Selasa, 29 November 2011
Sketsa Rindu
ku tulis sajak ini
untukmu,
mungkin daundaun berguguran
telah iba di hujani perpisahan
ranting telah keriput
dirayu hembusan angin
tersakiti matahari
yang enggan mengajaknya senggama.
begitupun sajak rinduku,
adalah aku terlalu faqir
menghafal tiapan abjad
yang tergores di bibirmu
teramat dalam luka
mengawal sentuhku
sampai tak ku ingat
lembaran desahmu
pada abjad selamat jalan.
setelah malam itu
kemana larinya suarasuara karibku
apakah menjelma ketakutan
debudebu liar di jalanan
pasrah pada derap langkah
dan mengukur nasib
yang kadang sulit.
inilah sketsa rinduku
ku kupas sehabis termangu
sembari pungut lisong
di pojok kamar
harap sulut keteguhan
lalu asap pun mengepul di udara
terlukis juga namamu.
Semarang, 02.03.2011
“REPUBLIK GORO-GORO” NYA TEATER BETA
Selalu ada yang baru di pementasan teater beta Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang. Proses demi proses selalu terukir apik di setiap pementasannya. Pada kamis (17/03/11) di Aula MAN Kendal gemuruh tawa penonton yang tak kunjung berhenti selama 1 jam 45 Menit membuat warna sendiri di benak siswa dan para guru yang menonton pementasan tersebut. Pasalnya sebuah naskah bertajuk humor pendidikan yang bertemakan “Republik goro-goro” dengan judul U.B.A.N (Ujian Bareng Akhir Nasional), karya Sugiarto ini terkesan cair dan menggelitik dengan aktor Petruk (Sugiarto), Gareng (Azam), semar (Ridho), Bagong (Rony), Togok (Roby) dan Mbilung (Agung). Tentunya pementasan ini tak lepas dari sang kreator khas dengan lawakan kesehariannya yaitu sang sutradara Slamet Irfan yang sering disapa Namex.
Pementasan dibuka dengan pementasan dari teater STESA MAN Kendal yang mengangkat tema pendidikan dengan judul “Bayang Jingga” naskah/sutradara Aslam yang sekaligus menjadi pengelola teater STESA. Ini memberi kesan bahwa semangat berteater SMA pun tak mau kalah dengan teater di perguruan tinggi.
Menurut lurah beta M. Rosul Khamzah, “pementasan ini memang dikhususkan kepada para siswa untuk sekedar memberi warna tersendiri dengan hiburan pementasan teater di sela-sela kesibukan belajar mereka dalam menghadapi ujian akhir nasional tahun 2011” katanya. Kemudian dengan semangat berkesenian teater beta memberanikan diri untuk membawa pementasan tersebut ke SMA-SMA di Semarang dan sekitarnya. Dan ini disambut baik oleh para jajaran guru dan siswa.
M. Munif selaku Pimpinan Produksi menambahkan “ Ini adalah Republik goro-goro nya pendidikan. Jadi selain pementasan ini bertujuan untuk memberikan kritik pendidikan kepada khalayak ramai melalui teater komedi “Satirisme komedi”, juga untuk memperkenalkan sekaligus memberi wacana tentang dunia panggung (teater) kepada para siswa SMA” tuturnya.
Selanjutnya pada (18/03/11) pementasan yang kedua akan di gelar di Auditorium kampus 1 IAIN Walisongo Semarang pada pukul 19.00 WIB. Pementasan kedua ini turut juga mngundang para Civitas akademika kampus IAIN juga semua teater kampus dan pegiat kesenian di Semarang dan sekitarnya. pementasan yang berlangsung di kampus IAIN sendiri itu kembali diserbu oleh ratusan penonton yang memang telah lama mendambakan dan menanti dengan harap pementasan tersebut. tak khayal selama kurang lebih satu setengah jam penonton dibuat perut sakit dengan celotehan-celotehan khas dari para aktor dalam penokohannya. sebut saja tokoh Bilung yang diperankan oleh Ade Agung ini, ketika ia memerankan tokoh jin dalam ceritanya ia begitu luwes dan alami memakai gestur tubuh yang menunjukkan kebodohan dalam permainan lawaknya. sehingga tokoh ini begitu membuat kesan sendiri di mata penonton malam itu.
Yang lebih menaarik lagi dari pementasan malam itu adalah diskusi sehabis pementasan. Para peserta diskusipun begitu asyik masyuk dalam hal membahas tema, wacana, dan konsep pementasan pada malam itu. Banyak pertanyaan dan saran yang menarik, salah satunya dari penikmat seni dari IKIP PGRI, IAIN dan dari UNDIP. Kalangan itu begitu serius membahas tema yang dibawakan serta memberi komentar " sebenarnya Republik Goro-Goro ini hanya memunculakan sempalan kecil dari wacana pendidikan, namun dari hal yang kecil ini memunculkan perbincangan baru di benak semua orang dan bahkan kita alami sendiri di kehidupan akademik" tutur salah satu mahasiswa IAIN Fakultas Tarbiyah malam itu. **RSSP
Rabu, 23 November 2011
Rumah Kita
ada apa dengan rumahku ini
tak berisik juga tak sunyi
mengambang pada gemercik hujan
petanda langit gelap terbaca.
rumahku di huni ribuan malaikat
setanpun terasa ribuan berkelebat
menduduki jiwa yg diingini
dan akupun
ada di rerantara
antara janji dan pasti
mengkebiri datang dan pergi
yang lainpun menyempatkan sua
bersama setan dan malaikat
meracik satu persatu abjad
kemudian mendirikan kiblat
dan mencari jamaat.
ada apa dengan pekaranganku
tak seperti biasanya
dirundung rasa ingin tahu
tak pernah belajar
namun ingin sejajar dengan para cendekiawan
tak pernah mencari
namun mencuri kalimat
mudah dilakukan.
sama juga seperti negeri ini
gemah ripah pun dikata mencuri
ketika jaya masih saja ada curiga
bahkan diam saja disangka apatis
kontroversi
solusi
demokrasi
demonstrasi
politisi
oposisi
organisasi
satusatu tereja setiap hari.
dan kita,
masih ada cinta
di rumah kita.
Semarang, 23.03. 2011
Selasa, 22 November 2011
Merinduimu
aku yang berkeluh kesah
tentangmu
tentang rapuhku meminangmu
dan galaunya hati
saat senyum itu simpul
malam ini,
akulah yang bosan
ditunggui waktu
dan mesin kerja yang menanti
sehabis pintamu
saat ku sapu air mata
di pipimu yang meragu
malam ini juga,
masih ku panggil namamu
begitukah mungkin selayaknya rindu
serta ku temani engkau
melarik penantian
di pesan masukmu
karena aku merinduimu.
SEMARANG, 23.03.11
tentangmu
tentang rapuhku meminangmu
dan galaunya hati
saat senyum itu simpul
malam ini,
akulah yang bosan
ditunggui waktu
dan mesin kerja yang menanti
sehabis pintamu
saat ku sapu air mata
di pipimu yang meragu
malam ini juga,
masih ku panggil namamu
begitukah mungkin selayaknya rindu
serta ku temani engkau
melarik penantian
di pesan masukmu
karena aku merinduimu.
SEMARANG, 23.03.11
Senin, 21 November 2011
Tentang Kegelapan
berbicaralah tentang bintang
yang berkedip untukmu
di kala malam datang
pastilah muncul kegelapan
dan ceritacerita dulu
di antara kotakota
yang pernah terjamah.
berbicaralah padaku
dengan bahasa malam gulita
bahasa kepenatan
dan anjing bulan
apa yang hendak memaki keadaan
saat jelas kesalahan dan kebenaran.
kegelapanlah yang membawa
orangorang malam
menghitung satusatu bintang
dan kendaraan yang lalu lalang
akupun tak kuasa melawan
segalanya telah menahan
bahkan tak mungkin padam
karena kegelapan,
membawa seabrek pertanyaan.
SMG.25. MARET.2011
yang berkedip untukmu
di kala malam datang
pastilah muncul kegelapan
dan ceritacerita dulu
di antara kotakota
yang pernah terjamah.
berbicaralah padaku
dengan bahasa malam gulita
bahasa kepenatan
dan anjing bulan
apa yang hendak memaki keadaan
saat jelas kesalahan dan kebenaran.
kegelapanlah yang membawa
orangorang malam
menghitung satusatu bintang
dan kendaraan yang lalu lalang
akupun tak kuasa melawan
segalanya telah menahan
bahkan tak mungkin padam
karena kegelapan,
membawa seabrek pertanyaan.
SMG.25. MARET.2011
Kamis, 17 November 2011
Malam Sebatang Kara
ini malam sebatang kara
tak ada satupun sapa dari siapa
anjing dan bulan tak nampak mesra
hanya kicau hantu merupa
lara yang semakin gelora
angin meronta di tiapan lampu kota
hendak kemana ia meraja
semua bertanya
karena malam sebatang kara
dan hujan kerdil di sana.
malam yang sama
aku melihat berlembar-lembar buku
terduduk di persinggahan
merintih di selasela malam
_yang panjang
dan sebatang kara
mengais kata-kata
dari teman yang biasa disenggama
jutaan makhluk mengkedipkan mata
ingin kais tata krama
lewati malam yang sama.
Semarang, 10 April 2011
Perkawinan Bunyi Suluk Rampak Pertiwi
MENJAMURNYA group musik baru di belantika musik nasional nampaknya dinilai miskin ide. Cenderung hanya bersifat bisnis, bahkan hanya sedikit yang mampu menciptakan karakter. Pasalnya, musikalitas maupun syair seolah lepas dari perhatian oleh pelakunya. Band-band baru pun bermunculan ibarat jamur di musim hujan, namun setibanya pergantian musim, jamur itu pun musnah entah ke mana. Banyak group band tak memperhitungkan kualitas.
Itulah sebab mengapa komunitas ini melahirkan kelompok musik kreatif bernama “Suluk Rampak Pertiwi” yang diawaki oleh Kelompok Pekerja Teater (KPT) Beta Semarang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.
Pimpinan group musik Suluk Rampak Pertiwi, Dwi Royanto mengatakan bahwa karya seni hendaknya “membebaskan”, sehingga tidak hanya menjadi bentuk apresiasi namun ekspresi dari endapan perenungan. “Bagi kami, musik adalah menyederhanakan sesuatu yang berada di sekitar kita. Baik dari isi pesan maupun komposisi bunyinya,” katanya, di sela latihan, kemarin.
Royan menambah, secara komposisi, corak musik Suluk Rampak Pertiwi adalah menyuguhkan arransemen bunyi yang unik dan syair-syair yang menggelitik dengan tema sosial, politik, lingkungan, alam dan cinta. Selain itu memasukkan alat-alat musik tradisional seperti angklung, rebana, dan gamelan.
“Kami mencoba mengawinkan beberapa gabungan bunyi apapun. Kadang menggunakan barang bekas, sampah ataupun melibatkan suara sepatu penonton, suara riuhnya penonton atau apa saja. Kami berjuang keras menyetir suara-suara itu hingga terjalin paduan yang selaras. Baik dan buruk itu urusan belakangan,” katanya.
Sementara itu Lurah Teater Beta Semarang, Muhammad Rosul Hamzah mengatakan Suluk Rampak Pertiwi hanyalah sebagai wadah ide-ide para anggotanya dalam mengendapkan ide-ide liarnya. “Bukan hanya lirik lagu yang mengusung isu-isu politik nasional saja. Namun juga tentang cinta akan kerukunan hidup antar umat beragama,” tandasnya.
Seperti halnya terdendang dalam lagu berjudul “Damai di bumimu,” memotret bagaimana seharusnya hidup di tengah perbedaan agama itu asyik. Berbeda keyakinan namun mampu hidup adem-ayem, rukun, tentram dan damai. Hamzah menjelaskan, group Suluk Rampak Pertiwi ini berdiri sejak 2003 silam. “Group ini didirikan oleh Abdul Mughis Dkk, senior Teater Beta generasi tahun 2000,” tambah Lurah Teater Beta.
Hingga saat ini, sedikitnya mempunyai 22 koleksi lagu ciptaan sendiri. Mengusung genre musik kreatif. Dengan memaksimalkan perkawinan bunyi antara alat tradisional dengan alat musik modern.
Beberapa waktu lalu, kata Hamzah, group musik kreatif yang digawangi Ipang Baihaqi pada (lead guitar), Amink (keyboard), Rosul (drum), Royan (seruling), Kaka (bass), Badri, A’an, Bleki, Ana (Perkusi) dan tim paduan suara ini, sempat eksis di acara-acara kebudayaan, di antaranya pentas seni antar agama di balaikota yang diselenggarakan rutin setahun sekali, pentas partisipan, pentas produksi dan beberapa kali pentas di gedung Pemerintah Provinsi Jateng.
Rupa-rupanya, jam terbang atau job yang musiman itu tak menjadikan mereka ciut nyali untuk tetap berkarya di tengah gegap gempita kapitalisme bermusik, hingga sekarang. Atau malah justru menjadikan Group Suluk Rampak Pertiwi ini terasah dalam menciptakan identitasnya?
Dipentaskan atau Tidak, Tetap Berkarya
Berkesenian bagi warga Teater Beta tak jauh beda dengan menanam cabe atau menggali pasir. Tak ada yang lebih penting atau istimewa. Seni seolah menyatu dalam aktifitas sehari-harinya. Padahal sebagaimana diketahui mereka di bawah naungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang yang berbasis keagamaan.
Seperti halnya di dalam Teater Beta terlahir group musik kreatif Suluk bernama Rampak Pertiwi. Berkarya dimengerti sebagai pendidikan dasar seni yang terus dilakukan dari generasi ke generasi. "Dipentaskan atau tidak, kami terus berkarya aja. Dengan cara itulah Suluk Rampak Pertiwi melakukan pendidikan seni di Teater Beta," papar wisudawan asal Wonosobo ini.
Lebih lanjut dijelaskan Royan, komposisi pemain dalam group Suluk Rampak Pertiwi alami racikan sendiri. Pasalnya, hampir semua pemain mulai dari nol tentang pengetahuan musik. "Bahkan banyak pemain yang awalnya belum bisa main musik hingga akhirnya bisa memainkan, kemudian mengarang musik. Kita hanya berguru pada alam, lingkungan dan pengamatan," kata Royan. (***)
Berawal dari Lisong
selamat datang kegelisahan
mampirlah sejenak di sepertiga malamku
sembari ku pungutkan satu demi satu lisong
untuk waktu sahurmu detik ini
dan ku temani engkau
bersama nyamuk-nyamuk yang susah tidur
menanti darah yang lalai
ditunggui pemiliknya.
selamat pagi para pelacur
yang menghuni kasur lusuh
ditinggal para pelanggan.
berbagilah selayaknya manusia
tiap kali butuh kasih tuhannya
seperti halnya binatang
dengan naluri ia makan
dan menjaga dirinya sendiri
untuk mencari kedamaian.
malam yang begitu miskin
adalah di mana tak ada satupun batin
untuk mencari
_apalagi berbagi
kepada siapapun yang empunya nyawa.
kepada siapa aku bertanya,
saat beribu-ribu kegelisahan
tak ada jawaban dari siapa.
sekali lagi ku ucapkan selamat datang kegelisahan
lalu ku suguhkan imaji nakal
dan sepotong kue kemarin lusa
menemani kerinduanmu pada kedamaian
__untukku saja
dan mungkin esok,
matahari menertawaiku
lewat sinarnya yang layu
diterpa hujan
saat datang siang hari.
Semarang, 12 April 2011.
Rabu, 16 November 2011
Pesta yang Tertinggal
sengaja ku bunuh hari ini
ku penggal tiapan tanggal
dan ku remuk hujan yang mengambang
untuk pemuja hakikat pertemuan.
aku hidup bukan untuk tunggal
juga entah mereka kata
dalam abjad yang berlembar
demi selembar daun
yang ku huni di dasar hati
telah benar ku bunuh dalam sunyi.
ceritakan padaku
tentang hari esok
sesaat setelah kau gumuli masa lalu
dan berpesta kembang api
tanpa aku.
Semarang,30 April 2011
Senin, 14 November 2011
Rindu yang Tertinggal di Halaman
isteriku,
ku pilihkan rindu yang teramat cantik ini
yang ku tanam sekian lama
dan ku pilihkan halaman yang teramat teduh
_di hatimu
meski hujan kadang tak sesederhana
cinta kita
namun tak jua ku jamakkan rindu
walau orang berulang kali melamar
tiapan waktu.
isteriku,
malam telah benar berlalu
namun hati masih selembut lentik jarimu
takkan keriput kala purnama masih lantang
bersanding dengan bintang
meskipun kini
hujan meratakan rintik
di halaman yang dulu
terlupa petir di ujung dermaga.
Semarang, 29 April 2011
ku pilihkan rindu yang teramat cantik ini
yang ku tanam sekian lama
dan ku pilihkan halaman yang teramat teduh
_di hatimu
meski hujan kadang tak sesederhana
cinta kita
namun tak jua ku jamakkan rindu
walau orang berulang kali melamar
tiapan waktu.
isteriku,
malam telah benar berlalu
namun hati masih selembut lentik jarimu
takkan keriput kala purnama masih lantang
bersanding dengan bintang
meskipun kini
hujan meratakan rintik
di halaman yang dulu
terlupa petir di ujung dermaga.
Semarang, 29 April 2011
Istighfar
ku tulis sajak ini
untukMu tuhan,
yang acapkali mendengar panggilMu saja
syarat dengan beribu alasan.
aku telah faqir membuka kembali lembaran buku itu
lembaran yang kau isyaratkan rindu kepada kekasihMu
dan aku pahami sebagai butiran nyawa
namun hanya menyebut namaMu saja,
tak sampai ku mampu
_apalagi merinduiMu.
Semarang, 06 Mei 2011
Sabtu, 12 November 2011
SERAMBI INI
aku rindu dia
tepat di tepian halaman
dengan serambi dan keramik basah
bersanding beberapa gelas kopi
dan wadah panganan
aku rindukan dia
cantik yang mekar di daun jendela.
sunyi ini yang membawa
suara jangkrik memecah purnama
_dan cinta kita.
aku di sini merinduimu
walau tak sama rasa
dengan basah di ujung baju
aku inginkanmu
mencintamu
dalam gemercik sunyi
begitupun sawah-sawah yang payah
menunggui pelepah dingin
_yang indah.
Kendal, 14 Mei 2011.
Sirip Rembulan
ia lah kenangan
kala laut mulai berSaut
menyanyikan lagulagu
tentang nenek moyang
yang biasa berdendang
tentang indahnya sirip rembulan
ikanikan yang mulai ramah
meramah kail dan jaring.
seperti layaknya malam ini
kata orang bulan gondrong di sana
nampak senyum layaknya angin
dan para nelayan
menggendong sirip rembulan
nampak pula di bibir pantai
senyum merekah anak dan isteri
_betapa indah malam ini.
Semarang, 16 Mei 2011
Kamis, 10 November 2011
Sepertinya
aku akan menemukanmu
walau hatimu terselip di rerantara hujan malam ini
parasmu tercuri denting piano yang lembut kau sentuh
namun akan ku pilihkan senyum yang amat sederhana
seperti kata yang hinggap di pucuk daun basah
lalu jatuh terbawa selentik air
dan mengalir di jari-jari kita.
sesederhana itulah mungkin perasaanku malam ini
karena berapa saat tak ku temu hakikat
dan bulan terpenjara di sana
tertutup mega-mega
yang tak jelas warnanya
apalagi kata.
Wonosobo, Mei 2011
walau hatimu terselip di rerantara hujan malam ini
parasmu tercuri denting piano yang lembut kau sentuh
namun akan ku pilihkan senyum yang amat sederhana
seperti kata yang hinggap di pucuk daun basah
lalu jatuh terbawa selentik air
dan mengalir di jari-jari kita.
sesederhana itulah mungkin perasaanku malam ini
karena berapa saat tak ku temu hakikat
dan bulan terpenjara di sana
tertutup mega-mega
yang tak jelas warnanya
apalagi kata.
Wonosobo, Mei 2011
Langit Mengingatnya
jasadmu mungkin telah ranum
tercuri gelisahku di hujan ini
dan aku takut tuk memulai lagi
gembalai puluhan kata
untuk melukis betapa
saat ini aku mencintaimu.
tak sehelai benangpun aku lupa
tentang dulu yang telah berlalu
rambutmu yang berdesir kemerahan
tersambar sapaku
di serambi waktu itu
lalu ku bisikkan kalimat salam
menyusur udara malam
dan langitpun lekas berunding
sisipkan kelopak bunga
di hatiku.
mungkin malam ini pun
angin merupa janji
dan titipkan imaji
sampai aku masih mengingatmu.
SMg,'11
tercuri gelisahku di hujan ini
dan aku takut tuk memulai lagi
gembalai puluhan kata
untuk melukis betapa
saat ini aku mencintaimu.
tak sehelai benangpun aku lupa
tentang dulu yang telah berlalu
rambutmu yang berdesir kemerahan
tersambar sapaku
di serambi waktu itu
lalu ku bisikkan kalimat salam
menyusur udara malam
dan langitpun lekas berunding
sisipkan kelopak bunga
di hatiku.
mungkin malam ini pun
angin merupa janji
dan titipkan imaji
sampai aku masih mengingatmu.
SMg,'11
Sketsa Hati
aku melihatnya sayang,
sorot mata yang begitu dalam
acap kali bentuk ruang di retinaku
sesampai aku malu mengungkap hasrat
dingin terasa di dada
entah perasaan yang mana
hinggalah aku tak hafal memulai kata
tertup tatat yang berkaca.
aku mencintaimu bukan tanpa sengaja
ialah jeda yang tak tercuri oleh raga
dan kata yang tak terlarik oleh irama
hanya hati yang tuna
berlembar ketakjuban yang entah dari mana.
Semarang, 25 Mei 2011
Semaumu
bukan karena aku tidak tahu
merunduk kemudian diam terpaku
bukan juga kekakuanku pada yang berhak
karena akupun punya hak
mengawal setiap ucap
yang keluar dari kepalsuan itu.
aku dahulunya janin
sama sepertimu
lahir dan dibesarkan dengan keringat waktu
dan mencari arah
melangkahi bermacam rintang
sama sepertimu.
tuhan takkan pernah merasa bosan
apalgi malas merindu
dan mencipta
dengan segala
maka manusia,
tak ada guna menyalah sangka
pada sesama.
Semarang, 08 mei 2011
merunduk kemudian diam terpaku
bukan juga kekakuanku pada yang berhak
karena akupun punya hak
mengawal setiap ucap
yang keluar dari kepalsuan itu.
aku dahulunya janin
sama sepertimu
lahir dan dibesarkan dengan keringat waktu
dan mencari arah
melangkahi bermacam rintang
sama sepertimu.
tuhan takkan pernah merasa bosan
apalgi malas merindu
dan mencipta
dengan segala
maka manusia,
tak ada guna menyalah sangka
pada sesama.
Semarang, 08 mei 2011
Senyum Manis di Bawah Pohon
Pagi benar mentari mengatupkan sinarnya tepat disebelah ranjang peristirahatanku hari ini. Serasa terasa persekongkolan waktu mengusik menunggangiku dalam persetubuhan perjalanan atas nama masa depan. Kucelucuti selimut mimpi yang kusadari benar, aku harus membalikkan mimpiku malam tadi kepada realisme hidup yang menantang sejarah.
Anak sejarah hilang arah, mengukir masa menarikan potensi masa silam, memutar tenaga bersama kenyataan. Ku pahat sejarahku lewat pepohonan tepat dibelakang rumahku yang berjajar disepanjang jalan.
“kata orang jalan pahlawan” padahal aku sendiri tak pernah tahu asal muasal jalan dibelakang rumahku diberi julukan itu.
Semakin percaya diri hari menyambutku dengan lambaian pepohonan menyisipkan tawa gambar-gambar para petinggi negeri pengabdi masyarakat. Katanya.
Namun duniaku menganga, menghentak otakku dalam pemberontakan watak.
“kenapa rimbunan pohon tadi menangisi perjalananku menyambut masa…?” gumamku.
Hampir disetiap langkahku meniti hari gumam itu terbelit dalam fikirku. Memulai merangsang kepenatan yang mnanti solusi. Setiba aku bersandar tepat dibawah pohon jati, yang kata ayahku,
”pohon itu warisan dari simbah buyutmu, untuk masa depan kamu nanti nak…”
serentak pohon itu memelukku dengan erat dan mengalirkan bisikan lirih ditelingaku.”
kalau saja kau kata anak sejarah hilang arah, aku kan mengeluhkan nasibku nak…pohon sejarah menangiskan getah darah, tertikam gambar-gambar senyuman politisi masa demi masa yang kian membunuh, tercabik konsitusi buta para pecinta keangkuhan yang mengatas namakan pecinta lingkungan. Padahal sebuah keculasan.
Makin erat tubuhku dipeluknya, terasa sekali kepedihanya membuncah waktu itu. Namun kenyataan yang ku lihat hanyalah warna-warni polesan janji-janji kata, seabrek misi untuk rakyat. Saat itu gambar tak lagi terlihat sebagai senyum manis yang elok dipandang, namun berubah menjadi paras monster dalam film ultraman yang menghancurkan kota demi kota bahkan hutan. Satu injakan seribu kematian. Manusia, tumbuhan, hewan dan segunung kesengsaraan.
Ku usap keringat menetes dibilik wajah, menempel tepat dikulit pohon jati yang menangis keras. Makin lama makin keras. Tak lagi kusadari apakah burung-burung parkit itupun menangisi keberadaan pohon-pohon itu, yang telah tertipu keadaan, ditipu arah sejarah. Dipermalukan oleh janji lamis senyuman pemuja keserakahan.
Semakin lama butiran-butiran waktu berlalu. Pohon itu masih saja memeluk erat tubuhku dengan resah dan mendesah. Entah, apa yang sedang tergambar dibalik kulit-kulit kering rerimbunan hijau yang penuh paku itu.
“andai saja para perintis sejarah mampu menafsirkan sejuta duka laramu, mereka kan tercekik mematung diantup tangisan tawon-tawon kemiskinan atas kebusukan senyum mereka sendiri…” gumamku.
Namun darah telah membuncah….
Takkan terlihat lagi sepasang burung parkit berwarna keemasan bertengger diatas ranting hijaunya pepohonan tanpa usik. Kalau saja sesama makhluk mulai beradu nasib atas kuatnya arus global, pohonlah yang akan terprosok mengibakan nasibnya.
“Biarkanlah daging-daging kayuku diukir dengan rintihku yang penuh pikir, karena ini takdir. Itu justru lebih baik daripada hanya menjadi tontonan monyet-monyet berdasi yang saling beradu senyum menantikan dukung. Yang ada hanyalah saling mencekik, saling memotong dan saling berjoged diatas tumpukan-tumpukan kebahagiaan semu. Kebahagian yang hanya sejengkal pluralisme kekuatan warna-warni nomor yang hanya sepenggal sejarah.”
Wahai lukisan petinggi ibu kota yang memaku………
Akan kalian bawa kemana lagi deretan tembok-tembok tanah ini, setelah kalian perkosa alam dengan taring-taring penghimpit ranting yang terus meruncing. Masihkah sorban-sorban putih itu kalian tanggalkan diatas pundak-pundak bertengerkan punuk daging-daging yang terus diadu.
Masih tergambar betul dalam ingatanku lantunan abjad lamis yag menipu,
” Rakyatku sekalian…atas nama lingkungan mari kita tanam seribu pohon, agar bumi kita terhindar dari mara bahaya….”
Khotbah yang berbalik serakah,
Kalian sembunyikan wajah berlumur darah kalian dengan topeng-topeng bencana. Dramatis dan sadis..! beitulah ulah para monster bermuka lumuran getah-getah yang terus mendarah bernama manusia kuasa, budak uang dan kelamin, budak kata-kata……..!!!
Masih saja kalian tersenyum dibawah pohon warisan simbah buyutku……..”
Anak sejarah hilang arah, mengukir masa menarikan potensi masa silam, memutar tenaga bersama kenyataan. Ku pahat sejarahku lewat pepohonan tepat dibelakang rumahku yang berjajar disepanjang jalan.
“kata orang jalan pahlawan” padahal aku sendiri tak pernah tahu asal muasal jalan dibelakang rumahku diberi julukan itu.
Semakin percaya diri hari menyambutku dengan lambaian pepohonan menyisipkan tawa gambar-gambar para petinggi negeri pengabdi masyarakat. Katanya.
Namun duniaku menganga, menghentak otakku dalam pemberontakan watak.
“kenapa rimbunan pohon tadi menangisi perjalananku menyambut masa…?” gumamku.
Hampir disetiap langkahku meniti hari gumam itu terbelit dalam fikirku. Memulai merangsang kepenatan yang mnanti solusi. Setiba aku bersandar tepat dibawah pohon jati, yang kata ayahku,
”pohon itu warisan dari simbah buyutmu, untuk masa depan kamu nanti nak…”
serentak pohon itu memelukku dengan erat dan mengalirkan bisikan lirih ditelingaku.”
kalau saja kau kata anak sejarah hilang arah, aku kan mengeluhkan nasibku nak…pohon sejarah menangiskan getah darah, tertikam gambar-gambar senyuman politisi masa demi masa yang kian membunuh, tercabik konsitusi buta para pecinta keangkuhan yang mengatas namakan pecinta lingkungan. Padahal sebuah keculasan.
Makin erat tubuhku dipeluknya, terasa sekali kepedihanya membuncah waktu itu. Namun kenyataan yang ku lihat hanyalah warna-warni polesan janji-janji kata, seabrek misi untuk rakyat. Saat itu gambar tak lagi terlihat sebagai senyum manis yang elok dipandang, namun berubah menjadi paras monster dalam film ultraman yang menghancurkan kota demi kota bahkan hutan. Satu injakan seribu kematian. Manusia, tumbuhan, hewan dan segunung kesengsaraan.
Ku usap keringat menetes dibilik wajah, menempel tepat dikulit pohon jati yang menangis keras. Makin lama makin keras. Tak lagi kusadari apakah burung-burung parkit itupun menangisi keberadaan pohon-pohon itu, yang telah tertipu keadaan, ditipu arah sejarah. Dipermalukan oleh janji lamis senyuman pemuja keserakahan.
Semakin lama butiran-butiran waktu berlalu. Pohon itu masih saja memeluk erat tubuhku dengan resah dan mendesah. Entah, apa yang sedang tergambar dibalik kulit-kulit kering rerimbunan hijau yang penuh paku itu.
“andai saja para perintis sejarah mampu menafsirkan sejuta duka laramu, mereka kan tercekik mematung diantup tangisan tawon-tawon kemiskinan atas kebusukan senyum mereka sendiri…” gumamku.
Namun darah telah membuncah….
Takkan terlihat lagi sepasang burung parkit berwarna keemasan bertengger diatas ranting hijaunya pepohonan tanpa usik. Kalau saja sesama makhluk mulai beradu nasib atas kuatnya arus global, pohonlah yang akan terprosok mengibakan nasibnya.
“Biarkanlah daging-daging kayuku diukir dengan rintihku yang penuh pikir, karena ini takdir. Itu justru lebih baik daripada hanya menjadi tontonan monyet-monyet berdasi yang saling beradu senyum menantikan dukung. Yang ada hanyalah saling mencekik, saling memotong dan saling berjoged diatas tumpukan-tumpukan kebahagiaan semu. Kebahagian yang hanya sejengkal pluralisme kekuatan warna-warni nomor yang hanya sepenggal sejarah.”
Wahai lukisan petinggi ibu kota yang memaku………
Akan kalian bawa kemana lagi deretan tembok-tembok tanah ini, setelah kalian perkosa alam dengan taring-taring penghimpit ranting yang terus meruncing. Masihkah sorban-sorban putih itu kalian tanggalkan diatas pundak-pundak bertengerkan punuk daging-daging yang terus diadu.
Masih tergambar betul dalam ingatanku lantunan abjad lamis yag menipu,
” Rakyatku sekalian…atas nama lingkungan mari kita tanam seribu pohon, agar bumi kita terhindar dari mara bahaya….”
Khotbah yang berbalik serakah,
Kalian sembunyikan wajah berlumur darah kalian dengan topeng-topeng bencana. Dramatis dan sadis..! beitulah ulah para monster bermuka lumuran getah-getah yang terus mendarah bernama manusia kuasa, budak uang dan kelamin, budak kata-kata……..!!!
Masih saja kalian tersenyum dibawah pohon warisan simbah buyutku……..”
Larinya Sejarah Negeri
kemana larinya sejarah negeri
kala mata hina ini bimbang
antara tangis dan menyanyi
sebab lagu-lagu kelu
tertancap di lidah-lidah suci
di manakah kesalehan
yang lama dicari para pengamen
pedagang dan para politisi?
_mungkin saja sembunyi
di kolong riuh para pendemo
atau mengalir deras di sisasisa rahim merapi
segalanya menanti.
kakek buyut kami pernah berjanji
"atas nama perjuangan, kami cinta bumi pertiwi"
kami bertanya,
siapa sebenarnya pertiwi?
_apakah dia ladang sawah
yang terus di gali para petani
mungkin juga koin-koin yang terkumpul
di tangan ankanak jalanan
tapi sebagian ada yang di korupsi
oleh jas megah dan dasidasi
_kami semua mencari.
dimana larinya sejarah negeri
seketika kisah kami dijarah bertubi-tubi
dan matahari menampakkan lemahnya
diguyur hujan semenjak pagi.
esok berbondongbondong pasukan ke utara
mengarak peti mati saudaranya yang mati
lusa ada mayat hidup berlari dari selatan
menghisap darah segar
saat semua orang tak kenal sabar
dan pemangsa itu,
saudaranya sendiri.
Semarang, 10 Novemember 2011.
Membait Hidup
telah ku tulisan ratusan bait
pada ribuan bahasa badan
dan putih yang belum sepenuhnya mewarna.
sementara di kejauhan mata
masih banyak yang belum terbaca
sungguh penggalan bait
merenik hadapi janji langit
terurai tapi pun tak segalanya.
aih... inilah yang dikata hidup
bukan usai terhitung usia
bukan pula bait yang membelit
ia hanya tinggal
di ubun-ubun
dan saban ketuk hati yang mengutuk.
berbuat baiklah
sakitlah untuk sebait kata
kala adil mengambil kembali khilaf
dan senja berebut sepotong roti.
Semarang, 10 November 2011
pada ribuan bahasa badan
dan putih yang belum sepenuhnya mewarna.
sementara di kejauhan mata
masih banyak yang belum terbaca
sungguh penggalan bait
merenik hadapi janji langit
terurai tapi pun tak segalanya.
aih... inilah yang dikata hidup
bukan usai terhitung usia
bukan pula bait yang membelit
ia hanya tinggal
di ubun-ubun
dan saban ketuk hati yang mengutuk.
berbuat baiklah
sakitlah untuk sebait kata
kala adil mengambil kembali khilaf
dan senja berebut sepotong roti.
Semarang, 10 November 2011
Tak Ada Rembulan
tak ada rembulan mencangkul tiapan sawah dan ladang
tak ada rembulan tersenyum tipis di meja makan
bersama keluarga dan anak-anak jalanan
semua berebut menuliskan kisah
meraba langit yang telah gagap
bahkan sunyi yang dibuat-buat
begitu juga bulan malam ini
ia telah tiada bersamaan keluh
dan kesah setiap peluh yang menetes.
selagi sempat,
sertakan juga nasi-nasi yang esok dicari
di trotoar dan gang-gang sempit
mumpung rembulan malam ini berbaik hati
kepada setiap pejalan.
berikan pula baju kehormatan
untuk para penguasa
agar esok tak lagi lupa
akan seabrek agenda yang telah ditata
mogakah tak lagi ada
anak-anak yang lupa menghitung bintang
bayi-bayi tenggelam di selokan
sekolah bocor tak ditunggui gurunya.
tak ada rembulan malam ini
bila esok masih gelap
dan lampu kota masih gemerlapan.
Semarang, 17 Juni 2011
Detik yang Malas Menunggu
sempat ku menangisi ketakutan
tentang pejalan yang tak kunjung menemu
deras hujan di akhir juni
menanda pasti kering yang teramat lama
begitulah perasaan hati
tak jelas kemana
disambut pula api di daun telinga
walau dingin jelas tereja
aroma tetangga mengarak suara
detik jam yang tak kunjung terhenti
segalanya padu
dan menunggu.
Wonosobo, 02 juli 2011
tentang pejalan yang tak kunjung menemu
deras hujan di akhir juni
menanda pasti kering yang teramat lama
begitulah perasaan hati
tak jelas kemana
disambut pula api di daun telinga
walau dingin jelas tereja
aroma tetangga mengarak suara
detik jam yang tak kunjung terhenti
segalanya padu
dan menunggu.
Wonosobo, 02 juli 2011
Percakapan Shubuh
dua jalma bersua
di percakapan shubuh, lalu
datanglah guratan masa lalu
juga angan yang teranyam
dua jalma mengeja santun
tetangga bingung menghitung harga. di sisi lain
jual beli jasa merebak
sulit ditebak.
kemana larinya kunang-kunang
kala malam ia senggamai sendiribegitulah mungkin layaknya pertemuan
datang dan pergi silih berganti.
Semarang, Agustus’11
Malam Rapuh
ku tulis catatan ini
kala hujan tehenti
tepat tengah malam
ketika langkah enggan mengeluh
dan hati sempat jatugj
di kubangan kalimat.
detik ini aku merindu
pada dekap matamu
namun mataku,
tertutup tetes hujan
yang terhenti sejam lalu.
aku di ambang ketunaan
melawan sepi tak berkesudahan
aku malu mengungkap hasrat
pada wanita yang sempat lekat
walau sesaat bukanlah janji
di kedamaian yang mengisi.
Smg, 21 okt ’11
kala hujan tehenti
tepat tengah malam
ketika langkah enggan mengeluh
dan hati sempat jatugj
di kubangan kalimat.
detik ini aku merindu
pada dekap matamu
namun mataku,
tertutup tetes hujan
yang terhenti sejam lalu.
aku di ambang ketunaan
melawan sepi tak berkesudahan
aku malu mengungkap hasrat
pada wanita yang sempat lekat
walau sesaat bukanlah janji
di kedamaian yang mengisi.
Smg, 21 okt ’11
Senin, 07 November 2011
Seruling Perindu
kini benar-benar hadir
sapa mesra seruling perindu
memekik setiap kuping
alunan haru dan rindu
telah kupinang aroma bisikmu
wahai seruling perindu
dari janin yang esok lahir
bagaimana aku tak mencintaimu
sedang tiap detik kau dentangkan sunyi
melewati irama
menjadi rima
tercipta bait-bait kata bernama puisi
kelak ku gubah tarian angin waktu itu
kala riuh menyemai air
telaga warna di desaku
dan kubiarkan kau mengalun disana
hingga aku pinang petikan nada
dan kau menyambutnya
untukku,
teduh mu jelmakan kail
saat ku canda ikan-ikan kecil
_ditelaga itu
sampai kujumpa bidadari alam
nantikan seruling perindu
dan disana
"ada aku"
penuhi panggilan nasib
bersama gema seruling rindu
sesampai seruan petang
kita masih jumpa
dan bermimpi pada indahnya pematang
adalah realita hidup
;yang harus kita kunjungi
aduhai seruling rinduku
akankah kau selalu setia bersamaku
bersama badut malang darah daging alam
yang kian mengeja kematian
demi usia yang kian matang
setelah itu
aku segera kembali
memenuhi seruan takdir
_tanpamu
Semarang, April'10
sapa mesra seruling perindu
memekik setiap kuping
alunan haru dan rindu
telah kupinang aroma bisikmu
wahai seruling perindu
dari janin yang esok lahir
bagaimana aku tak mencintaimu
sedang tiap detik kau dentangkan sunyi
melewati irama
menjadi rima
tercipta bait-bait kata bernama puisi
kelak ku gubah tarian angin waktu itu
kala riuh menyemai air
telaga warna di desaku
dan kubiarkan kau mengalun disana
hingga aku pinang petikan nada
dan kau menyambutnya
untukku,
teduh mu jelmakan kail
saat ku canda ikan-ikan kecil
_ditelaga itu
sampai kujumpa bidadari alam
nantikan seruling perindu
dan disana
"ada aku"
penuhi panggilan nasib
bersama gema seruling rindu
sesampai seruan petang
kita masih jumpa
dan bermimpi pada indahnya pematang
adalah realita hidup
;yang harus kita kunjungi
aduhai seruling rinduku
akankah kau selalu setia bersamaku
bersama badut malang darah daging alam
yang kian mengeja kematian
demi usia yang kian matang
setelah itu
aku segera kembali
memenuhi seruan takdir
_tanpamu
Semarang, April'10
Berita "Geger di Negeri Wadang" Di Seputar Indonesia
Wayang kloning merupakan dinamika berkesenian dan upaya adaptasi seni di tengah modernisasi.Wayang kloning lahir dari sebuah eksplorasi dan pengembangan dari seni wayang yang sudah pakem.
Setidaknya, itulah yang dikatakan Dwi Royanto, salah satu penggagas pertunjukkan Wayang Kloning. Dwi merupakan anggota dari Teater Beta, kelompok teater kampus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.Ya, lewat pementasannya, Teater Beta mencoba menyuguhkan konsep anyar seni pentas, yakni Wayang Kloning.
”Lewat pementasan wayang kloning ini, kami berusaha membuktikan pada masyarakat luas, khususnya pada penontonnya bahwa wayang itu tidak monoton, tidak terkesan berat bahkan mahal.Ya,menginovasi cerita wayang dengan lebih fresh agar tidak monoton, membosankan, karena pada hakikatnya wayang adalah tuntunan, tidak sekadar tontonan,” paparnya.
Dwi mengaku harus berpikir ekstra keras untuk mengonsep sebuah pertunjukkan wayang kloning. Eksplorasi ideide baru yang digabungkan dengan beberapa unsur-unsur yang dia punyai dengan komunitasnya musik, ide humor, hingga inovasi kostum, gerak, serta dialog.”Tujuannya yaitu, agar wayang lebih fresh di tengah modernitas,”ucapnya.
Dwi menegaskan konsep yang diusung tetap sebuah pementasan wayang, tapi berpijak pada roh dan konsep pakem pementasan yang sudah ada. Dari segi penggarapan, memang masih perlu banyak belajar. Hasilnya tidak tanggungtanggung.
Pada pementasan berjudul Geger di Negeri Wadang Wayang Kloning tersebut dibawa pentas keliling 3 kota, yakni Semarang pada (18/10), Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) pada Kamis (20/10), dan di Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (22/10). Suguhan para awak Teater Beta ini memantik perhatian banyak pihak. Mulai apresiasi, kritik pedas, hingga pujian hangat pun terlontarkan.
Menurut pengamat dan kritikus teater Day Milovich,terlepas dari persoalan teknis dan keaktoran, konsep yang dibawakan sudah cukup bagus. Meskipun cerita sering dibalut pesan politik yang cukup banyak, itu tidak mengajak orang untuk mempertanyakan sesuatu. eka setiawan
Setidaknya, itulah yang dikatakan Dwi Royanto, salah satu penggagas pertunjukkan Wayang Kloning. Dwi merupakan anggota dari Teater Beta, kelompok teater kampus Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.Ya, lewat pementasannya, Teater Beta mencoba menyuguhkan konsep anyar seni pentas, yakni Wayang Kloning.
”Lewat pementasan wayang kloning ini, kami berusaha membuktikan pada masyarakat luas, khususnya pada penontonnya bahwa wayang itu tidak monoton, tidak terkesan berat bahkan mahal.Ya,menginovasi cerita wayang dengan lebih fresh agar tidak monoton, membosankan, karena pada hakikatnya wayang adalah tuntunan, tidak sekadar tontonan,” paparnya.
Dwi mengaku harus berpikir ekstra keras untuk mengonsep sebuah pertunjukkan wayang kloning. Eksplorasi ideide baru yang digabungkan dengan beberapa unsur-unsur yang dia punyai dengan komunitasnya musik, ide humor, hingga inovasi kostum, gerak, serta dialog.”Tujuannya yaitu, agar wayang lebih fresh di tengah modernitas,”ucapnya.
Dwi menegaskan konsep yang diusung tetap sebuah pementasan wayang, tapi berpijak pada roh dan konsep pakem pementasan yang sudah ada. Dari segi penggarapan, memang masih perlu banyak belajar. Hasilnya tidak tanggungtanggung.
Pada pementasan berjudul Geger di Negeri Wadang Wayang Kloning tersebut dibawa pentas keliling 3 kota, yakni Semarang pada (18/10), Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (UMM) pada Kamis (20/10), dan di Universitas Muria Kudus (UMK) pada Sabtu (22/10). Suguhan para awak Teater Beta ini memantik perhatian banyak pihak. Mulai apresiasi, kritik pedas, hingga pujian hangat pun terlontarkan.
Menurut pengamat dan kritikus teater Day Milovich,terlepas dari persoalan teknis dan keaktoran, konsep yang dibawakan sudah cukup bagus. Meskipun cerita sering dibalut pesan politik yang cukup banyak, itu tidak mengajak orang untuk mempertanyakan sesuatu. eka setiawan
S A R I M I N
Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…
Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.
pemusik-opening.jpg
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.
tukang-cerita-bag-awal.jpg
Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.
Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.
Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.
Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah, misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu, kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo. Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…
Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”
TUKANG CERITA:
Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno, langung ingat wisata kuliner… mak yuss…
Musik memberi tekanan dan membangun suasana…
TUKANG CERITA:
Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.
Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja diselenggarakan oleh Gubernurnya.
Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…
Tukang Cerita itu mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya. tukang-cer-jadi-sarimin.jpgDan mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian Sarimin…
TUKANG CERITA:
Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…
Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam “asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…
TUKANG CERITA:
Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas, kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit tersedia lengkap di badannya.
Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu, sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat. Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya, saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!
Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah Sarimin…
Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP. Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…
Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu, padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya itu kepada para pemusik…
SARIMIN:
Ini KTP siapa, ya? Ada yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh.. Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?
Para pemusik berceloteh menangapi, merasa tak kehilangan dompet atau KTP. Lalu Sarimin mencoba bertanya kepada para penonton…
SARIMIN:
Maaf, Bu… Pak… Ada yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk gelap… Ini KTP sampeyan bukan?
Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”
Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan, bertanya pada para penonton sekali lagi,
SARIMIN:
Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak ada yang merasa kehilangan KTP?
Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada namanya…, nanti kan tahu itu KTP siapa?!”
Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya bibirnya yang komat-kamit…
SARIMIN:
Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah, gimana kalau sampeyan yang bacain…
Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”
SARIMIN:
Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses… Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…
Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa baca?”
SARIMIN:
Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…
Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”
SARIMIN:
Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…
Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan, siapa?”
Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak, mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba sebutkan kalau berani…”
SARIMIN:
(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!
Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”
SARIMIN:
(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu, pemimpin Hastina! Dia kan tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan, biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya dipenjara…
Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.
sarimin-nemu-ktp2.jpg
SARIMIN:
Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor Pulisi… Dari pada repot, kan mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya…
Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…” teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.
Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.
Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…
2.
Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…
SARIMIN :
Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…
Mendadak nongol sosok Pulisi, yang langsung sibuk mengetik begitu mengetahui kedatangan Sarimin. Maka Pulisi itu pun tampak terus sibuk mengetik…
sarimin-ketemu-polisi.jpg
SARIMIN:
Wah…, Pak Pulisinya ternyata lagi sibuk… Sibuk kok ya mendadak ya…
Pulisi itu terus mengetik, mengabaikan Sarimin.
SARIMIN:
Ya sudah…, biar saya tunggu saja…(Lalu menjauhi Pulisi itu, sementara suara mesin ketik terus terdengar, membangun suasana) Yah, lumayan…, sambil nunggu bisa numpang istirahat… (Sembari memijit-mijit kakinya yang terasa pegal-pegal atau sesekali meregangkan badan atau mengeluk pinggangnya) Lagi pula saya juga lagi males keliling… Udah dari pagi keluar masuk kampung, tapi nggak ada yang nanggap. Capek juga kan seharian keliling tapi ndak dapet duit…
Sarimin mengeluarkan sebiji pisang dan mengupasnya. Kemudian terdengar suara monyet, yang nangkring di kotak topeng monyet itu. Monyet itu merajuk minta pisang yang dimakan Sarimin itu…
SARIMIN:
(Bicara pada monyet itu) Apa? Pingin?… Iya, iya…, nanti saya bagi…
Sarimin mengambil monyetnya dengan penuh perhatian, memangku monyet itu…
SARIMIN:
(Sambil mengelus-elus monyetnya, bicara kepada penonton) Oh ya, kalian belum kenal toh sama monyet saya ini… Lah ya ini yang namanya Sarimin… Kalau saya dipanggil Sarimin ya cuman karna kena efeknya saja… Itu disebut The Sarimin Effect…
Monyet saya ini bukan monyet sembarangan lho… Kalau ditelusuri garis keturunannya, dia itu keturunan monyetnya Si Badra Mandrawata…
Para pemusik heran: “Siapa itu?”
SARIMIN:
Si Buta dari Gua Hantu…
Suara monyet itu terdengar senang, seperti meloncat-loncat. Sarimin mulai menyuapi monyet itu dengan pisangnya.
sarimin-nyante-di-kanpol.jpg
SARIMIN:
Nih, kamu separo…
Tampak pisang yang dibaginya itu lebih kecil. Monyetnya tampak senang. Tetapi, begitu mau menyuapkan pisang itu ke monyetnya, pisang itu malah dimakan Sarimin sendiri. Hingga monyet itu berterak-teriak. Tapi Sarimin terus mengunyah pisang itu buat dirinya sendiri…
Melihat itu, Para Pemusik pun berkomentar: “Was, Mase ini, sama monyetnya sendiri kok pelit! Medit!”… “Sudah persis kayak monyet lho Mase ini kalau makan pisang gitu!”…”Ngirit, ya Mas?”
SARIMIN:
Kalian itu jangan salah faham. Ini bukan ngirit! Saya makan pisang begini ini karna saya lagi nglakoni ngelmu munyuk!
Tahu ngelmu munyuk, ndak? Ngelmu munyuk itu ya ilmu kebajikan yang bersumber dari munyuk. Ada kitabnya! Namanya Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk.
Sarimin segera mengambil sebuah buku tua dari kotak topeng monyetnya…
SARIMIN:
Nah ini kitabnya… Ilmu soal permonyetan ada di sini semua. Kenapa manusia disebut keturunan monyet, ada penjelasannya di sini. Juga soal Jaman Monyet… Nih… (membaca halman kitab itu) hamenangi jaman monyet. Sing ora dadi monyet ora keduman. Sak begja-begjane wong sing dadi monyet, isih luwih begja wong sing koyo monyet nanging kuoso…
Seorang Pemusik memotong: “Lho, kok mendadak situ bisa baca? Tadi katanya nggak bisa baca. Nggak konsisten!”
SARIMIN:
Ini aksara Jawa. Honocoroko. Kalau huruf Jawa saya bisa baca…
Gimana, mau tahu soal ngelmu munyuk, ndak?… Lihat nih, halaman 79… (membaca) Living English Structure… Lho, kok malah bahasa Inggris. Maaf, maklum saya belinya di loakan. Ini buku bajakan, jadi halamannya kecampur-campur. Nah, ini… halaman 67… Di sini dijelaskan, kenapa monyet suka pisang… Ini ada filosofinya. Ada maknanya.
Pisang itu buah yang murah. Artinya kita harus pemurah. Mau berbagi. Maksudnya, hidup kita itu seyogyanya ya seperti pohon pisang. Anda tahu kan pohon pisang? Setiap bagian dari pohon pisang itu semuanya berguna. Tangkai daunnya bisa ditekuk-tekut, dibuat mainan kuda-kudaan. Batang pohonnyanya buat nancepin wayang. Antok-nya, jantungnya, bisa dibikin sayur yang enak.
Celoteh Pemusik: “Kalau pelepahnya, Mas?”
SARIMIN:
Pelepahnya? Ya bisa buat mainan plesetan…. Daunnya bisa dipakai buat mbungkus… Atau bisa juga di pakai buat payungan kalau hujan. Bisa buat berteduh….
Berdasarkan ngelmu munyuk ini, pohon pisang sebenarnya mengajarkan kita agar tidak egois. Karena pohon pisang memang bukan pohon yang mementingkan dirinya sendiri. Pohon pisang itu beda dengan… pohon beringin, misalnya. Ini misalnya lho ya… Kalau Pohon beringin itu kan cuman mementingkan dirinya sendiri.
Kalian lihat sendiri kan, pohon beringin itu tumbuh besar, tinggi menjulang, rimbun, tetapi ia menyedot kesuburan pohon-pohon di sekelilingnya…
Celoteh Pemusik: “Ya, tapi kan Pohon Beringin bisa buat berteduh. Kan bayak itu kere-kere yang suka berteduh di bawah Pohon Beringin…”
SARIMIN:
Kalau yang suka berteduh sih bukan cuman kere… Tapi juga keple… lonte…
Makanya, kalau orang yang pinter, pasti ndak mau lagi berteduh di bawah Pohon Beringin. Seperti para Jenderal itu… Kan sekarang banyak Jenderal yang memilih membikin dan membesarkan pohon sendiri… Lebih senang membesarkan Pohon Gelombang Cinta… Seolah-olah mereka merasa masih dicintai rakyat.
Nah, kalau sampai ada Jenderal yang terus ngotot ikut berteduh di bawah Pohon Beringin, pasti agak diragukan kredibilitasnya: ini Jenderal apa lonte…
Membuka-buka halaman kitab itu dengan serius…
SARIMIN:
Makanya kalian mesti belajar ngelmu pisang. Pohon pisang itu selalu membiarkan anak-anaknya tumbuh besar. Sampeyan tahu, pohon pisang itu juga baru mati kalau sudah berbuah. Artinya, hidup kita itu berbuah. Mesti membuahkan kebaikan. Jangan sampai kita mati tapi belum sempat berbuat baik.
Celoteh Pemusik, agak meledek: “Kata siapa…”
SARIMIN:
Lah ya menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk ini… Kalau kalian baca kitab ini, pasti kalian ngerti ilmu sejati. Ini ilmu tidak main-main. Ilmu filsafat tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mempelajari. Otak anak-anak Jurusan Filsafat saja mungkin ndak nyampe kalau mempelajari ini. Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Pak Damardjati Supajar juga ndak level ama ilmu ini. Makanya mesti hati-hati. Karna bisa-bisa nanti kebablasen: begitu mempelajari ilmu sejati ini, langsung ngaku-ngaku jadi Nabi…
Ngelmu munyuk itu ilmu ketauladanan. Mangsud-nya, banyak ketauladanan yang bisa kita pelajari dari monyet. Karena kalau monyet suka pisang, sesungguhnya monyet itu sedang memberi kita tauladan hidup. Makanya, kalau sekarang ini ndak ada tokoh atau pemimpin bangsa yang bisa kita tauladani, kenapa kita ndak meneladani monyet saja? Ya, ndak?
Sementara itu terdengar suara ngorok…
SARIMIN:
Sudah ah, nanti saja lagi saya kasih tahu soal ngelmu munyuk-nya… (Seperti tersadar kalau sudah lama menunggu)… Dari tadi kok ya belum dipanggil-panggil ya….
Suara ngorok itu makin keras terdengar, ternyata datang dari Kantor Pulisi. Tampak ruangan kantor itu sepi, hanya terdengar suara orang tertidur ngorok…
SARIMIN:
Welah, Pulisinya malah ngorok…
Lalu Sarimin menuju meja jaga pulisi itu. Tak tampak pulisi. Hanya terdengar suaranya yang mendengkur keras…
SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya cuman mau nyerahkan KTP ini kok, Pak… Soalnya saya mesti pulang… Sudah sore….
Mendadak Pulisi itu bangkit, dan langsung sibuk mengetik. Terdengar suara mesik ketik yang langsung sibuk…
(SUARA) POLISI:
(Membentak, sambil terus mengetik) Tunggu saja dulu! Apa tidak liat saya lagi sibuk!
SARIMIN:
I..ya, Pak… Iya… Sibuk kok mendadak…
Pulisi terus terus mengetik, terus sibuk. Sementara Sarimin hanya bisa memandangi dengan tatapan tak berdaya. Merasa marah disepelekan, tetapi tak bisa apa-apa, hanya ngedumel…
SARIMIN:
Ama orang kecil kok ya selalu menyepelekan… Coba kalau ndak pakai seragam, sudah saya plinteng matane…
Sarimin hanya bisa menunggu. Tapi kemudian ia seperti sudah tak bisa menahan untuk kencing…
SARIMIN:
(Kepada penonton) Ee, tolong, nanti kalau Pak Pulisinya nyari, bilang saya kencing dulu ya… Ke toilet bentar.
Sarimin kemudian bergegas hendak ke toilet, tetapi mendadak terdengar bentakan:
(SUARA) POLISI:
Hai! Mau mana?!
SARIMIN:
Mau ke belakang, Pak…
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!… Nanti saya panggil!
Dengan terbungkuk-bungkuk sopan Sarimin akhirnya kembali duduk, tetapi tampak jengkel juga…
SARIMIN:
Gimana sih! Dari tadi cuman nyuruh tungga-tunggu… Mau kencing bentar ajah ndak boleh… Sok kuasa! Sok merasa dibutuhkan! Seneng kalau melihat orang menderita. Begitu kok ngakunya sahabat rakyat…
Sarimin tampak gelisah menahan keinginannya untuk kencing. Pada saat itu terdengar suara monyet yang menjerit-jerit, membuat sarimin gugup dan panik.
SARIMIN:
(Menenangkan monyetnya yang mulai rewel) Sstt! Jangan ribut, toh… Pak Pulisinya kayak buto galak. Nanti kamu dimarahin!
Monyet itu malah bertambah rewel, terus memekik-mekik.
SARIMIN:
(Terus berusaha menenangkan monyetnya) Apa? Haus? Pingin mimi, ya?
Mengambil botol air mineral dari kotak pikulannya, tetapi botol itu ternyata sudah kosong…
SARIMIN:
Wah, habis… Sabar, ya… Ntar minum di rumah saja ya… Cup cup cup… Bentar lagi kita pulang kok…
Tapi monyet itu makin rewel dan ribut…
SARIMIN:
Jadi monyet itu mbok yang sabar… Lama-lama kamu itu ketularan manusia lho! Ndak bisa nahan sabar! Dasar monyet asu!
Monyet itu terus memekik-mekik minta minum. Sarimin bingung. Ia melihat kepada Pulisi yang tampak sudah kembali tertidur bersandar di depan mesin tiknya. Melihat Pulisi yang lelap itu, maka Sarimin pun hati-hati menegendap-endap menuju toilet di bagian belakang…
Tampak silhuet Sarimin yang kencing, dan menadahi air kencingnya dengan botol.
Sarimin kembali muncul dan segera ia mendatangi monyetnya yang masih rewel. Dengan tenang Sarimin meminumkan isi botol itu ke monyetnya…
SARIMIN:
Nih minum… Enak, kan? Dijamin fresh from the batangan. Lagi ndak? Manis, kan? Lah wong saya kecing manis kok… Kalau gini ada untungnya juga lho kena diabet…
Sarimin terus meminumkan isi botol itu pada monyetnya, sampai kemudian monyet itu tampak tenang dan senang…
SARIMIN:
Monyet saya memang rada manja. Kalau sudah kepingin ndak mau ditunda. Paling repot ya kalu pas dia lagi birahi pingin kawin…
Seorang Pemusik nyeletuk bertanya: “Memangnya itu monyet jantan apa betina?”
SARIMIN:
Monyet jantang dong…
Pemusik: “Memangnya gimana sih caranya membedakan monyet jantan dan monyet betina?”
SARIMIN:
(Tampak sebel dengan pertanyaan itu) Ya gampang… Tinggal kamu kawinin. Kalau hamil, berarti monyet itu betina. Gitu saja kok repot! Mas, mbok kalau nanya itu yang cerdas, biar ndak bikin tambah jengkel… Maaf lho ya kalau saya jadi ketus… Kamu kan lihat sendiri, dari tadi saya sebel nunggu, lah kok malah ditanyain yang ndak mutu gitu! Sebel! Sebel! Sebelll!!! Makanya kalian jangan nambahin sebel saya…
Melihat Sarimin marah begitu, para pemusik langsung diam. Suasana jadi tidak enak. Sarimin hanya diam, gelisah, bingung nggak tahu mesti berbuat apa. Sampai kemudian Sarimin mengeluarkan beberapa alat atrasksi topeng monyetnya. Memain-mainkan payung kecil, gerobak kecil, dan lainnya. Mencoba membunuh kegelisahannya. Mencoba menyibukkan diri. Tetapi ia tetap merasa gelisah karena terus menunggu. Lalu ia melihat papan catur di atas kotak peralatannya. Ia mengambil papan catur itu, lalu mengajak para pemusik itu untuk menemaninya main catur…
SARIMIN:
Main catur yuk… Dari pada cuman bengong…
Tapi Para Pemusik tak menanggapi ajakan itu: “Ndak”… “ Mase nesuan, sih!”
Kemudian Sarimin membawa papan catur itu, mencoba mengajak para penonton untuk main catur dengannya,
SARIMIN:
Ayo, main catur yok… Masa segini banyak ndak ada yang pinter main catur? Ada yang jadi penyair, ndak? Biasanya kalau penyair itu pinter main catur… Soalnya job-nya dikit… Jadi banyak waktu luang buat main catur. Ayo, main catur…. Nemenin saya… Mungkin ibu-ibu atau mba-mba… Ayo, Mba…Main catur bareng saya…, dijamin tidak terjadi kehamilan…
Bener nih ndak ada yang mau main catur? Ya sudah kalau ndak mau… Biar saya main sama monyet saya saja…
Lalu Sarimin menata bidak catur itu, berhadap-hadapan dengan monyetnya…
SARIMIN:
Monyet saya ini lumayan cerdas juga kok kalau main catur…. Saya sudah melatihnya main catur sejak dia masih kenyung, masik kecil, masih balibul…
Seorang Pemusik bertanya: “Apa itu balibul?”
SARIMIN:
Bawah lima bulan… Kalau saja saya punya duit, pasti sudah saya sekolahkan di sekolah catur… Biar jadi Grand Master… Ayo, Min, sini, Min…
Kemudian Sarimin pun bermain catur dengan monyetnya. Suara monyet yang riang membuat Sarimin sedikit terhibur. Ia tampak senang bisa bermain catur dengan monyetnya…
SARIMIN:
Ayo cepet jalan…. Kamu duluan… Eh, eh… bentar… kamu putih apa hitam? Ya dah, kamu putih ya… Tapi aku jalan duluan lho ya…
Lalu Sarimin dan monyetnya segera main. Sarimin yang menjalankan bidak catur. Kemudian tampak bidak yang bergerak sendiri, seakan-akan tengah dimainkan oleh monyet itu. Keduanya tampak asyik dan serius.
SARIMIN:
Eeh, lho, kok mentrinya kok kamu makan… Ndak boleh… Monyet dilarang makan mentri… Yang boleh ciak menteri itu cuman mandatarisnya rakyat! Jangan sembrono lho kamu… Ayo ulang… Eh, tapi jangan ngeper gitu dong! Kamu ini kok sukanya ngawur gitu sih!
Sarimin kelihatan jengkel…
SARIMIN:
Curang! Curang kamu! Bubar! Bubar!…
Suara monyet menjerit-jerit sementara Sarimin dengan jengkel menutup papan catur itu dan menaruhnya kembali ke kotak pikulannya. Monyet itu menjerit-jerit marah…
SARIMIN:
Sudah, diam toh! Kok malah kamu yang marah. Mestinya saya jengkel. Sudah malem begini ndak dipanggil-panggil. Ngapain ajah sih tuh Pulisi! (Menengok ke arah Pulisi, yang tampak lelap tertidur) Allaahh, kok ya malah micek!
Sarimin mencoba mendekati Pulisi itu. Begitu sarimin sudah dekat dan hendak menyodorkan KTP, mendadak Pulisi itu bangun dan langsung sibuk mengetik. Suara mesin ketik yang sibuk membuat Sarimin hanya bisa neraik nafas jengkel.
Lalu Sarimin menjahui Pulisi itu. Dan begitu Sarimin sudah jauh, perlahan-lahan Pulisi itu pun kembali tidur, menyandarkan kepelanya ke meja mesin ketik.
Sarimin menengok ke belakang, melihat Pulisi yang kembali tidur. Maka Sarimin pun berbalik kembali mendekati Pulisi itu. Baru saja Sarimin mau mendekat, Pulisi itu langsung jenggirat bangun dan menyibukkan diri dengan mesin ketiknya. Melihat Pulisi itu kembali sibuk mengetik, maka Sarimin kembali merasa jengkel, tak berdaya, dan mencoba kembali menunggu. Dan begitu Sarimin menjauh, tampak Pulisi itu dengan penuh kemenangan tidur kembali…
Begitu seterusnya, setiap kali Sarimin mendekat, langsung saja Pulisi itu langsung bangun sibuk mengetik…
Sampai kemudian Sarimin tampak pasrah menunggu. Ia kini terlihat mengantuk. Menguap. Meregangkan badannya yang pegel karena lama duduk… Sarimin bangkit, hendak mendekati kembali Pulisi itu, tetapi Puisi itu langsung bangun dan membentak:
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!! Nanti saya panggil!!!
Sarimin, yang lelah dan tak tahu mesti berbuat apa, segera kembali duduk menunggu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi tunggu itu. Mencoba tidur. Saat itulah sebentang kain perlahan turun, seperti langit malam yang menebarkan kegelapan. Terlihat silhuet Sarimin yang tertidur. Tampak cahaya bulan, malam dengan segala kesedihannya.
Nampak Sarimin yang bangkit, dan dengan setengah mengantuk mendekati Pulisi jaga itu. Tapi kembali Pulisi itu langsung membentak:
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!!
Dengan lunglai Sarimin kembali masuk ke balik tirai, kembali merebahkan tubuhnya. Tampak bayangan Sarimin yang tertidur di bawah redup rembulan.
Kemudian pagi datang, terdengar kokok ayam. Matahari yang cerah bangkit. Sarimin terbangun dari tidurnya, kaget…
SARIMIN:
` Astaga, sudah hari ke 192… Belum dipanggil juga….
Lalu malam kembali datang. Rembulan mengapung kesepian. Sarimin kembali tidur… Musik kesunyian seperti menghantar perubahan hari.
Dan ketika ayam kembali berkokok, matahari muncul, Sarimin pun langsung tergeragap bangun, dan mendapati dirinya masih menunggu…
SARIMIN:
Hari ke 347….
Karena tak juga dipanggil, sarimin pun kembali tidur. Musik yang galau bagai menggambarkan perasaan Sarimin yang gelisah. Cahaya menggelap. 2 Lalu Waktu bagai terus berputar. Di bagian layar belakang, muncul gambaran waktu berabd-abad…
Sementara waktu berubah, Sarimin terus menunggu, memandangi KTP yang entah milik siapa itu…
3.
Mendadak Tukang Cerita muncul dari sisi lain panggung. Pada saat yang bersamaan, silhuet Sarimin pada tirai itu lenyap.3
TUKANG CERITA:
Begitulah, Sarimin dibiarkan menunggu bertahun-tahun…
kembali-jd-tuk-cer.jpg
Sebagai Tukang Cerita saya perlu sedikit mengingatkan, agar Anda jangan terlalu menyalahkan para petugas itu. Jangan sampai Anda punya anggapan: seakan-akan para polisi itu menyepelekan Sarimin.
Sebagai warga negara yang baik dan yang percaya pada integritas dan profesionalitas polisi, kita harus maklum akan banyaknya urusan yang harus diselesaikan para polisi itu. Cobalah sesekali Anda datang ke kantor Polisi. Pasti Anda akan melihat betapa setiap hari polisi-polisi itu selalu tampak sibuk. Sibuk SMS-an… Sibuk ngobrol… Sibuk iseng ngisi TTS… Sibuk menginterogasi penjahat…. Sibuk menangkap bandar narkoba, sekaligus sibuk membagi-bagi barang buktinya…
Apalagi belakangan ini kesibukan Polisi itu makin bertambah… Karena para Polisi itu lumayan repot menahan para koruptor. Asal Anda tahu saja, menangkap koruptor itu pekerjakaan yang paling merepotkan. Karna begitu ada koruptor tertangkap, maka para polisi itu jadi punya kesibukan tambahan: sibuk menyiapkan karpet merah untuk menyambut koruptor itu… Sibuk menyiapkan sel tahanan dengan fasilitas VVIP… Dan yang terpenting: sibuk menegosiasikan pasal-pasal tuntutan yang saling menguntungkan.
Dengan segala macam kesibukan yang bertumpuk-tumpuk seperti itulah, menjadi wajar kalau Sarimin agak sedikit diabaikan.
Tapi untunglah… Untunglah, nasib baik agak sedikit berfihak pada Sarimin. Suatu pagi, ada petugas yang sedang bersih-bersih kantor polisi itu, dan secara tak sengaja melihat Saridin!
Musik tetabuhan transisi mengiringi perubahan Tukang Cerita itu menjadi Polisi. Aktor itu mulai mengenakan kostum untuk peran Polisi.
Dengan iringan musik, Polisi itu menata setting, untuk pergantian adegan. Menata meja kursi, seakan tengah berberes-beres. Musik mengiringi terus mengiringi adegan pergantian ini. Sampai kemudian Polisi itu menarik tirai yang menutupi kursi di mana Sarimin menunggu, seakan-akan ia tengah menarik tirai jendela. Saat tirai itu terangkat, Polisi itu kaget melihat Sarimin di kursi tunggu itu…
POLISI
Astaga! Ini kok ada kere di sini!!
muncul-polisi-dan-boneka-sarimin.jpg
Di kursi itu kini tampak boneka Sarimin, boneka yang secara visual mengingatkan pada sosok Sarimin…
POLISI:
Hai, ngapain kamu di sini?!
SUARA SARIMIN: 4
(Sambil menyodorkan amplop) Aa…nu, Pak.. Mau ngasih ini, Pak Pulisi…
Polisi itu memandang heran pada amplop di tangan Sarimin.
POLISI:
Apa itu? Ooo, kamu mau nyuap saya? Iya?! Oooo, hapa kamu pikir semua Polisi bisa disuap, begitu? (Penuh gaya) Huah ha haha… Maaf ya, Polisi seperti saya pantang menerima suap…. Tidak mungkin. Tidak mungkin… Polisi tidak mungkin mau menerima suap…
Mendadak dengan clingukan Polisi itu tengok kanan kiri melihat-lihat keadaan…
POLISI:
Tapi ya kalau nggak ada yang liat sih ya nggak papa… Berapa tuh isinya?
SUARA SARIMIN:
Ini bukan uang kok , Pak Pulisi… Isinya cuman KTP… Saya mau titip…
POLISI:
(Jengkel) Cuman KTP kok ya dikasihkan saya! Apa kamu nggak ngeliat saya banyak kerjaan… Kok malah ngrepotin mau titip KTP segala!
Dengan ngedumel jengkel Polisi itu akhirnya menerima amplop yang disodorkan Sarimin. Dengan tak terlalu suka Polisi itu memeriksa isi amplop itu. Benar. Isinya KTP. Mula-mula Polisi itu tak terlalu serius membaca KTP itu. Tetapi kemudian tampak tiba-tiba ekspresi Polisi itu langsung kaget. Ia membaca nama di KTP itu dengan teliti.
POLISI:
Astaga! Ini kan KTP Bapak Hakim Agung! Harataya…. Mbelgedes! Kok bisa KTP Bapak Hakim Agung sama kamu? Pasti kamu curi, ya?!
SUARA SARIMIN:
Ti…tidak, Pak Pulisi! Saya nemu di jalan…
POLISI:
Nemu di jalan mana?
SUARA SARIMIN:
Di jalan Taman Lawang, Pak Pulisi…
POLISI:
Edan! Oooo… Ini keterlaluan! Masa KTP Hakim Agung bisa jatuh di Taman Lawang… Tidak mungkin, tidak mungkin! Emangnya Hakim Agung suka keluyuran ke sana! Oooo, apa kamu kira Hakim Agung itu jenis mahasiswa yang nggak bisa bayar…, lalu ninggal KTP! Ooo jelas kamu mau mencemarkan nama baik Hakim Agung!
Ooo ini bener-bener keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan! Ayo ikut saya ke kantor!
Musik menghentak, black out. Tembang kecemasan terdengar. Kemudian ketika lampu menerangi panggung, tampak Polisi yang sudah berdiri di dekat meja interogasi, memandang Sarimin yang duduk di kursi, hingga Polisi dan Sarimin berhadap-hadapan.
POLISI:
Nggak usah gemeter begitu! Jawab yang jujur! Nggak usah berbelit-belit! Ngerti?!
Polisi itu (seakan-akan) memasang berkas kertas ke mesin tik di atas meja…
POLISI:
Nama?
SUARA SARIMIN:
Ee… saya biasa dipanggil Sarimin, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Sa-ri-min… (Lalu kembali menatap tajam Sarimin) Umur?!
SUARA SARIMIN:
Lima puluh empat, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Li-ma-pu-luh-em-pat… Hmmm… Pekerjaan?!
SUARA SARIMIN:
Tukang topeng monyet keliling, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Tu-ka-ng… to-pe-ng… mo-nyet… ke-li-li-ng… Sekarang coba kamu jelaskan, bagaimana kamu mencuri KTP ini…
SUARA SARIMIN:
Saya tidak mencuri, Pak Pulisi… Saya nemu KTP itu di jalan…
POLISI:
Saya tanya bagaimana kamu mencuri KTP ini, bukan bagimana kamu nemu KTP ini!
SUARA SARIMIN:
Lho tapi saya memang nemu KTP itu kok… Sumpah! Saya tidak mencuri!
POLISI:
Tidak usah pakai sumpah-sumpahan segala! Saya tahu kok modus operandi orang macam kamu! Pura-pura nemu KTP. Padahal dompetnya kamu copet! Iya tidak?! Pura-pura berbaik hati hendak mengembalikan KTP, padahal minta uang. Mau memeras! Kamu bisa kena pasal…. Sebentar… (mengambil buku KUHP dari sakunya) Hmmm… halaman berapa, ya… Oh ini… Kamu bisa kena pasal 362 dan 368! Pencurian dan pemerasan! Itu berate kamu bisa kena sepuluh tahun! Ngerti!
Sarimin tampak mengangguk-angguk…
POLISI:
Ngerti tidak! Jangan cuman manggut-manggut begitu! Nah, sekali lagi saya tanya baik-baik: kamu nyuri KTP ini kan?
SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… saya nemu di jalan…
Polisi itu mengambil pentungan, memain-mainkannya, memprovosasi Sarimin, sambil terus mencecar,
POLISI:
Nyuri apa nemu?
SUARA SARIMIN:
(Melihat itu Sarimin agak jiper juga) Ne..nemu, Pak Pulisi…
Polisi makin mencecar Sarimin…
POLISI:
Nemu apa nyuri?
SUARA SARIMIN:
Ne…ne..mu…
POLISI:
(Membentak keras, sambil seakan mau menggebug Sarimin) Nemu apa nyuri?!
SUARA SARIMIN:
I..iya.. Pak, Polisi.. Mungkin ada orang lain yang nyuri… Tapi saya cuman nemu kok, Pak Pulisi…
POLISI:
Oooo begitu ya…. Jadi ternyata kamu tidak sendirian. Orang lain yang nyuri. Dan kamu yang pura-pura nemu. Hoo ho hooo…, lumayan cerdik juga kamu, ya! Ho ho ho…kamu ketahuan, nyolong KTP!
Berarti kamu sudah merencanakan semua ini dengan komplotanmu, kan?! Ini kejahatan berkelompok dan terencana. Kamu dan komplotanmu hendak memeras Bapak Hakim Agung, begitu kan? Ooo… Ini namanya kejahatan berkelompok dan terencana!
SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… Saya tidak tahu kalau itu KTP Bapak Hakim Agung…
POLISI:
Mau mungkir, ya! Kamu kan bisa membaca nama di KTP ini…
SUARA SARIMIN:
Sa..ya ti..tidak bisa membaca, Pak Pulisi…
POLISI:
Astaga! OO ho hoho… Kamu bener-bener keterlaluan. Itu namanya menghina pemerintah! Kamu menghina pemerintah! Kamu mau menjelek-jelekkan pemerintah!
Sudah sejak tahun 74 pemerintah memberantas buta huruf! Sudah jelas-jelas pemerintah mengatakan kalau sekarang ini sudah bebas buta huruf! Lho kok kamu berani-beraninya ngaku buta huruf?! Apa kamu mau membuat malu pemerintah?! Mau mengatakan kalau pemerintah bohong, karena masih ada orang yang buta huruf macam kamu! Ooo… kamu bisa kena pasal… (memebuka-buka lagi buku KUHP-nya) Pasal berapa, ya… Kamu maunya kena pasal berapa?! Ooo… ini.., pasal137… Penghinaan pada pemerintah!
SUARA SARIMIN:
Lho, tapi saya memang ndak bisa baca kok, Pak Pulisi…
POLISI:
Sudah, nggak usah berbohong! Saya sudah terlalu sering ngadepin bandit kecil tapi licik macam kamu! Pura-pura kelihatan lugu. Pura-pura bodoh. Pura-pura tidak bisa membaca. Tampangnya sengaja disedih-sedihkan, biar saya kasihan. Biar saya iba, lalu saya bebaskan… (Kepada para pemusik, yang seakan-akan kini adalah juga polisi) Ooo dia kira Polisi macam kita bisa dikibulin… Tukang kibul kok mau dikibulin!
Orang lugu macam kami inilah penjahat yang berbahaya! Karena selalu memakai keluguan sebagai kedok kejahatan…
Kejahatan tetap saja kejahatan. Tidak perduli kamu bisa baca atau tidak.
Polisi itu memperhatikan KTP itu pada Sarimin…
POLISI:
Lihat KTP ini sampai lecek begini, pasti sudah kamu simpan lama ya! Kamu pasti sengaja tidak cepat-cepat mengembalikan! Pasti KTP ini kamu pamerin ke temen-temen copetmu kamu! Pasti statusmu jadi naik di kalangan pencopet karena berhasil mencopet KTP Hakim Agung! Setidaknya kamu ingin dianggap hebat karenasarimin-diinterogasi2.jpg punya KTP Hakim Agung! Biar kamu disangka saudaranya Hakim Agung… Iya, kan?!
SUARA SARIMIN:
Tidak, Pak Pulisi… Sumpah… Wong begitu saya nemu KTP itu, saya langsung lapor ke sini kok… Tapi saya malah disuruh nunggu terus…
Mendengar jawaban itu Polisi langsung marah, dan mau memukul…
POLISI:
Kurang ajar! Apa kamu pingin saya gebugin kayak praja IPDN!…
Para Pemusik mencoba menengangan: “Sabar….sabar….”
POLISI:
Hati-hati kalau bicara! Kamu bisa kena pasal penghinaan pada aparat! Menuduh Polisi tidak cepat tanggap!
Kalau kamu memang bener-bener datang melaporkan soal KTP ini, pasti petugas jaga akan langsung menanggapi. Ooo ho ho… tidak mungkin, tidak mungkin polisi menyepelakan rakyat… Karna Polisi itu sahabat masyarakat!
Polisi itu di mana-mana selalu melindungi rakyat! Yah paling-paling ya ada polisi yang kesasar salah nembak rakyat… Tapi itu kan ya hanya insiden… Insiden yang kadang direncanakan….
Polisi kemudian mengambil berkas kertas di meja mesin tik, sambil menatap tajam pada Sarimin yang terdiam…
POLISI:
Sebagai Polisi, sudah barang tentu, saya pun harus melindungi kamu… Ngerti tidak? Makanya, kamu juga mesti pengertian… Ini, lihat (menyodorkan berkas kerast itu ke hadapan wajah Sarimin)…
Kesalahanmu sudah bertumpuk-tumpuk… Kalau berkas ini saya bawa ke pengadilan, kamu bisa dihukum lebih dari 20 tahun penjara… Bahkan mungkin lebih. Karna kamu mesti berhadapan dengan jaksa dan hakim, yang pasti tidak ssuka dengan kamu!
Asal kamu tahu saja, ya! Jaksa-jaksa itu selalu minta bayaran lebih banyak. Juga hakim-hakim. Sulit sekarang menemukan hakim yang baik. Kalau kamu nggak ada duit, pasti dengan enteng hakim itu kan menjebloskanmu ke penjara!
Kamu nggak ingin masuk penjara, kan? Makanya, kamu nurut sama saya saja. Nanti laporannya saya bikin yang baik-baik. Faham maksud saya?!
Tapi ya kamu tahu sendiri, itu perlu biaya. Ooo ho ho ho…. ini bukannya saya mau minta duit lho ya… Tidak! Saya tidak minta! Saya cuman menyarankan….
Para pemusik ikutan membujuk: “Iya, Min… Sudahlah, Min… Selesaikan saja secata adat ketimuran, Min…”
POLISI:
Tapi ya terserah kamu. Sebagai Polisi yang mengerti perasaat rakyat, ya saya hanya bisa membantu semampu saya. Saya ngerti, kamu tidak terlalu punya duit. Makanya cukup 5 juta saja.. Kalau kamu setuju, bekas ini langsung saya kip, dan kamu boleh pulang…
SUARA SARIMIN:
(Terpana tak percaya) Lima juta?… Saya ya tidak punya uang segitu, Pak Pulisi…
Tampak Polisi itu mencoba sabar dan pengertian,
POLISI:
Ya sudah… Karena kamu punya itikad baik, ya bisa dikurangilah. Tiga juta, gimana?
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu saya juga ndak punya…
POLISI:
Ooo ho ho ho… Ya, ya sudah…, jangan sedih begitu. Saya kan hanya menawarkan. Kalau kamu masih keberatan ya bisa disesuaikan semampu kamulah… Ngerti kamu?
SUARA SARIMIN:
I..i..iya, Pak Pulisi…
POLISI:
Nah, gimana kalau dua juta!
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…
POLISI:
Kalau satu juta ..
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…
POLISI:
Saya diskon lagi, deh Mumpung masih suasana Lebaran, jadi bisa diobral… Gimana kalau lima ratus ribu…
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya bener-bener ndak punya…
POLISI:
Seratus ribu deh…Ya, ya, seratus ribu! Hitung-hitung buat uang rokok. Oke?
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu juga saya ndak punya…
Kesabaran Polisi itu rupanya sudah sampai pada batasnya, dan ia langsung meledak marah,
POLISI:
Brengsek! Kamu bener-bener melecehkan saya! Dimana saya taruh harga diri saya alau segitu saja masih kamu tolak!
Memang susah kalau urusan sama orang miskin! Cuman dapat kesel Kalau kamu lebih suka ke pengadilan, silakan! Kamu bisa membusuk di penjara 50 tahun!
SUARA SARIMIN:
(Takjub dan heran tetapi juga tak berdaya) Cuman karna nemu KTP saya dihukum 50 tahun?
Polisi itu berdiri, dingin, tegas dan formal:
POLISI:
Hukum tetap hukum, Saudara Sarimin! Atas nama hukum dan undang-undang, Saudara Sarimin ditahan!
Musik menghentak. Dan lampu langsung menggelap seketika…
4.
Mengalun tembang sedih yang menyayat hati…
Lalu di layar bagian belakang perlahan muncul bayangan jeruji sel penjara. Lalu tampak bayangan Sarimin di balik jeruji sel penjara itu. Sarimin tampak termenung, tak berdaya. Tembang kesedihan terus menyayat kesunyian…
SUARA SARIMIN:
Apa salah saya, Gusti?… Apa salah saya…
Lalu mendadak muncul bayangan monyet Sarimin. Seperti muncul dari dalam mimpi Sarimin, seakan-akan itu ada dalam pikiran Sarimin. Terdengar suara monyet yang memekik-mekik…
SARIMIN:
Min? Sarimin… Itu kamu ya, Min? Lapar, Min?… Prihatin dulu, ya, Min…Banyak berdoa ya, Min… Biar saya cepet bebas. Doa monyet miskin dan teraniaya macam kamu kan biasanya didengar Tuhan, Min…
Bayangan monyet itu terus menjerit-jerit. Dalam bayangan itu pula, sesekali Sarimin mencoba mengusap dan menyentuh monyetnya…
Lagu kesedihan, yang juga terkesan agung menggaung, menjadi latar belakang adegan itu…5
Pak Hakim dan Pak Jaksa
Kapan saya akan di sidang
Sudah tiga bulan lamanya
Belum juga ada panggilan
Saya ingin cepat pulang…
5.
Lalu di penghujung lagu itu, musik berubah menghentak, bergaya hip-hop. Pada saat musik hip hop ini berlangsung, setting pun perlahan-lahan berubah. Bayangan Sarimin di balik jeruji penjara lenyap. Sementara di bagian lain panggung, segera tampak ruang tempat Pengacara.
Muncul Pengacara, tampak riang, dengan gaya genit cosmopolitan yang penuh gaya. Pengacara itu langsung menyuruh musik berhenti:
jadi-bensar-1.jpg
PENGACARA:
Hai, stop! Stop! Bah, kalian ini bener-benar tidak punya rasa keadilan! Ada orang dihukum malah hip-hop hip-hopan begitu! Cem mana pula kalian ini! Tunjukanlah simpati dikit!
Sembari bicara, pengacara itu merapikan diri, mengatur penampilannya. Memakai kalung emas dengan bandul initial namanya yang besar. Merapikan pakaiannya, merapikan gaya rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya… Sehingga tampak kalau ia lebih sibuk dengan dirinya ketimbang dengan apa yang dikatakannya…
PENGACARA:
Kalian itu mestinya prihatin, kenapa di negara hukum begini kok ada orang diperlakuan tidak adil! Ah, emang benar-benar sewenang-wenang Pak Polisi itu. Sebagai pengacara yang punya hati nurani, sudah tentulah aku tak bisa berdiam diri!
Pengacara terus sibuk merapikan diri, sampai kemudian ia seperti tersadar, dan segera bicara kepada penonton:
PENGACARA:
Sebentar…Kalian pasti merasa heran, kenapa pengacara kondang…, pengacara infotaimen macam aku ini, tiba-tiba nongol di lakon beginian.
Seharusnya tadi, Si Tukang Cerita itu, yang memperkenalkan aku lebih dulu. Menjelaskan, apa peran aku dalam lakon ini. Begitulah semestinya…
Tapi kupikir-pikir, kalau si Tukang Cerita itu yang memperkenalkan, nanti diledek-ledeknya pulalah aku ini. Mangkanya, kupikir-pikir lebih baik aku muncul saja langsung. Biar aku sendiri yang memperkenalkan diri.
Dengan penuh gaya menyemprotkan parfum ke lehernya…
PENGACARA:
Nama saya Bensar… Aku yakin kalian sudah tahu, dari mana aku ini. Tapi tak usahlah aku kasih tahu marga aku… Nanti aku kena somasi…
Aku di sini terpanggil karena ingin membela Sarimin. Kasihan kali orang itu. Kemarin aku sudah ketemu dia. Aku langsung jatuh iba. Tergerak hati nuraniku untuk membelanya habis-habisan.
Begitu Abang Bensar datang, Sarimin langsung tenang. Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkannya.
Aku bilang pada Sarimin, ”Sarimin, seharusnya kau ini malah merasa beruntung bisa masuk penjara. Susah lho ini masuk penjara… Coba itu kau lihat, banyak kali koruptor yang bermimpi bisa masuk penjara, tapi tak bisa-bisa masuk… makanya kubilang, kau ini benar-benar beruntung. Tidak berbuat salah, tapi masuk penjara. Itu prestasi luar biasa… Makanya Sarimin, tak usahlah kau takut! Ketaktan itu cumian soal pikiran. Kalau pikiranmu takut, maka takutlah kau. Makanya jangan kau berpikir hukum itu menakutkan. Hukum itu menyenangkan. Happy!
Kemudian Pengacara Bensar langsung merapikan bawaannya: tas golf beserta isinya. Ia Tampak riang bernyanyi-nyanyi gaya hip hop:
Happy happy
Hukum itu happy
Hukum itu menyenangkan
Hukum menguntungkan
Karna dengan hukum
Semua kesalahan
Bisa dinegosiasikan…
Hapy happy…
Hukum itu happy…
Sambil terus bernyanyi pengacara itu bergerak sambil mengubah setting panggung. Tampak kemudian sel penjara, di mana seakan-akan Pengacara itu berjalan dari rumah menuju ke sel penjara, tempat Sarimin di tahan. Dan Pengacara itu pun sampai di dekat sel Sarimin…
PENGACARA:
(Masih terus menyanyi) Happy happy…. Semua bisa Happy…
Sampai kemudian nyanyian berhenti. Dengan gayanya yang khas, Pengacara Bensar kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya…
PENGACARA:
Bagimana Sarimin, apakah kamu merasa happy hari ini? Tenanglah, ini Abang Bensar sudah datang. Abang akan negosiasikan semua perkara kau.
Mengerti kau negosiasi?! Ah, sudahlah, tak usah kau berpikir yang berat-berat. Biar aku yang pikir saja gimana baiknya. Percayalah sama Abang…
Apa sih perkara yang tidak bisa abang selesaikan? Artis yang mau cerai…, begitu Abang tangani, dijamin langsung cerai. Terdakwa ilegal logging…, begitu Abang tangani, dijamin bisa langsung bebas kabur ke luar negeri…
Makanya, kau tenang saja di situ… Biar aku urus sebentar sama Pak Polisi. Biar lancar semuanya…
Lalu Pengacara berjalan ke arah belakang, seakan mendekati Polisi yang ada di pengacara-dan-wayang-polisi2.jpgbelakang. Dan Pengacara bensar pun berbicara dengan Polisi, yang tampak bayangannya, berupa wayang…
PENGACARA:
Ah, Apa kabar, Pak… Wah, tambah ganteng saja nih… Mungkin Bapak bisa tolong belikan makan atau minum buat klien saya… Nanti kembaliannya buat Bapak….
(SUARA ) WAYANG POLISI:
Maaf, dilarang membawa makanan dalam penjara!
PENGACARA:
Ah, aneh kali ini Pak Polisi… Kenapa makanan dak boleh masuk penjara? Narkoba saja bisa dibawa masuk ke penjara. Kimbek kali! Ingatlah Pak Polisi…, klien aku itu masih berstatus tersangka. Masih tahanan sementara. Jadi mesti kau hargai hak-hak pidananya.
(SUARA ) WAYANG POLISI:
Semua ada tata tertibnya. Ada peraturannya. Ada etikanya! Sebagai Pengacara, Saudara mestinya tahu itu!
PENGACARA:
Betul-betul aneh ini Polisi! Baru kali ini ada polisi mengajak bertengkar pengacara. Biasanya polisi macam kalian itu kan bertengkarnya sama tentara…
Tampak Pengacara Bensar kesal, dan segera meninggalkan Polisi itu. Ia segera kembali ke dekat sel penjara Sarimin.
PENGACARA:
(Kepada Sarimin) Biarlan nanti aku atur sama komandannya. Polisi emang suka berlagak begitu. Suka akting. Lagaknya kayak Politron… Polisi Sinetron…
Sekarang kau dengar… Biar semua gampang dan cepet beres, aku sarankan agar kau akui saja semuanya. Ini akan jadi kredit point yang bagus, karna kamu akomodatif. Artinya kamu dianggap bersikap baik Kalau kau bersikap baik, pasti nanti hakim akan member kau keringanan hukuman. Jadi, yang penting sekarang ini kau harus mengaku salah…
SUARA SARIMIN:
Mengaku salah bagaimana? Memangnya saya salah apa?
PENGACARA:
Aduuh! Kan tadi aku sudah bilang, tak perlulah kau membantah. Apa kau pikir kalau kau melawan kau akan menang. Jangankan orang kecil macam kau, majalah Time yang besar saja bisa divonis kalah kok! Makanya aku bilang, peluang terbaikmu adalah mengaku salah!
SUARA SARIMIN:
Iya… tapi salah saya apa?
PENGACARA:
Salah kau ya karna kau tidak mengerti kau berbuat salah! Bodoh betul kau ini ya… Kau pikir kau berbuat benar. Padahal kau berbuat salah. Kebenaran itu kadang menyesatkan, Sarimin. Kau bukannya benar, tetapi hanya merasa benar. Orang yang merasa benar itu belum tentu benar. Makanya ketika kau merasa benar, kau justru bisa bersalah. Karna benar, maka kamu salah!
Kau harus fahami betul itu. Makanya aku membantu kau, agar kau tidak tersesat di jalan yang kamu anggap benar itu! Kau mestinya beruntung aku mau jadi pembela kau.
Mendadak terdengar suara bunyi handphone, dengan nada dering yang norak… Pengecara Bensar dengan penuh gaya langsung mengambil handphone dari sakunya,
PENGACARA:
(Bicara di handphone-nya) Hallo sayang…Abang lagi sibuk nih. Lagi ketemu klien.. Sudahlah, kamu chek in dulu lah. Nanti Abang susul, ya…
Lalu mematikan handphone-nya, dan masih dengan penuh gaya bicara kembali pada Sarimin di balik selnya…
PENGACARA:
Maaf, bukannya gaya… Tapi ada klien lain yang mesti aku urus. Yah, maklumlah pengacara laris. Sudah pastilah orang miskin macam kau tak mampu membayar aku. Makanya kau mesti bersyukur, aku mau membela kau!
Aku tahu, banyak suara-suara miring di luar sana. Menganggap akupengacara mata duitan. Malah oleh kolega-koleganya saya sering distilahkan dengan pengacara begundal. Taik kucinglah semua! Pukima!
Sekarang aku mau buktikan, kalau aku juga punya perasaan keadilan. Aku juga mau membela orang lemah macam kau, Sarimin! Aku akan berjuang habis-habisan buat kau! Kalau perlu, nanti akan aku bentuk TPS… Tim Pembela Sarimin!
Memperlihatkan koran pada Sarimin…
PENGACARA:
Kau lihat ini… Kamu jadi berita di koran-koran., karna kau dianggap korban ketidakadilan..
Terlihat koran dengan berita Sarimin yang jadi headline itu kepada para pemusik. Pada saat bersamaan para pemusik segera bernyanyi, menghentak, dengan gaya hip hop yang rampak:
Sarimin jadi berita
Di koran-koran mendadak ia
Jadi ternama
Simbol korban ketidakadilan
Seolah-olah hukum adalah
Alat menindas orang yang lemah…
Seolah-olah tak ada lagi
keadilan di negri ini
Brengsek! Brengsek!
Hukum kita brengsek
Brengsek! Brengsek!
Semua orang bilang
Hukum kita brengsek!
Nyanyian berhenti. Pengacara itu kaget.
PENGACARA:
Apa kau bilang? Hukum kita kita brengsek?? Tidak betul itu! Hukum di negeri ini tidak brengsek… tapi luar biasa brengsek!
Kembali mendekati dan bicara pada Sarimin…
PENGACARA:
Tapi kita tak bolehlah putus asa… Aku yakin aku masih bisa membantumu, Sarimin. Aku jamin, kamu akan mendapat bagian keadilan. Memang kau tak akan menang. Tapi kau akan bangga, karena namamu akan dikenang. Kau akan jadi simbol dari perjuangan menegakkan keadilan. Ini peluang bagus buat kamu, Min… Artinya kalau kau nanti mati, kau tidak akan mati sia-sia!
SUARA SARIMIN:
Saya sudah tua… mati juga tidak apa-apa…
PENGACARA:
Eee, janganlah kau mati begitu saja. Nanti sia-sia aku membela kau!
Dengar ya, Min… Syarat untuk jadi simbol perjuangan, kau harus mati secara dramatis. Pejuang terkadang dikenang bukan karna apa yang telah dilakukannya, tetapi pada bagaimana cara matinya. Semangkin dramatis kematiannya, semangkin hebatlah dia…
Nah, makanya, nati biar aku aturlah sama Polisi itu, bagaimana baiknya cara kau mati. Aku sih kau mati dengan cara yang heroik. Mungkin diracun arsenik. Tapi aku kira itu bukan cara mati yang kreatif. Mesti lebih dramtis dikitlah. Mungkin kau disiksa lebih dulu. Di cabut sati persatu jari kau, lalu dicongkel mata kau… wah, itu kematian yang dramatis, Min! Gimana? Kamu mau kan?
Kalau kau mati dengan cara seperti itu, maka kematian kau itu akan dikenang sebagai korban kekejaman hukum. Namamu akan dijadikan monumen abadi… Itu berarti kau untung, dan aku pun untung. Itu primsip keadilan dalam hukum, Min! Kau untung jadi simbol ketidakadilan, aku pun untung karena jadi pembela korban ketidakadilan…
Pengacara itu nampak begitiu bahagia, memeluk tas golf-nya, mengambil kaca rias dan mengamati wajahnya, merapikan sisiran rambutnya, bahkan ia memupur pipinya dan mengoleskan lips gloss pada bibirnya, sambil terus berbicara…
PENGACARA:
Bayangkan, Min… Aku akan bisa mensejajarkan namaku di barisan para pejuang hukum. Pejuang keadilan! Ini peluang baik buat karier kepengacaraanku. Siapa tahu nanti aku bisa dapat Yap Tiap Him Award…
Makanya, Min, kau harus mengaku salah! Itu namanya kamu dapat karunia kesalahan! Kamu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi orang yang salah…
SUARA SARIMIN:
(Begitu memelas) Saya ndak ngerti… Omongan sampeyan malah bikin saya bingung…
PENGACARA:
Jangankan kamu, saya sendiri kadang bingung dengan omongan saya kok… Maklumlah, Min, omongan pengacara…
SUARA SARIMIN:
Saya berbuat baik, kok malah disuruh ngaku salah… Menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk, berbuat baik itu ndak salah kok…
PENGACARA:
Eee, jangan ngacau kau. Bertahun-tahun aku belajar hukum, tidak ada itu…apa kau bilang tadi? Apa? Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk… Ahh, tidak ada itu kitab hukum macam itu! Ngaco kali kau!
Sudahlah! Kau ngaku salah apa susahnya sih! Bagaimana mungkin aku bisa membela kau kalau kau tidak bersalah.
Lagi pula Pak Polisi itu sudah bilang kau bersalah. Bagaimana mungkin kau masih saja merasa tidak bersalah, kalau Polisi sudang bilang kau bersalah.
SUARA SARIMIN:
Jadi saya harus ngaku salah?
Mendadak terdengar suara bentakan Polisi, bersama menculnya bayangan wayang Polisi…
SUARA POLISI:
Sudah ngaku saja salah. Sudah dibela masih saja ngeyel tak bersalah! PENGACARA:
Tuh, dengar apa kata Pak Polisi… Aku mau membela kau kalau kau mau ngaku bersalah, Min! Pengacara macam aku ini sudah terbiasa membela orang yang salah, nanti aku malah bingung kalau membela orang tidak bersalah. Makanya, kamu mengaku salah saja ya, Min…
Terdengar suara wayang Polisi, membentak Sarimin,
SUARA POLISI:
Kalau kamu ngaku salah, nanti saya atur sama Mas Pengacara…
PENGACARA:
Orang salah ngaku salah itu sudah biasa. orang yang bener tapi mau ngaku salah, itu baru mulia! Makanya kalau kau ngaku salah, kau akan jadi orang mulia!
Kembali suara wayang Polisi, membentak Sarimin,
SUARA POLISI:
Kamu tak punya pilihan, Sarimin! Kamu tidak bisa melawan hukum! Hukum telah menganggapmu bersalah!.. Bersalah!… Bersalah! Bersalah!…
Suara Polisi yang meninggi itu kemudian menjadi gema: “Bersalah! Bersalah! Bersalah!” Makin lama gema suara itu makin membahana, seperti mengepung dan mengurung Sarimin…
Bersamaan dengan itu, lampu perlahan-lahan meredup, menggelap. Hingga yang terdengar hanya gema suara Polisi dan Pengacara yang saling bersahut-sahutan, berulang-ulang, saling tumpuk, dan terus mengepung menggema:
GEMA SUARA PENGACARA:
Kau mesti beruntung karena menjadi orang yang terhukum, Sarimin!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!
GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!
Bersamaan dengan gema suara-suara itu, di bagian belakang layar muncul bayangan-bayangan yang berlesetan. Bayang-bayang wayang Polisi dan Pengacara, bayang-bayang yang bertumpuk-tumpuk, berkelebatan, kadang bayang-bayang itu membesar dan seakan siap menerkam, bersamaan dengan gema suara yang tumpang tindih dan berulang-ulang:
GEMA SUARA PENGACARA:
Kau harus merasa beruntung karena kau menjadi orang yang terhukum!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!
GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!
Di antara gema suara yang terus bersahut-sahutan itu terdengar rintihan Sarimin…
SARIMIN:
Ampun… Ampun…
Lalu suara-suara yang bergema itu perlahan menghilang. Ada kesunyian yang membentang. Lalu cahaya yang pucat dan layu bagai membelah kepedihan. Cahya itu menyorot ke Sarimin, yang tampak tak berdaya di balik jeruji sel penjara. Kesunyian yang menekan tampak bagai jaring yang meringkus Sarimin.
Pada layar di bagian belakang, muncul bayangan yang samar, simbolis, semacam Dewi Keadilan, sosok yang menggambarkan kehadiran Hakim Agung…
SARIMIN:
Maafkan saya, Bapak Hakim Agung…
Terdengar sosok Hakim Agung di bayangan layar itu berbicara pada Sarimin. Suara dingin dan datar:
SUARA HAKIM AGUNG:
Kalau saja saya bisa memaafkanmu, Sarimin…
SARIMIN:
Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Tapi hukum tidak bisa ditegakkan dengan maaf, Sarimin..
SARIMIN:
(Menghiba) Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Kamu jangan salah faham, Sarimin… Bukan saya yang menghukum kamu. Hukumlah yang menghukummu…
SARIMIN:
(Makin menghiba) Ampuni saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Hukum punya jalan keadilan sendiri, Sarimin.
Makin lama Sarimin makin menghiba dan mulai merangkak-rangkak, bersujud di bawak sel penjara…
SARIMIN:
(Makin menghiba tak berdaya) Ampuni saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Tak ada gunanya kamu merasa benar kalau hukum mengganggpmu tidak benar…
SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Biarlah hukum yang menentukan, Min… Bukan saya…
Di bagian layar itu pula, muncul bayangan monyet, yang menjerit-jerit, muncul di sela-sela gema suara Hakim Agung
SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan kamu… Hanya hukum yang benar…
Kembali terdengar suara monyet memekik-mekik…
SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan saya… Bukan kamu…
Sementara Sarimin terus menghiba memohon ampunan…
SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum… (Terdengar suara monyet)…
Suara Hakim Agung terus terdengar bertumpang tindih dengan suara pekikan monyet, sementara Sarimin terus merangkak-angkak, bersujud…
Sampai kemudian Sariin merasa aneh dengan gema suara Hakim Agung dan suara monyet yang bagai mengepung menerornya itu. Sarimin jadi termangu, memandang bingung ke luar penjara saat gema semua suara itu melenyap. Segalanya bagai di ruang hampa…
SARIMIN:
Aneh… Tadi itu suara Hakim Agung atau suara monyet ya?!
Gelap menyergap seketika.
Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.
pemusik-opening.jpg
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.
tukang-cerita-bag-awal.jpg
Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.
Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.
Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.
Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah, misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu, kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo. Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…
Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”
TUKANG CERITA:
Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno, langung ingat wisata kuliner… mak yuss…
Musik memberi tekanan dan membangun suasana…
TUKANG CERITA:
Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.
Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja diselenggarakan oleh Gubernurnya.
Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…
Tukang Cerita itu mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya. tukang-cer-jadi-sarimin.jpgDan mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian Sarimin…
TUKANG CERITA:
Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…
Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam “asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…
TUKANG CERITA:
Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas, kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit tersedia lengkap di badannya.
Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu, sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat. Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya, saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!
Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah Sarimin…
Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP. Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…
Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu, padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya itu kepada para pemusik…
SARIMIN:
Ini KTP siapa, ya? Ada yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh.. Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?
Para pemusik berceloteh menangapi, merasa tak kehilangan dompet atau KTP. Lalu Sarimin mencoba bertanya kepada para penonton…
SARIMIN:
Maaf, Bu… Pak… Ada yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk gelap… Ini KTP sampeyan bukan?
Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”
Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan, bertanya pada para penonton sekali lagi,
SARIMIN:
Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak ada yang merasa kehilangan KTP?
Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada namanya…, nanti kan tahu itu KTP siapa?!”
Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya bibirnya yang komat-kamit…
SARIMIN:
Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah, gimana kalau sampeyan yang bacain…
Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”
SARIMIN:
Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses… Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…
Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa baca?”
SARIMIN:
Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…
Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”
SARIMIN:
Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…
Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan, siapa?”
Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak, mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba sebutkan kalau berani…”
SARIMIN:
(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!
Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”
SARIMIN:
(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu, pemimpin Hastina! Dia kan tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan, biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya dipenjara…
Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.
sarimin-nemu-ktp2.jpg
SARIMIN:
Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor Pulisi… Dari pada repot, kan mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya…
Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…” teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.
Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.
Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…
2.
Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…
SARIMIN :
Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…
Mendadak nongol sosok Pulisi, yang langsung sibuk mengetik begitu mengetahui kedatangan Sarimin. Maka Pulisi itu pun tampak terus sibuk mengetik…
sarimin-ketemu-polisi.jpg
SARIMIN:
Wah…, Pak Pulisinya ternyata lagi sibuk… Sibuk kok ya mendadak ya…
Pulisi itu terus mengetik, mengabaikan Sarimin.
SARIMIN:
Ya sudah…, biar saya tunggu saja…(Lalu menjauhi Pulisi itu, sementara suara mesin ketik terus terdengar, membangun suasana) Yah, lumayan…, sambil nunggu bisa numpang istirahat… (Sembari memijit-mijit kakinya yang terasa pegal-pegal atau sesekali meregangkan badan atau mengeluk pinggangnya) Lagi pula saya juga lagi males keliling… Udah dari pagi keluar masuk kampung, tapi nggak ada yang nanggap. Capek juga kan seharian keliling tapi ndak dapet duit…
Sarimin mengeluarkan sebiji pisang dan mengupasnya. Kemudian terdengar suara monyet, yang nangkring di kotak topeng monyet itu. Monyet itu merajuk minta pisang yang dimakan Sarimin itu…
SARIMIN:
(Bicara pada monyet itu) Apa? Pingin?… Iya, iya…, nanti saya bagi…
Sarimin mengambil monyetnya dengan penuh perhatian, memangku monyet itu…
SARIMIN:
(Sambil mengelus-elus monyetnya, bicara kepada penonton) Oh ya, kalian belum kenal toh sama monyet saya ini… Lah ya ini yang namanya Sarimin… Kalau saya dipanggil Sarimin ya cuman karna kena efeknya saja… Itu disebut The Sarimin Effect…
Monyet saya ini bukan monyet sembarangan lho… Kalau ditelusuri garis keturunannya, dia itu keturunan monyetnya Si Badra Mandrawata…
Para pemusik heran: “Siapa itu?”
SARIMIN:
Si Buta dari Gua Hantu…
Suara monyet itu terdengar senang, seperti meloncat-loncat. Sarimin mulai menyuapi monyet itu dengan pisangnya.
sarimin-nyante-di-kanpol.jpg
SARIMIN:
Nih, kamu separo…
Tampak pisang yang dibaginya itu lebih kecil. Monyetnya tampak senang. Tetapi, begitu mau menyuapkan pisang itu ke monyetnya, pisang itu malah dimakan Sarimin sendiri. Hingga monyet itu berterak-teriak. Tapi Sarimin terus mengunyah pisang itu buat dirinya sendiri…
Melihat itu, Para Pemusik pun berkomentar: “Was, Mase ini, sama monyetnya sendiri kok pelit! Medit!”… “Sudah persis kayak monyet lho Mase ini kalau makan pisang gitu!”…”Ngirit, ya Mas?”
SARIMIN:
Kalian itu jangan salah faham. Ini bukan ngirit! Saya makan pisang begini ini karna saya lagi nglakoni ngelmu munyuk!
Tahu ngelmu munyuk, ndak? Ngelmu munyuk itu ya ilmu kebajikan yang bersumber dari munyuk. Ada kitabnya! Namanya Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk.
Sarimin segera mengambil sebuah buku tua dari kotak topeng monyetnya…
SARIMIN:
Nah ini kitabnya… Ilmu soal permonyetan ada di sini semua. Kenapa manusia disebut keturunan monyet, ada penjelasannya di sini. Juga soal Jaman Monyet… Nih… (membaca halman kitab itu) hamenangi jaman monyet. Sing ora dadi monyet ora keduman. Sak begja-begjane wong sing dadi monyet, isih luwih begja wong sing koyo monyet nanging kuoso…
Seorang Pemusik memotong: “Lho, kok mendadak situ bisa baca? Tadi katanya nggak bisa baca. Nggak konsisten!”
SARIMIN:
Ini aksara Jawa. Honocoroko. Kalau huruf Jawa saya bisa baca…
Gimana, mau tahu soal ngelmu munyuk, ndak?… Lihat nih, halaman 79… (membaca) Living English Structure… Lho, kok malah bahasa Inggris. Maaf, maklum saya belinya di loakan. Ini buku bajakan, jadi halamannya kecampur-campur. Nah, ini… halaman 67… Di sini dijelaskan, kenapa monyet suka pisang… Ini ada filosofinya. Ada maknanya.
Pisang itu buah yang murah. Artinya kita harus pemurah. Mau berbagi. Maksudnya, hidup kita itu seyogyanya ya seperti pohon pisang. Anda tahu kan pohon pisang? Setiap bagian dari pohon pisang itu semuanya berguna. Tangkai daunnya bisa ditekuk-tekut, dibuat mainan kuda-kudaan. Batang pohonnyanya buat nancepin wayang. Antok-nya, jantungnya, bisa dibikin sayur yang enak.
Celoteh Pemusik: “Kalau pelepahnya, Mas?”
SARIMIN:
Pelepahnya? Ya bisa buat mainan plesetan…. Daunnya bisa dipakai buat mbungkus… Atau bisa juga di pakai buat payungan kalau hujan. Bisa buat berteduh….
Berdasarkan ngelmu munyuk ini, pohon pisang sebenarnya mengajarkan kita agar tidak egois. Karena pohon pisang memang bukan pohon yang mementingkan dirinya sendiri. Pohon pisang itu beda dengan… pohon beringin, misalnya. Ini misalnya lho ya… Kalau Pohon beringin itu kan cuman mementingkan dirinya sendiri.
Kalian lihat sendiri kan, pohon beringin itu tumbuh besar, tinggi menjulang, rimbun, tetapi ia menyedot kesuburan pohon-pohon di sekelilingnya…
Celoteh Pemusik: “Ya, tapi kan Pohon Beringin bisa buat berteduh. Kan bayak itu kere-kere yang suka berteduh di bawah Pohon Beringin…”
SARIMIN:
Kalau yang suka berteduh sih bukan cuman kere… Tapi juga keple… lonte…
Makanya, kalau orang yang pinter, pasti ndak mau lagi berteduh di bawah Pohon Beringin. Seperti para Jenderal itu… Kan sekarang banyak Jenderal yang memilih membikin dan membesarkan pohon sendiri… Lebih senang membesarkan Pohon Gelombang Cinta… Seolah-olah mereka merasa masih dicintai rakyat.
Nah, kalau sampai ada Jenderal yang terus ngotot ikut berteduh di bawah Pohon Beringin, pasti agak diragukan kredibilitasnya: ini Jenderal apa lonte…
Membuka-buka halaman kitab itu dengan serius…
SARIMIN:
Makanya kalian mesti belajar ngelmu pisang. Pohon pisang itu selalu membiarkan anak-anaknya tumbuh besar. Sampeyan tahu, pohon pisang itu juga baru mati kalau sudah berbuah. Artinya, hidup kita itu berbuah. Mesti membuahkan kebaikan. Jangan sampai kita mati tapi belum sempat berbuat baik.
Celoteh Pemusik, agak meledek: “Kata siapa…”
SARIMIN:
Lah ya menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk ini… Kalau kalian baca kitab ini, pasti kalian ngerti ilmu sejati. Ini ilmu tidak main-main. Ilmu filsafat tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mempelajari. Otak anak-anak Jurusan Filsafat saja mungkin ndak nyampe kalau mempelajari ini. Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Pak Damardjati Supajar juga ndak level ama ilmu ini. Makanya mesti hati-hati. Karna bisa-bisa nanti kebablasen: begitu mempelajari ilmu sejati ini, langsung ngaku-ngaku jadi Nabi…
Ngelmu munyuk itu ilmu ketauladanan. Mangsud-nya, banyak ketauladanan yang bisa kita pelajari dari monyet. Karena kalau monyet suka pisang, sesungguhnya monyet itu sedang memberi kita tauladan hidup. Makanya, kalau sekarang ini ndak ada tokoh atau pemimpin bangsa yang bisa kita tauladani, kenapa kita ndak meneladani monyet saja? Ya, ndak?
Sementara itu terdengar suara ngorok…
SARIMIN:
Sudah ah, nanti saja lagi saya kasih tahu soal ngelmu munyuk-nya… (Seperti tersadar kalau sudah lama menunggu)… Dari tadi kok ya belum dipanggil-panggil ya….
Suara ngorok itu makin keras terdengar, ternyata datang dari Kantor Pulisi. Tampak ruangan kantor itu sepi, hanya terdengar suara orang tertidur ngorok…
SARIMIN:
Welah, Pulisinya malah ngorok…
Lalu Sarimin menuju meja jaga pulisi itu. Tak tampak pulisi. Hanya terdengar suaranya yang mendengkur keras…
SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya cuman mau nyerahkan KTP ini kok, Pak… Soalnya saya mesti pulang… Sudah sore….
Mendadak Pulisi itu bangkit, dan langsung sibuk mengetik. Terdengar suara mesik ketik yang langsung sibuk…
(SUARA) POLISI:
(Membentak, sambil terus mengetik) Tunggu saja dulu! Apa tidak liat saya lagi sibuk!
SARIMIN:
I..ya, Pak… Iya… Sibuk kok mendadak…
Pulisi terus terus mengetik, terus sibuk. Sementara Sarimin hanya bisa memandangi dengan tatapan tak berdaya. Merasa marah disepelekan, tetapi tak bisa apa-apa, hanya ngedumel…
SARIMIN:
Ama orang kecil kok ya selalu menyepelekan… Coba kalau ndak pakai seragam, sudah saya plinteng matane…
Sarimin hanya bisa menunggu. Tapi kemudian ia seperti sudah tak bisa menahan untuk kencing…
SARIMIN:
(Kepada penonton) Ee, tolong, nanti kalau Pak Pulisinya nyari, bilang saya kencing dulu ya… Ke toilet bentar.
Sarimin kemudian bergegas hendak ke toilet, tetapi mendadak terdengar bentakan:
(SUARA) POLISI:
Hai! Mau mana?!
SARIMIN:
Mau ke belakang, Pak…
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!… Nanti saya panggil!
Dengan terbungkuk-bungkuk sopan Sarimin akhirnya kembali duduk, tetapi tampak jengkel juga…
SARIMIN:
Gimana sih! Dari tadi cuman nyuruh tungga-tunggu… Mau kencing bentar ajah ndak boleh… Sok kuasa! Sok merasa dibutuhkan! Seneng kalau melihat orang menderita. Begitu kok ngakunya sahabat rakyat…
Sarimin tampak gelisah menahan keinginannya untuk kencing. Pada saat itu terdengar suara monyet yang menjerit-jerit, membuat sarimin gugup dan panik.
SARIMIN:
(Menenangkan monyetnya yang mulai rewel) Sstt! Jangan ribut, toh… Pak Pulisinya kayak buto galak. Nanti kamu dimarahin!
Monyet itu malah bertambah rewel, terus memekik-mekik.
SARIMIN:
(Terus berusaha menenangkan monyetnya) Apa? Haus? Pingin mimi, ya?
Mengambil botol air mineral dari kotak pikulannya, tetapi botol itu ternyata sudah kosong…
SARIMIN:
Wah, habis… Sabar, ya… Ntar minum di rumah saja ya… Cup cup cup… Bentar lagi kita pulang kok…
Tapi monyet itu makin rewel dan ribut…
SARIMIN:
Jadi monyet itu mbok yang sabar… Lama-lama kamu itu ketularan manusia lho! Ndak bisa nahan sabar! Dasar monyet asu!
Monyet itu terus memekik-mekik minta minum. Sarimin bingung. Ia melihat kepada Pulisi yang tampak sudah kembali tertidur bersandar di depan mesin tiknya. Melihat Pulisi yang lelap itu, maka Sarimin pun hati-hati menegendap-endap menuju toilet di bagian belakang…
Tampak silhuet Sarimin yang kencing, dan menadahi air kencingnya dengan botol.
Sarimin kembali muncul dan segera ia mendatangi monyetnya yang masih rewel. Dengan tenang Sarimin meminumkan isi botol itu ke monyetnya…
SARIMIN:
Nih minum… Enak, kan? Dijamin fresh from the batangan. Lagi ndak? Manis, kan? Lah wong saya kecing manis kok… Kalau gini ada untungnya juga lho kena diabet…
Sarimin terus meminumkan isi botol itu pada monyetnya, sampai kemudian monyet itu tampak tenang dan senang…
SARIMIN:
Monyet saya memang rada manja. Kalau sudah kepingin ndak mau ditunda. Paling repot ya kalu pas dia lagi birahi pingin kawin…
Seorang Pemusik nyeletuk bertanya: “Memangnya itu monyet jantan apa betina?”
SARIMIN:
Monyet jantang dong…
Pemusik: “Memangnya gimana sih caranya membedakan monyet jantan dan monyet betina?”
SARIMIN:
(Tampak sebel dengan pertanyaan itu) Ya gampang… Tinggal kamu kawinin. Kalau hamil, berarti monyet itu betina. Gitu saja kok repot! Mas, mbok kalau nanya itu yang cerdas, biar ndak bikin tambah jengkel… Maaf lho ya kalau saya jadi ketus… Kamu kan lihat sendiri, dari tadi saya sebel nunggu, lah kok malah ditanyain yang ndak mutu gitu! Sebel! Sebel! Sebelll!!! Makanya kalian jangan nambahin sebel saya…
Melihat Sarimin marah begitu, para pemusik langsung diam. Suasana jadi tidak enak. Sarimin hanya diam, gelisah, bingung nggak tahu mesti berbuat apa. Sampai kemudian Sarimin mengeluarkan beberapa alat atrasksi topeng monyetnya. Memain-mainkan payung kecil, gerobak kecil, dan lainnya. Mencoba membunuh kegelisahannya. Mencoba menyibukkan diri. Tetapi ia tetap merasa gelisah karena terus menunggu. Lalu ia melihat papan catur di atas kotak peralatannya. Ia mengambil papan catur itu, lalu mengajak para pemusik itu untuk menemaninya main catur…
SARIMIN:
Main catur yuk… Dari pada cuman bengong…
Tapi Para Pemusik tak menanggapi ajakan itu: “Ndak”… “ Mase nesuan, sih!”
Kemudian Sarimin membawa papan catur itu, mencoba mengajak para penonton untuk main catur dengannya,
SARIMIN:
Ayo, main catur yok… Masa segini banyak ndak ada yang pinter main catur? Ada yang jadi penyair, ndak? Biasanya kalau penyair itu pinter main catur… Soalnya job-nya dikit… Jadi banyak waktu luang buat main catur. Ayo, main catur…. Nemenin saya… Mungkin ibu-ibu atau mba-mba… Ayo, Mba…Main catur bareng saya…, dijamin tidak terjadi kehamilan…
Bener nih ndak ada yang mau main catur? Ya sudah kalau ndak mau… Biar saya main sama monyet saya saja…
Lalu Sarimin menata bidak catur itu, berhadap-hadapan dengan monyetnya…
SARIMIN:
Monyet saya ini lumayan cerdas juga kok kalau main catur…. Saya sudah melatihnya main catur sejak dia masih kenyung, masik kecil, masih balibul…
Seorang Pemusik bertanya: “Apa itu balibul?”
SARIMIN:
Bawah lima bulan… Kalau saja saya punya duit, pasti sudah saya sekolahkan di sekolah catur… Biar jadi Grand Master… Ayo, Min, sini, Min…
Kemudian Sarimin pun bermain catur dengan monyetnya. Suara monyet yang riang membuat Sarimin sedikit terhibur. Ia tampak senang bisa bermain catur dengan monyetnya…
SARIMIN:
Ayo cepet jalan…. Kamu duluan… Eh, eh… bentar… kamu putih apa hitam? Ya dah, kamu putih ya… Tapi aku jalan duluan lho ya…
Lalu Sarimin dan monyetnya segera main. Sarimin yang menjalankan bidak catur. Kemudian tampak bidak yang bergerak sendiri, seakan-akan tengah dimainkan oleh monyet itu. Keduanya tampak asyik dan serius.
SARIMIN:
Eeh, lho, kok mentrinya kok kamu makan… Ndak boleh… Monyet dilarang makan mentri… Yang boleh ciak menteri itu cuman mandatarisnya rakyat! Jangan sembrono lho kamu… Ayo ulang… Eh, tapi jangan ngeper gitu dong! Kamu ini kok sukanya ngawur gitu sih!
Sarimin kelihatan jengkel…
SARIMIN:
Curang! Curang kamu! Bubar! Bubar!…
Suara monyet menjerit-jerit sementara Sarimin dengan jengkel menutup papan catur itu dan menaruhnya kembali ke kotak pikulannya. Monyet itu menjerit-jerit marah…
SARIMIN:
Sudah, diam toh! Kok malah kamu yang marah. Mestinya saya jengkel. Sudah malem begini ndak dipanggil-panggil. Ngapain ajah sih tuh Pulisi! (Menengok ke arah Pulisi, yang tampak lelap tertidur) Allaahh, kok ya malah micek!
Sarimin mencoba mendekati Pulisi itu. Begitu sarimin sudah dekat dan hendak menyodorkan KTP, mendadak Pulisi itu bangun dan langsung sibuk mengetik. Suara mesin ketik yang sibuk membuat Sarimin hanya bisa neraik nafas jengkel.
Lalu Sarimin menjahui Pulisi itu. Dan begitu Sarimin sudah jauh, perlahan-lahan Pulisi itu pun kembali tidur, menyandarkan kepelanya ke meja mesin ketik.
Sarimin menengok ke belakang, melihat Pulisi yang kembali tidur. Maka Sarimin pun berbalik kembali mendekati Pulisi itu. Baru saja Sarimin mau mendekat, Pulisi itu langsung jenggirat bangun dan menyibukkan diri dengan mesin ketiknya. Melihat Pulisi itu kembali sibuk mengetik, maka Sarimin kembali merasa jengkel, tak berdaya, dan mencoba kembali menunggu. Dan begitu Sarimin menjauh, tampak Pulisi itu dengan penuh kemenangan tidur kembali…
Begitu seterusnya, setiap kali Sarimin mendekat, langsung saja Pulisi itu langsung bangun sibuk mengetik…
Sampai kemudian Sarimin tampak pasrah menunggu. Ia kini terlihat mengantuk. Menguap. Meregangkan badannya yang pegel karena lama duduk… Sarimin bangkit, hendak mendekati kembali Pulisi itu, tetapi Puisi itu langsung bangun dan membentak:
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!! Nanti saya panggil!!!
Sarimin, yang lelah dan tak tahu mesti berbuat apa, segera kembali duduk menunggu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi tunggu itu. Mencoba tidur. Saat itulah sebentang kain perlahan turun, seperti langit malam yang menebarkan kegelapan. Terlihat silhuet Sarimin yang tertidur. Tampak cahaya bulan, malam dengan segala kesedihannya.
Nampak Sarimin yang bangkit, dan dengan setengah mengantuk mendekati Pulisi jaga itu. Tapi kembali Pulisi itu langsung membentak:
(SUARA) POLISI:
Tunggu saja di situ!!
Dengan lunglai Sarimin kembali masuk ke balik tirai, kembali merebahkan tubuhnya. Tampak bayangan Sarimin yang tertidur di bawah redup rembulan.
Kemudian pagi datang, terdengar kokok ayam. Matahari yang cerah bangkit. Sarimin terbangun dari tidurnya, kaget…
SARIMIN:
` Astaga, sudah hari ke 192… Belum dipanggil juga….
Lalu malam kembali datang. Rembulan mengapung kesepian. Sarimin kembali tidur… Musik kesunyian seperti menghantar perubahan hari.
Dan ketika ayam kembali berkokok, matahari muncul, Sarimin pun langsung tergeragap bangun, dan mendapati dirinya masih menunggu…
SARIMIN:
Hari ke 347….
Karena tak juga dipanggil, sarimin pun kembali tidur. Musik yang galau bagai menggambarkan perasaan Sarimin yang gelisah. Cahaya menggelap. 2 Lalu Waktu bagai terus berputar. Di bagian layar belakang, muncul gambaran waktu berabd-abad…
Sementara waktu berubah, Sarimin terus menunggu, memandangi KTP yang entah milik siapa itu…
3.
Mendadak Tukang Cerita muncul dari sisi lain panggung. Pada saat yang bersamaan, silhuet Sarimin pada tirai itu lenyap.3
TUKANG CERITA:
Begitulah, Sarimin dibiarkan menunggu bertahun-tahun…
kembali-jd-tuk-cer.jpg
Sebagai Tukang Cerita saya perlu sedikit mengingatkan, agar Anda jangan terlalu menyalahkan para petugas itu. Jangan sampai Anda punya anggapan: seakan-akan para polisi itu menyepelekan Sarimin.
Sebagai warga negara yang baik dan yang percaya pada integritas dan profesionalitas polisi, kita harus maklum akan banyaknya urusan yang harus diselesaikan para polisi itu. Cobalah sesekali Anda datang ke kantor Polisi. Pasti Anda akan melihat betapa setiap hari polisi-polisi itu selalu tampak sibuk. Sibuk SMS-an… Sibuk ngobrol… Sibuk iseng ngisi TTS… Sibuk menginterogasi penjahat…. Sibuk menangkap bandar narkoba, sekaligus sibuk membagi-bagi barang buktinya…
Apalagi belakangan ini kesibukan Polisi itu makin bertambah… Karena para Polisi itu lumayan repot menahan para koruptor. Asal Anda tahu saja, menangkap koruptor itu pekerjakaan yang paling merepotkan. Karna begitu ada koruptor tertangkap, maka para polisi itu jadi punya kesibukan tambahan: sibuk menyiapkan karpet merah untuk menyambut koruptor itu… Sibuk menyiapkan sel tahanan dengan fasilitas VVIP… Dan yang terpenting: sibuk menegosiasikan pasal-pasal tuntutan yang saling menguntungkan.
Dengan segala macam kesibukan yang bertumpuk-tumpuk seperti itulah, menjadi wajar kalau Sarimin agak sedikit diabaikan.
Tapi untunglah… Untunglah, nasib baik agak sedikit berfihak pada Sarimin. Suatu pagi, ada petugas yang sedang bersih-bersih kantor polisi itu, dan secara tak sengaja melihat Saridin!
Musik tetabuhan transisi mengiringi perubahan Tukang Cerita itu menjadi Polisi. Aktor itu mulai mengenakan kostum untuk peran Polisi.
Dengan iringan musik, Polisi itu menata setting, untuk pergantian adegan. Menata meja kursi, seakan tengah berberes-beres. Musik mengiringi terus mengiringi adegan pergantian ini. Sampai kemudian Polisi itu menarik tirai yang menutupi kursi di mana Sarimin menunggu, seakan-akan ia tengah menarik tirai jendela. Saat tirai itu terangkat, Polisi itu kaget melihat Sarimin di kursi tunggu itu…
POLISI
Astaga! Ini kok ada kere di sini!!
muncul-polisi-dan-boneka-sarimin.jpg
Di kursi itu kini tampak boneka Sarimin, boneka yang secara visual mengingatkan pada sosok Sarimin…
POLISI:
Hai, ngapain kamu di sini?!
SUARA SARIMIN: 4
(Sambil menyodorkan amplop) Aa…nu, Pak.. Mau ngasih ini, Pak Pulisi…
Polisi itu memandang heran pada amplop di tangan Sarimin.
POLISI:
Apa itu? Ooo, kamu mau nyuap saya? Iya?! Oooo, hapa kamu pikir semua Polisi bisa disuap, begitu? (Penuh gaya) Huah ha haha… Maaf ya, Polisi seperti saya pantang menerima suap…. Tidak mungkin. Tidak mungkin… Polisi tidak mungkin mau menerima suap…
Mendadak dengan clingukan Polisi itu tengok kanan kiri melihat-lihat keadaan…
POLISI:
Tapi ya kalau nggak ada yang liat sih ya nggak papa… Berapa tuh isinya?
SUARA SARIMIN:
Ini bukan uang kok , Pak Pulisi… Isinya cuman KTP… Saya mau titip…
POLISI:
(Jengkel) Cuman KTP kok ya dikasihkan saya! Apa kamu nggak ngeliat saya banyak kerjaan… Kok malah ngrepotin mau titip KTP segala!
Dengan ngedumel jengkel Polisi itu akhirnya menerima amplop yang disodorkan Sarimin. Dengan tak terlalu suka Polisi itu memeriksa isi amplop itu. Benar. Isinya KTP. Mula-mula Polisi itu tak terlalu serius membaca KTP itu. Tetapi kemudian tampak tiba-tiba ekspresi Polisi itu langsung kaget. Ia membaca nama di KTP itu dengan teliti.
POLISI:
Astaga! Ini kan KTP Bapak Hakim Agung! Harataya…. Mbelgedes! Kok bisa KTP Bapak Hakim Agung sama kamu? Pasti kamu curi, ya?!
SUARA SARIMIN:
Ti…tidak, Pak Pulisi! Saya nemu di jalan…
POLISI:
Nemu di jalan mana?
SUARA SARIMIN:
Di jalan Taman Lawang, Pak Pulisi…
POLISI:
Edan! Oooo… Ini keterlaluan! Masa KTP Hakim Agung bisa jatuh di Taman Lawang… Tidak mungkin, tidak mungkin! Emangnya Hakim Agung suka keluyuran ke sana! Oooo, apa kamu kira Hakim Agung itu jenis mahasiswa yang nggak bisa bayar…, lalu ninggal KTP! Ooo jelas kamu mau mencemarkan nama baik Hakim Agung!
Ooo ini bener-bener keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan! Ayo ikut saya ke kantor!
Musik menghentak, black out. Tembang kecemasan terdengar. Kemudian ketika lampu menerangi panggung, tampak Polisi yang sudah berdiri di dekat meja interogasi, memandang Sarimin yang duduk di kursi, hingga Polisi dan Sarimin berhadap-hadapan.
POLISI:
Nggak usah gemeter begitu! Jawab yang jujur! Nggak usah berbelit-belit! Ngerti?!
Polisi itu (seakan-akan) memasang berkas kertas ke mesin tik di atas meja…
POLISI:
Nama?
SUARA SARIMIN:
Ee… saya biasa dipanggil Sarimin, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Sa-ri-min… (Lalu kembali menatap tajam Sarimin) Umur?!
SUARA SARIMIN:
Lima puluh empat, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Li-ma-pu-luh-em-pat… Hmmm… Pekerjaan?!
SUARA SARIMIN:
Tukang topeng monyet keliling, Pak Pulisi…
POLISI:
(Sambil mengetik) Tu-ka-ng… to-pe-ng… mo-nyet… ke-li-li-ng… Sekarang coba kamu jelaskan, bagaimana kamu mencuri KTP ini…
SUARA SARIMIN:
Saya tidak mencuri, Pak Pulisi… Saya nemu KTP itu di jalan…
POLISI:
Saya tanya bagaimana kamu mencuri KTP ini, bukan bagimana kamu nemu KTP ini!
SUARA SARIMIN:
Lho tapi saya memang nemu KTP itu kok… Sumpah! Saya tidak mencuri!
POLISI:
Tidak usah pakai sumpah-sumpahan segala! Saya tahu kok modus operandi orang macam kamu! Pura-pura nemu KTP. Padahal dompetnya kamu copet! Iya tidak?! Pura-pura berbaik hati hendak mengembalikan KTP, padahal minta uang. Mau memeras! Kamu bisa kena pasal…. Sebentar… (mengambil buku KUHP dari sakunya) Hmmm… halaman berapa, ya… Oh ini… Kamu bisa kena pasal 362 dan 368! Pencurian dan pemerasan! Itu berate kamu bisa kena sepuluh tahun! Ngerti!
Sarimin tampak mengangguk-angguk…
POLISI:
Ngerti tidak! Jangan cuman manggut-manggut begitu! Nah, sekali lagi saya tanya baik-baik: kamu nyuri KTP ini kan?
SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… saya nemu di jalan…
Polisi itu mengambil pentungan, memain-mainkannya, memprovosasi Sarimin, sambil terus mencecar,
POLISI:
Nyuri apa nemu?
SUARA SARIMIN:
(Melihat itu Sarimin agak jiper juga) Ne..nemu, Pak Pulisi…
Polisi makin mencecar Sarimin…
POLISI:
Nemu apa nyuri?
SUARA SARIMIN:
Ne…ne..mu…
POLISI:
(Membentak keras, sambil seakan mau menggebug Sarimin) Nemu apa nyuri?!
SUARA SARIMIN:
I..iya.. Pak, Polisi.. Mungkin ada orang lain yang nyuri… Tapi saya cuman nemu kok, Pak Pulisi…
POLISI:
Oooo begitu ya…. Jadi ternyata kamu tidak sendirian. Orang lain yang nyuri. Dan kamu yang pura-pura nemu. Hoo ho hooo…, lumayan cerdik juga kamu, ya! Ho ho ho…kamu ketahuan, nyolong KTP!
Berarti kamu sudah merencanakan semua ini dengan komplotanmu, kan?! Ini kejahatan berkelompok dan terencana. Kamu dan komplotanmu hendak memeras Bapak Hakim Agung, begitu kan? Ooo… Ini namanya kejahatan berkelompok dan terencana!
SUARA SARIMIN:
Sumpah, Pak Pulisi… Saya tidak tahu kalau itu KTP Bapak Hakim Agung…
POLISI:
Mau mungkir, ya! Kamu kan bisa membaca nama di KTP ini…
SUARA SARIMIN:
Sa..ya ti..tidak bisa membaca, Pak Pulisi…
POLISI:
Astaga! OO ho hoho… Kamu bener-bener keterlaluan. Itu namanya menghina pemerintah! Kamu menghina pemerintah! Kamu mau menjelek-jelekkan pemerintah!
Sudah sejak tahun 74 pemerintah memberantas buta huruf! Sudah jelas-jelas pemerintah mengatakan kalau sekarang ini sudah bebas buta huruf! Lho kok kamu berani-beraninya ngaku buta huruf?! Apa kamu mau membuat malu pemerintah?! Mau mengatakan kalau pemerintah bohong, karena masih ada orang yang buta huruf macam kamu! Ooo… kamu bisa kena pasal… (memebuka-buka lagi buku KUHP-nya) Pasal berapa, ya… Kamu maunya kena pasal berapa?! Ooo… ini.., pasal137… Penghinaan pada pemerintah!
SUARA SARIMIN:
Lho, tapi saya memang ndak bisa baca kok, Pak Pulisi…
POLISI:
Sudah, nggak usah berbohong! Saya sudah terlalu sering ngadepin bandit kecil tapi licik macam kamu! Pura-pura kelihatan lugu. Pura-pura bodoh. Pura-pura tidak bisa membaca. Tampangnya sengaja disedih-sedihkan, biar saya kasihan. Biar saya iba, lalu saya bebaskan… (Kepada para pemusik, yang seakan-akan kini adalah juga polisi) Ooo dia kira Polisi macam kita bisa dikibulin… Tukang kibul kok mau dikibulin!
Orang lugu macam kami inilah penjahat yang berbahaya! Karena selalu memakai keluguan sebagai kedok kejahatan…
Kejahatan tetap saja kejahatan. Tidak perduli kamu bisa baca atau tidak.
Polisi itu memperhatikan KTP itu pada Sarimin…
POLISI:
Lihat KTP ini sampai lecek begini, pasti sudah kamu simpan lama ya! Kamu pasti sengaja tidak cepat-cepat mengembalikan! Pasti KTP ini kamu pamerin ke temen-temen copetmu kamu! Pasti statusmu jadi naik di kalangan pencopet karena berhasil mencopet KTP Hakim Agung! Setidaknya kamu ingin dianggap hebat karenasarimin-diinterogasi2.jpg punya KTP Hakim Agung! Biar kamu disangka saudaranya Hakim Agung… Iya, kan?!
SUARA SARIMIN:
Tidak, Pak Pulisi… Sumpah… Wong begitu saya nemu KTP itu, saya langsung lapor ke sini kok… Tapi saya malah disuruh nunggu terus…
Mendengar jawaban itu Polisi langsung marah, dan mau memukul…
POLISI:
Kurang ajar! Apa kamu pingin saya gebugin kayak praja IPDN!…
Para Pemusik mencoba menengangan: “Sabar….sabar….”
POLISI:
Hati-hati kalau bicara! Kamu bisa kena pasal penghinaan pada aparat! Menuduh Polisi tidak cepat tanggap!
Kalau kamu memang bener-bener datang melaporkan soal KTP ini, pasti petugas jaga akan langsung menanggapi. Ooo ho ho… tidak mungkin, tidak mungkin polisi menyepelakan rakyat… Karna Polisi itu sahabat masyarakat!
Polisi itu di mana-mana selalu melindungi rakyat! Yah paling-paling ya ada polisi yang kesasar salah nembak rakyat… Tapi itu kan ya hanya insiden… Insiden yang kadang direncanakan….
Polisi kemudian mengambil berkas kertas di meja mesin tik, sambil menatap tajam pada Sarimin yang terdiam…
POLISI:
Sebagai Polisi, sudah barang tentu, saya pun harus melindungi kamu… Ngerti tidak? Makanya, kamu juga mesti pengertian… Ini, lihat (menyodorkan berkas kerast itu ke hadapan wajah Sarimin)…
Kesalahanmu sudah bertumpuk-tumpuk… Kalau berkas ini saya bawa ke pengadilan, kamu bisa dihukum lebih dari 20 tahun penjara… Bahkan mungkin lebih. Karna kamu mesti berhadapan dengan jaksa dan hakim, yang pasti tidak ssuka dengan kamu!
Asal kamu tahu saja, ya! Jaksa-jaksa itu selalu minta bayaran lebih banyak. Juga hakim-hakim. Sulit sekarang menemukan hakim yang baik. Kalau kamu nggak ada duit, pasti dengan enteng hakim itu kan menjebloskanmu ke penjara!
Kamu nggak ingin masuk penjara, kan? Makanya, kamu nurut sama saya saja. Nanti laporannya saya bikin yang baik-baik. Faham maksud saya?!
Tapi ya kamu tahu sendiri, itu perlu biaya. Ooo ho ho ho…. ini bukannya saya mau minta duit lho ya… Tidak! Saya tidak minta! Saya cuman menyarankan….
Para pemusik ikutan membujuk: “Iya, Min… Sudahlah, Min… Selesaikan saja secata adat ketimuran, Min…”
POLISI:
Tapi ya terserah kamu. Sebagai Polisi yang mengerti perasaat rakyat, ya saya hanya bisa membantu semampu saya. Saya ngerti, kamu tidak terlalu punya duit. Makanya cukup 5 juta saja.. Kalau kamu setuju, bekas ini langsung saya kip, dan kamu boleh pulang…
SUARA SARIMIN:
(Terpana tak percaya) Lima juta?… Saya ya tidak punya uang segitu, Pak Pulisi…
Tampak Polisi itu mencoba sabar dan pengertian,
POLISI:
Ya sudah… Karena kamu punya itikad baik, ya bisa dikurangilah. Tiga juta, gimana?
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu saya juga ndak punya…
POLISI:
Ooo ho ho ho… Ya, ya sudah…, jangan sedih begitu. Saya kan hanya menawarkan. Kalau kamu masih keberatan ya bisa disesuaikan semampu kamulah… Ngerti kamu?
SUARA SARIMIN:
I..i..iya, Pak Pulisi…
POLISI:
Nah, gimana kalau dua juta!
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…
POLISI:
Kalau satu juta ..
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…
POLISI:
Saya diskon lagi, deh Mumpung masih suasana Lebaran, jadi bisa diobral… Gimana kalau lima ratus ribu…
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Saya bener-bener ndak punya…
POLISI:
Seratus ribu deh…Ya, ya, seratus ribu! Hitung-hitung buat uang rokok. Oke?
SUARA SARIMIN:
Maaf, Pak Pulisi… Segitu juga saya ndak punya…
Kesabaran Polisi itu rupanya sudah sampai pada batasnya, dan ia langsung meledak marah,
POLISI:
Brengsek! Kamu bener-bener melecehkan saya! Dimana saya taruh harga diri saya alau segitu saja masih kamu tolak!
Memang susah kalau urusan sama orang miskin! Cuman dapat kesel Kalau kamu lebih suka ke pengadilan, silakan! Kamu bisa membusuk di penjara 50 tahun!
SUARA SARIMIN:
(Takjub dan heran tetapi juga tak berdaya) Cuman karna nemu KTP saya dihukum 50 tahun?
Polisi itu berdiri, dingin, tegas dan formal:
POLISI:
Hukum tetap hukum, Saudara Sarimin! Atas nama hukum dan undang-undang, Saudara Sarimin ditahan!
Musik menghentak. Dan lampu langsung menggelap seketika…
4.
Mengalun tembang sedih yang menyayat hati…
Lalu di layar bagian belakang perlahan muncul bayangan jeruji sel penjara. Lalu tampak bayangan Sarimin di balik jeruji sel penjara itu. Sarimin tampak termenung, tak berdaya. Tembang kesedihan terus menyayat kesunyian…
SUARA SARIMIN:
Apa salah saya, Gusti?… Apa salah saya…
Lalu mendadak muncul bayangan monyet Sarimin. Seperti muncul dari dalam mimpi Sarimin, seakan-akan itu ada dalam pikiran Sarimin. Terdengar suara monyet yang memekik-mekik…
SARIMIN:
Min? Sarimin… Itu kamu ya, Min? Lapar, Min?… Prihatin dulu, ya, Min…Banyak berdoa ya, Min… Biar saya cepet bebas. Doa monyet miskin dan teraniaya macam kamu kan biasanya didengar Tuhan, Min…
Bayangan monyet itu terus menjerit-jerit. Dalam bayangan itu pula, sesekali Sarimin mencoba mengusap dan menyentuh monyetnya…
Lagu kesedihan, yang juga terkesan agung menggaung, menjadi latar belakang adegan itu…5
Pak Hakim dan Pak Jaksa
Kapan saya akan di sidang
Sudah tiga bulan lamanya
Belum juga ada panggilan
Saya ingin cepat pulang…
5.
Lalu di penghujung lagu itu, musik berubah menghentak, bergaya hip-hop. Pada saat musik hip hop ini berlangsung, setting pun perlahan-lahan berubah. Bayangan Sarimin di balik jeruji penjara lenyap. Sementara di bagian lain panggung, segera tampak ruang tempat Pengacara.
Muncul Pengacara, tampak riang, dengan gaya genit cosmopolitan yang penuh gaya. Pengacara itu langsung menyuruh musik berhenti:
jadi-bensar-1.jpg
PENGACARA:
Hai, stop! Stop! Bah, kalian ini bener-benar tidak punya rasa keadilan! Ada orang dihukum malah hip-hop hip-hopan begitu! Cem mana pula kalian ini! Tunjukanlah simpati dikit!
Sembari bicara, pengacara itu merapikan diri, mengatur penampilannya. Memakai kalung emas dengan bandul initial namanya yang besar. Merapikan pakaiannya, merapikan gaya rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya… Sehingga tampak kalau ia lebih sibuk dengan dirinya ketimbang dengan apa yang dikatakannya…
PENGACARA:
Kalian itu mestinya prihatin, kenapa di negara hukum begini kok ada orang diperlakuan tidak adil! Ah, emang benar-benar sewenang-wenang Pak Polisi itu. Sebagai pengacara yang punya hati nurani, sudah tentulah aku tak bisa berdiam diri!
Pengacara terus sibuk merapikan diri, sampai kemudian ia seperti tersadar, dan segera bicara kepada penonton:
PENGACARA:
Sebentar…Kalian pasti merasa heran, kenapa pengacara kondang…, pengacara infotaimen macam aku ini, tiba-tiba nongol di lakon beginian.
Seharusnya tadi, Si Tukang Cerita itu, yang memperkenalkan aku lebih dulu. Menjelaskan, apa peran aku dalam lakon ini. Begitulah semestinya…
Tapi kupikir-pikir, kalau si Tukang Cerita itu yang memperkenalkan, nanti diledek-ledeknya pulalah aku ini. Mangkanya, kupikir-pikir lebih baik aku muncul saja langsung. Biar aku sendiri yang memperkenalkan diri.
Dengan penuh gaya menyemprotkan parfum ke lehernya…
PENGACARA:
Nama saya Bensar… Aku yakin kalian sudah tahu, dari mana aku ini. Tapi tak usahlah aku kasih tahu marga aku… Nanti aku kena somasi…
Aku di sini terpanggil karena ingin membela Sarimin. Kasihan kali orang itu. Kemarin aku sudah ketemu dia. Aku langsung jatuh iba. Tergerak hati nuraniku untuk membelanya habis-habisan.
Begitu Abang Bensar datang, Sarimin langsung tenang. Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkannya.
Aku bilang pada Sarimin, ”Sarimin, seharusnya kau ini malah merasa beruntung bisa masuk penjara. Susah lho ini masuk penjara… Coba itu kau lihat, banyak kali koruptor yang bermimpi bisa masuk penjara, tapi tak bisa-bisa masuk… makanya kubilang, kau ini benar-benar beruntung. Tidak berbuat salah, tapi masuk penjara. Itu prestasi luar biasa… Makanya Sarimin, tak usahlah kau takut! Ketaktan itu cumian soal pikiran. Kalau pikiranmu takut, maka takutlah kau. Makanya jangan kau berpikir hukum itu menakutkan. Hukum itu menyenangkan. Happy!
Kemudian Pengacara Bensar langsung merapikan bawaannya: tas golf beserta isinya. Ia Tampak riang bernyanyi-nyanyi gaya hip hop:
Happy happy
Hukum itu happy
Hukum itu menyenangkan
Hukum menguntungkan
Karna dengan hukum
Semua kesalahan
Bisa dinegosiasikan…
Hapy happy…
Hukum itu happy…
Sambil terus bernyanyi pengacara itu bergerak sambil mengubah setting panggung. Tampak kemudian sel penjara, di mana seakan-akan Pengacara itu berjalan dari rumah menuju ke sel penjara, tempat Sarimin di tahan. Dan Pengacara itu pun sampai di dekat sel Sarimin…
PENGACARA:
(Masih terus menyanyi) Happy happy…. Semua bisa Happy…
Sampai kemudian nyanyian berhenti. Dengan gayanya yang khas, Pengacara Bensar kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya…
PENGACARA:
Bagimana Sarimin, apakah kamu merasa happy hari ini? Tenanglah, ini Abang Bensar sudah datang. Abang akan negosiasikan semua perkara kau.
Mengerti kau negosiasi?! Ah, sudahlah, tak usah kau berpikir yang berat-berat. Biar aku yang pikir saja gimana baiknya. Percayalah sama Abang…
Apa sih perkara yang tidak bisa abang selesaikan? Artis yang mau cerai…, begitu Abang tangani, dijamin langsung cerai. Terdakwa ilegal logging…, begitu Abang tangani, dijamin bisa langsung bebas kabur ke luar negeri…
Makanya, kau tenang saja di situ… Biar aku urus sebentar sama Pak Polisi. Biar lancar semuanya…
Lalu Pengacara berjalan ke arah belakang, seakan mendekati Polisi yang ada di pengacara-dan-wayang-polisi2.jpgbelakang. Dan Pengacara bensar pun berbicara dengan Polisi, yang tampak bayangannya, berupa wayang…
PENGACARA:
Ah, Apa kabar, Pak… Wah, tambah ganteng saja nih… Mungkin Bapak bisa tolong belikan makan atau minum buat klien saya… Nanti kembaliannya buat Bapak….
(SUARA ) WAYANG POLISI:
Maaf, dilarang membawa makanan dalam penjara!
PENGACARA:
Ah, aneh kali ini Pak Polisi… Kenapa makanan dak boleh masuk penjara? Narkoba saja bisa dibawa masuk ke penjara. Kimbek kali! Ingatlah Pak Polisi…, klien aku itu masih berstatus tersangka. Masih tahanan sementara. Jadi mesti kau hargai hak-hak pidananya.
(SUARA ) WAYANG POLISI:
Semua ada tata tertibnya. Ada peraturannya. Ada etikanya! Sebagai Pengacara, Saudara mestinya tahu itu!
PENGACARA:
Betul-betul aneh ini Polisi! Baru kali ini ada polisi mengajak bertengkar pengacara. Biasanya polisi macam kalian itu kan bertengkarnya sama tentara…
Tampak Pengacara Bensar kesal, dan segera meninggalkan Polisi itu. Ia segera kembali ke dekat sel penjara Sarimin.
PENGACARA:
(Kepada Sarimin) Biarlan nanti aku atur sama komandannya. Polisi emang suka berlagak begitu. Suka akting. Lagaknya kayak Politron… Polisi Sinetron…
Sekarang kau dengar… Biar semua gampang dan cepet beres, aku sarankan agar kau akui saja semuanya. Ini akan jadi kredit point yang bagus, karna kamu akomodatif. Artinya kamu dianggap bersikap baik Kalau kau bersikap baik, pasti nanti hakim akan member kau keringanan hukuman. Jadi, yang penting sekarang ini kau harus mengaku salah…
SUARA SARIMIN:
Mengaku salah bagaimana? Memangnya saya salah apa?
PENGACARA:
Aduuh! Kan tadi aku sudah bilang, tak perlulah kau membantah. Apa kau pikir kalau kau melawan kau akan menang. Jangankan orang kecil macam kau, majalah Time yang besar saja bisa divonis kalah kok! Makanya aku bilang, peluang terbaikmu adalah mengaku salah!
SUARA SARIMIN:
Iya… tapi salah saya apa?
PENGACARA:
Salah kau ya karna kau tidak mengerti kau berbuat salah! Bodoh betul kau ini ya… Kau pikir kau berbuat benar. Padahal kau berbuat salah. Kebenaran itu kadang menyesatkan, Sarimin. Kau bukannya benar, tetapi hanya merasa benar. Orang yang merasa benar itu belum tentu benar. Makanya ketika kau merasa benar, kau justru bisa bersalah. Karna benar, maka kamu salah!
Kau harus fahami betul itu. Makanya aku membantu kau, agar kau tidak tersesat di jalan yang kamu anggap benar itu! Kau mestinya beruntung aku mau jadi pembela kau.
Mendadak terdengar suara bunyi handphone, dengan nada dering yang norak… Pengecara Bensar dengan penuh gaya langsung mengambil handphone dari sakunya,
PENGACARA:
(Bicara di handphone-nya) Hallo sayang…Abang lagi sibuk nih. Lagi ketemu klien.. Sudahlah, kamu chek in dulu lah. Nanti Abang susul, ya…
Lalu mematikan handphone-nya, dan masih dengan penuh gaya bicara kembali pada Sarimin di balik selnya…
PENGACARA:
Maaf, bukannya gaya… Tapi ada klien lain yang mesti aku urus. Yah, maklumlah pengacara laris. Sudah pastilah orang miskin macam kau tak mampu membayar aku. Makanya kau mesti bersyukur, aku mau membela kau!
Aku tahu, banyak suara-suara miring di luar sana. Menganggap akupengacara mata duitan. Malah oleh kolega-koleganya saya sering distilahkan dengan pengacara begundal. Taik kucinglah semua! Pukima!
Sekarang aku mau buktikan, kalau aku juga punya perasaan keadilan. Aku juga mau membela orang lemah macam kau, Sarimin! Aku akan berjuang habis-habisan buat kau! Kalau perlu, nanti akan aku bentuk TPS… Tim Pembela Sarimin!
Memperlihatkan koran pada Sarimin…
PENGACARA:
Kau lihat ini… Kamu jadi berita di koran-koran., karna kau dianggap korban ketidakadilan..
Terlihat koran dengan berita Sarimin yang jadi headline itu kepada para pemusik. Pada saat bersamaan para pemusik segera bernyanyi, menghentak, dengan gaya hip hop yang rampak:
Sarimin jadi berita
Di koran-koran mendadak ia
Jadi ternama
Simbol korban ketidakadilan
Seolah-olah hukum adalah
Alat menindas orang yang lemah…
Seolah-olah tak ada lagi
keadilan di negri ini
Brengsek! Brengsek!
Hukum kita brengsek
Brengsek! Brengsek!
Semua orang bilang
Hukum kita brengsek!
Nyanyian berhenti. Pengacara itu kaget.
PENGACARA:
Apa kau bilang? Hukum kita kita brengsek?? Tidak betul itu! Hukum di negeri ini tidak brengsek… tapi luar biasa brengsek!
Kembali mendekati dan bicara pada Sarimin…
PENGACARA:
Tapi kita tak bolehlah putus asa… Aku yakin aku masih bisa membantumu, Sarimin. Aku jamin, kamu akan mendapat bagian keadilan. Memang kau tak akan menang. Tapi kau akan bangga, karena namamu akan dikenang. Kau akan jadi simbol dari perjuangan menegakkan keadilan. Ini peluang bagus buat kamu, Min… Artinya kalau kau nanti mati, kau tidak akan mati sia-sia!
SUARA SARIMIN:
Saya sudah tua… mati juga tidak apa-apa…
PENGACARA:
Eee, janganlah kau mati begitu saja. Nanti sia-sia aku membela kau!
Dengar ya, Min… Syarat untuk jadi simbol perjuangan, kau harus mati secara dramatis. Pejuang terkadang dikenang bukan karna apa yang telah dilakukannya, tetapi pada bagaimana cara matinya. Semangkin dramatis kematiannya, semangkin hebatlah dia…
Nah, makanya, nati biar aku aturlah sama Polisi itu, bagaimana baiknya cara kau mati. Aku sih kau mati dengan cara yang heroik. Mungkin diracun arsenik. Tapi aku kira itu bukan cara mati yang kreatif. Mesti lebih dramtis dikitlah. Mungkin kau disiksa lebih dulu. Di cabut sati persatu jari kau, lalu dicongkel mata kau… wah, itu kematian yang dramatis, Min! Gimana? Kamu mau kan?
Kalau kau mati dengan cara seperti itu, maka kematian kau itu akan dikenang sebagai korban kekejaman hukum. Namamu akan dijadikan monumen abadi… Itu berarti kau untung, dan aku pun untung. Itu primsip keadilan dalam hukum, Min! Kau untung jadi simbol ketidakadilan, aku pun untung karena jadi pembela korban ketidakadilan…
Pengacara itu nampak begitiu bahagia, memeluk tas golf-nya, mengambil kaca rias dan mengamati wajahnya, merapikan sisiran rambutnya, bahkan ia memupur pipinya dan mengoleskan lips gloss pada bibirnya, sambil terus berbicara…
PENGACARA:
Bayangkan, Min… Aku akan bisa mensejajarkan namaku di barisan para pejuang hukum. Pejuang keadilan! Ini peluang baik buat karier kepengacaraanku. Siapa tahu nanti aku bisa dapat Yap Tiap Him Award…
Makanya, Min, kau harus mengaku salah! Itu namanya kamu dapat karunia kesalahan! Kamu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi orang yang salah…
SUARA SARIMIN:
(Begitu memelas) Saya ndak ngerti… Omongan sampeyan malah bikin saya bingung…
PENGACARA:
Jangankan kamu, saya sendiri kadang bingung dengan omongan saya kok… Maklumlah, Min, omongan pengacara…
SUARA SARIMIN:
Saya berbuat baik, kok malah disuruh ngaku salah… Menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk, berbuat baik itu ndak salah kok…
PENGACARA:
Eee, jangan ngacau kau. Bertahun-tahun aku belajar hukum, tidak ada itu…apa kau bilang tadi? Apa? Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk… Ahh, tidak ada itu kitab hukum macam itu! Ngaco kali kau!
Sudahlah! Kau ngaku salah apa susahnya sih! Bagaimana mungkin aku bisa membela kau kalau kau tidak bersalah.
Lagi pula Pak Polisi itu sudah bilang kau bersalah. Bagaimana mungkin kau masih saja merasa tidak bersalah, kalau Polisi sudang bilang kau bersalah.
SUARA SARIMIN:
Jadi saya harus ngaku salah?
Mendadak terdengar suara bentakan Polisi, bersama menculnya bayangan wayang Polisi…
SUARA POLISI:
Sudah ngaku saja salah. Sudah dibela masih saja ngeyel tak bersalah! PENGACARA:
Tuh, dengar apa kata Pak Polisi… Aku mau membela kau kalau kau mau ngaku bersalah, Min! Pengacara macam aku ini sudah terbiasa membela orang yang salah, nanti aku malah bingung kalau membela orang tidak bersalah. Makanya, kamu mengaku salah saja ya, Min…
Terdengar suara wayang Polisi, membentak Sarimin,
SUARA POLISI:
Kalau kamu ngaku salah, nanti saya atur sama Mas Pengacara…
PENGACARA:
Orang salah ngaku salah itu sudah biasa. orang yang bener tapi mau ngaku salah, itu baru mulia! Makanya kalau kau ngaku salah, kau akan jadi orang mulia!
Kembali suara wayang Polisi, membentak Sarimin,
SUARA POLISI:
Kamu tak punya pilihan, Sarimin! Kamu tidak bisa melawan hukum! Hukum telah menganggapmu bersalah!.. Bersalah!… Bersalah! Bersalah!…
Suara Polisi yang meninggi itu kemudian menjadi gema: “Bersalah! Bersalah! Bersalah!” Makin lama gema suara itu makin membahana, seperti mengepung dan mengurung Sarimin…
Bersamaan dengan itu, lampu perlahan-lahan meredup, menggelap. Hingga yang terdengar hanya gema suara Polisi dan Pengacara yang saling bersahut-sahutan, berulang-ulang, saling tumpuk, dan terus mengepung menggema:
GEMA SUARA PENGACARA:
Kau mesti beruntung karena menjadi orang yang terhukum, Sarimin!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!
GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!
Bersamaan dengan gema suara-suara itu, di bagian belakang layar muncul bayangan-bayangan yang berlesetan. Bayang-bayang wayang Polisi dan Pengacara, bayang-bayang yang bertumpuk-tumpuk, berkelebatan, kadang bayang-bayang itu membesar dan seakan siap menerkam, bersamaan dengan gema suara yang tumpang tindih dan berulang-ulang:
GEMA SUARA PENGACARA:
Kau harus merasa beruntung karena kau menjadi orang yang terhukum!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!
GEMA SUARA PENGACARA:
Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!
GEMA SUARA POLISI:
Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!
Di antara gema suara yang terus bersahut-sahutan itu terdengar rintihan Sarimin…
SARIMIN:
Ampun… Ampun…
Lalu suara-suara yang bergema itu perlahan menghilang. Ada kesunyian yang membentang. Lalu cahaya yang pucat dan layu bagai membelah kepedihan. Cahya itu menyorot ke Sarimin, yang tampak tak berdaya di balik jeruji sel penjara. Kesunyian yang menekan tampak bagai jaring yang meringkus Sarimin.
Pada layar di bagian belakang, muncul bayangan yang samar, simbolis, semacam Dewi Keadilan, sosok yang menggambarkan kehadiran Hakim Agung…
SARIMIN:
Maafkan saya, Bapak Hakim Agung…
Terdengar sosok Hakim Agung di bayangan layar itu berbicara pada Sarimin. Suara dingin dan datar:
SUARA HAKIM AGUNG:
Kalau saja saya bisa memaafkanmu, Sarimin…
SARIMIN:
Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Tapi hukum tidak bisa ditegakkan dengan maaf, Sarimin..
SARIMIN:
(Menghiba) Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Kamu jangan salah faham, Sarimin… Bukan saya yang menghukum kamu. Hukumlah yang menghukummu…
SARIMIN:
(Makin menghiba) Ampuni saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Hukum punya jalan keadilan sendiri, Sarimin.
Makin lama Sarimin makin menghiba dan mulai merangkak-rangkak, bersujud di bawak sel penjara…
SARIMIN:
(Makin menghiba tak berdaya) Ampuni saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Tak ada gunanya kamu merasa benar kalau hukum mengganggpmu tidak benar…
SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Biarlah hukum yang menentukan, Min… Bukan saya…
Di bagian layar itu pula, muncul bayangan monyet, yang menjerit-jerit, muncul di sela-sela gema suara Hakim Agung
SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan kamu… Hanya hukum yang benar…
Kembali terdengar suara monyet memekik-mekik…
SUARA HAKIM AGUNG:
Bukan saya… Bukan kamu…
Sementara Sarimin terus menghiba memohon ampunan…
SARIMIN:
Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…
SUARA HAKIM AGUNG:
Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum… (Terdengar suara monyet)…
Suara Hakim Agung terus terdengar bertumpang tindih dengan suara pekikan monyet, sementara Sarimin terus merangkak-angkak, bersujud…
Sampai kemudian Sariin merasa aneh dengan gema suara Hakim Agung dan suara monyet yang bagai mengepung menerornya itu. Sarimin jadi termangu, memandang bingung ke luar penjara saat gema semua suara itu melenyap. Segalanya bagai di ruang hampa…
SARIMIN:
Aneh… Tadi itu suara Hakim Agung atau suara monyet ya?!
Gelap menyergap seketika.
Langganan:
Komentar (Atom)
Expeditionary Learning, Upaya Mengurai Kejenuhan Digital di Sekolah Dasar
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan keterampilan individu. Seiring dengan perkembangan zama...
-
oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Pendidikan merupakan proses sistematis yang dirancang untuk mentransfer pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai,...
-
CINDY TACHIBANA, Dibalik kesuksesan Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menduduki kursi Jateng satu beberapa waktu lalu, rupanya tak lepas dari...
-
Oleh: Duwi Royanto, M.Pd. Teknologi telah mengubah lanskap pendidikan secara signifikan, terutama dalam konteks pengajaran dan pembelajaran...













