega
merupa bersama langit
di hujan sore nanti.
nanti dulu sayang,
jangan dulu kau dermakan wangimu
karena angin masih menikmatimu.
ada yang masih inginnya pandangi
mungkin kemarin telah luput
atau juga lupa dipungut
dalam sesaat yang mengikat
perjamuan kita
semogakah abadi.
Semarang, 19.02.11
Bulan Kembar
kenangaku,
lihatlah di sana
bulan kembar merupa
sinari parasmu yang tersenyum simpul
tatkala rambutmu dibelai angin
mesra membawamu rumahi malam.
wahai kenangaku,
tak ada yang lebih abadi
selain bulan kembar malam ini
ia jelmakan senggama di pucuk cemara
saat burungburung menari ceria
dan hujan gerimis terlukis
basah ku cium debudebu
yang sedari kemarin malas menunggu
ini malam bulan melarik kata
kirimkan ribuan sajak untukmu
kenangaku.
hijau ku tanam di kalbu
bersemi bungabunga
larut tak dibajak waktu.
Semarang, 19 Februari 2011
Air Mata Batu
perjalanan yang lama itu
datang dan pergi tak pamit
semalam sempat bermukim di otakku
dan sesloki minuman
menuntun butiran harapan
sekedar ku punguti di jalanan.
demi sebongkah ambisi
aku terbang jamahi satu demi satu mega
ku sesap warnanya
dan ku lempar ke dasar samudera
lalu ku tembangkan nyanyian rindu
sembari sungai di kedua mataku
dingin dan beku.
karena kesedihan
kesederhanaan menapaki pundak kita
ketika tak terhitung berapa
kita langkahi mayatmayat saudara kita
namun air mata bukanlah hakikat
yang hakikat adalah kesadaran.
saat ini cucuran air mata
hanyalah batu tak bernyawa.
Semarang, 20 Februari 2011.
SIAPA
benarkah negeri ini sedang dilanda sakit?
berayun bendera dikibarkan
ada yang matimatian berjuang
demi kebenaran
ada yang ikutikutan turun ke jalan
bahkan ada yang sekedar menonton
laksana hiburan
dan aku,
hanya menonton televisi.
kita adalah tontonan yang ditonton
menonton saja sering dicibir monoton
katanya, hidup harus dibeli.
lantas bagaimana para pemimpin menyikapi?
jika hidup harus dibayar
siapa juga yang harus menawar
rakyat bukanlah dagangan pasar
dan pemimpin kita bukan tercipta
untuk selalu benar.
tak usah bertanya
tentang kebenaran dan kesalahan
sebelum kau menjadi salah
dan menyalah.
Semarang, 20-02-11
berayun bendera dikibarkan
ada yang matimatian berjuang
demi kebenaran
ada yang ikutikutan turun ke jalan
bahkan ada yang sekedar menonton
laksana hiburan
dan aku,
hanya menonton televisi.
kita adalah tontonan yang ditonton
menonton saja sering dicibir monoton
katanya, hidup harus dibeli.
lantas bagaimana para pemimpin menyikapi?
jika hidup harus dibayar
siapa juga yang harus menawar
rakyat bukanlah dagangan pasar
dan pemimpin kita bukan tercipta
untuk selalu benar.
tak usah bertanya
tentang kebenaran dan kesalahan
sebelum kau menjadi salah
dan menyalah.
Semarang, 20-02-11
Ku Tunggu
ku tunggu kau sedari tadi
sampai ku tertidur
walau cuma lima menit
waswas ku nanti
sambil ku tengok jam dinding
yang antri lewati detakan detik.
ku tunggu kau dengan harap berpacu
nafaspun melongo
membuat gerutan di kedua mataku
terkantuk pula buku harianku
olehmu.
dari mu ku penggal waktuku
masa depan yang menunggu
kisah yang terpisah.
tapi, kau belum jua tampak
di nanar mataku.
dan saat ini jam dinding
masih malas menunggu.
aku lupa,
kau dosen terbaikku.
Semarang, 21.02. 11
Langganan:
Komentar (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...






