Minggu, 29 Januari 2012

Dialog Tuhan



tuhan, jika kau ijinkan
aku akan tetap mencintai negeri ini
meski kau ambil separuh tanahku
dan kau derma samudera pada tetangga
karena ijinMu aku berpangku

tuhan,
jika kau ijinkan
kan ku rajut kembali tali silaturahmi
walau telah benar perpecahan mendiami
si kaya dan si miskin tak saling kenali
dendam dan amarah menyantuni
namun karena ridhoMu
pastilah ku semai kembali

tuhan,
negeriku bernama Indonesia
kau cipta kaya budi dan karya
juga sabar menebar sebar
syukur meluhur tutur
demi asmaMu masuklah engkau kedalam nadiku
ridhoilah jalan menuntunku
dalam bayang yang tetap berpacu
negeriku berada damai di jalan Mu

peluh yang tiap kali menetes ini
ada dikala ikhtiarikhtiar kami
merapat dalam shafshaf kiblat
saling jinjing agar negeri patut dijunjung
hanya itu yang sanggup kami sanjung
untuk Mu tuhanku.

Semarang, 29 Januari 2012

Majulah Nak,


majulah nak,
meski hanya sejengkal
kejarlah terus kemana perginya bayanganmu
jangan berhenti diangka yang sama
jadikan pencarianmu wujud bukan jumud
bukan pula kau yang hanya bertekuk lutut
pada bayangmu sendiri di waktu malam

menangislah jika itu mampu menggubah letihmu
menjadi bara yang esok menyala
menarikan karya dihuni rasa
menjadi pijak adikmu esok lusa

ku temani kau melarik lagu
tentang rindu di rumah madu
mogakah manis kan melaris
dan pahit kan terbirit
kala fajar melamarmu.

Semarang, 29 Januari 2012

Bidadari Bermata Biru

kau bidadari bermata biru
kayuh langkah tanpa segudang pilu
kala dalam sendau ada seutas deru
melarak riuh hati yang kemarau
kemudian lahir tata krama di sana

inikah semangkuk hujan yang kau buat
memecah kemilau mata biru menderu
indahkan nyanyian sayup rindu tertiup angin
lalu angan pinangkan sayap hujan
temu shilah jiwa rekahkan langkah
agar saat mata dibuka
adalah engkau ramu jejakmu
untukku. . .

Semarang, 29 Januari 2012

Sabtu, 28 Januari 2012

Bersulang Kenyataan

sesloki anggur untukmu
seteguk kopi untuk kita
mari bersulang irama
berupa rangkaian kata merupa
saat itu kita mabuk bersama
mengiring di sampingnya kenyataan
tak beri jeda dalam perjamuan kita
malam ini,

aku kira kalian telah hanyut
sepatah kata mirip sekali pepatah
kalian torehkan tepat di dada kiriku
seketika aku rebah seperti entah
dan mengigau,




jalan kita menukik tajam
tak ada daya aku di rajam
dalam jejakjejak jejal
menjejal,

kita berada di waktu senja
dimana sepasang ikan mengkaitkan rakit
dan hulu di paritparit penduduk
tak tahu jalan pulang,

tiba-tiba latar telah berganti
kini kita bergurau di suatu surau
terlihat jelas sebuah alir sungai yang enau
kemudian serentak ababil menghujam api
jadilah kita dan surau itu remahremah
melumpur dan menjadi tanah

terhentak kita pun terbangun
menghela nafas yang saling berpapas
setelah suara terompet memekik telinga
lalu saut istighfar dimana-mana

Semarang.25.05.10

Upacara Langit


yang dititipkan dalam setiap dadalah tiang yang bengkok
laju dalam anyam katakata
namun ranum mengembara dalam laku
dan setiap sukma telah tertulis apik
terapit di ambang kedukaan
karena sejengkal itulah bagianya

selembar daun lontar titipkan salam tuhan
bukti tak ada yang abadi dari penciptaan
makhluk adalah sesuatu yang wujud
hanya tinggal tanggal yang sebentar lagi purna
sirna dan hanya ada yang tunggal
mentitah tanahtanah baru

sebentar lagi ada upacara langit
dari nyawa yang gagap tanda
membasuh kelamin sang saka
yang telah cemar oleh nodanoda
disucikan kembali sedari pucuk sampai jarijari hina
setelah rahim yang dipaksa melumat maklumat umat
sampai pada lahir bayibayi negeri yang keramat

Semarang.06.06.10

Bingkisan yang Terlupa


pada kancah yang dahulu kau ceritakan padaku,
tentang petang meramu rindu
nampak jelas nanar mata mega berbinar, menjaga langitnya sendiri
lalu pada celah langit, mengapit tujuh alam yang belum sempat dihuni
aku mampu menatapnya dari pucuk sumbing
walau terasa sumbang imanku mengait langit
aih...setidaknya bukan hanya ikrar mengkristal semacam ini
namun ikhtiar sedari ku pijakkan jari kakiku di semak belukar

manusia akan kembali ketanahnya sendiri
baik dan jahat, lahat akan tetap terpahat
dan kenapa tangan tak meski terikat rapat, bersanding para malaikat yang melafaldz ayatayat

lalu kenapa masih dicari setitik mukswa
kalau rajaraja api tertulis pasti
juga sorot mata indah bidadari surga
merebah pada dada penuh bara

mari kita melakoni diri
sembari harap, esok angin masih merelakan di hirup
juga harap tak mematri janjinya
semoga,


Semarang, 11 Juni 2010

Minggu, 22 Januari 2012

Bidadari Malamku

kau bidadari malamku
sejenak singgah di nanar mataku
lewati tembang siul senyum mengalun
tertegun rasuk melamar binar langit hari ini

kini telah menjadi ayatayat keindahan
dalam lekuk alismu memoles rintik
bidadari diambang cinta mengiya
ku papah lewati deru nafas kala berpapas
dan aku mengagumimu
bukan sekedar tanya seutas lalu
lalu menjadi batubatu di ujung temu
kau bidadari malamku
terbelalak angin ribuan musim
disana ku sempat terpaku
memamah retinamu dan gelitik candu
agar aku mencintaimu.

Semarang, 22 Januari 2012

Guru Semalam


butiran peluh menetes di bajumu
masuk kembali ke poripori lenganmu
tak sekali mengaduh
saat mereka buat gaduh

di tepian usiamu yang kian garang
kau usap sendiri peluhmu
dan terus menuntunku

katamu,
hanya kepada-Nya lah akhir tujuan purna
dan semua kian sirna


April 17'04'10

Selasa, 03 Januari 2012

Kaukah Itu


kaukah itu
terpancar dengan nanar di wajahmu
menyisir bolabola waktu yang ku panjat
sedari hari yang memakna dua
hingga jingga nampak berkilauan di ujung senja
matamu menukilkan kail di kedua retinaku
dan melarung jasad sampai tak kuasa ku tatap

kaukah itu
jelma jalma dalam semangkuk bubur
lembut menyentuhku dalam pinangan
saat kita bercerita tentang megamega
lalu kau julurkan tanganmu disana
serasa kau payungi aku dalam sebuah bejana
yang mirip sekali pernikahan surga
saat itu pula aku tak kuasa kepakkan sayap
karena separuh iga ku serasa kau derma dalam dirimu

kaukah itu
kelebat mahkota yang syarat makna tersirat
karena kau berada di pucuk timang mayapada
dan aku harus menyeru dewadewa
dalam cakap imaji sekelumit mantra
diam mu membawaku pada tepian bintang yang telah lama temaram
walau kupaksa sua, namun hatimu masih terpejam

kaukah itu
ku coba baca detik waktu dalam sebuah cawan
dan ku harap iba mu menuntun ku pada khalaqah bidadari
serta ku pilih engkau menjadi sesosok dewi
ku jadikan rahim mu, sesuci maryam melahir isa
dan ku kudus kan cintamu kepada semua jemaat
agar diammu mampu mereka ta'wil
agar pula ta'wil itu di jadikan kail
yang mereka pegang disetiap petang
saat senja memanah sepasang ikan

Semarang.09.07.10

Surga Terasing


tahukah kau
surga yang dulu pernah di ceritakan
kini mulai mengendap pada sebongkah suratan
ia berikan namanya sendiri
tentang cinta dan takdir tuhan

malam itu aku mulai mencintainya
saat fajar menukar terik
dan lebam di sekujur tubuhku hampir tak terasa
saat itu ia coba tiupkan seruling rindu
dari pucuk mega yang hanya selintas
ia telah benarbenar tawarkan duka
dari sesimpul senyum yang memancar di dada

entah bagaimana sepenggal itu kujadikan cerita
namun hangat tubuhmu masih juga ku rasa
sedetail itu ibaku melerai naluriku sendiri
karena kelopak jelaga itu tak hanya memakna dua
namun ranum yang mengalun memapah pula
pun bantaran kali itu benarbenar nyata
walau hanya sekelumit tanda
dan dukaduka mengulum timang tanya
dan terus menanya

kali ini aku mencoba berjalan di atas bayanganku sendiri
setiap derap menjadi payung
saat hujan menghempas papas kita kali terakhir


Semarang, 15 juli 2010

Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar

Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...